MENGELOLA LITERATUR DALAM MASJID
DENGAN MENELAAH FUNGSI MASJID DALAM LITERATUR 


“Ada masjid dalam literatur dan ada literatur dalam masjid”. Ucap Dirjen Bimas Islam, Nasaruddin Umar mengawali paparannya pada Workshop ”Peningkatan Kualitas Pengelola Literatur Masjid” di Yogyakarta, 21-24 Juli 2009. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama ini, ia juga mengatakan ”dulu ada universitas di dalam masjid sekarang ada masjid di dalam universitas”. Dua analogi ini ia kemukakan di hadapan 70 pengelola perpustakaan dari seluruh Indonesia dan sekaligus mengajak peserta workshop untuk melakukan retropeksi dengan menelaah fungsi masjid dalam berbagai literatur.

Menurutnya, pada zaman Rasulullah SAW masjid memiliki multifungsi, antara lain sebagai madrasah, tempat pertunjukan seni, rumah sakit, pengadilan, tahanan, dan pusat informasi. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, masjid berfungsi untuk mengontrol kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut dilakukan dengan pendirian menara sehingga dari bangunan yang tinggi ini dapur-dapur rumah yang tidak pernah mengeluarkan asap dapat terlihat. Karena itu, tingginya menara itu bukan dimaksudkan untuk gagah-gagahan tetapi salah satu langkah untuk memberdayakan ekonomi umat berbasis masjid. Namun, ia menegaskan bahwa fungsi paling vital dari masjid adalah sebagai madrasah. Masjid yang berfungsi madrasah ini sebagaimana masjid al-Azhar Mesir yang di dalamnya terdapat universitas sebagai sarana pembelajaran bagi umat.

Dirjen Bimas Islam selanjutnya menyoroti sekaligus mengungkapkan keprihatinannya terhadap pengelolaan literatur dalam masjid di era kontemporer khususnya di Indonesia. Menurutnya, agar masyarakat mau berkunjung ke perpustakaan masjid, maka terlebih dahulu mereka diupayakan tertarik untuk datang ke masjid. Agar masjid menarik perhatian masyarakat, maka manajemennya harus ditingkatkan. Ia menambahkan, salah satu hal yang dapat menunjang manajemen masjid adalah adanya badan usaha yang dimiliki masjid secara mandiri, seperti mini market. Dengan dana yang dimiliki secara mandiri, masjid dapat memiliki imam, khatib, muazin dan sebagainya yang berkualitas yang akan menjadi daya tarik bagi masyarakat. Mengakhiri paparannya, Dirjen Bimas Islam pun berharap agar workshop ini menghasilkan ”literatur” yang berisi rekomendasi tentang upaya peningkatan kualitas pengelola literatur masjid.

Sebelumnya, Sri Sumekar dari Perpustakaan Nasional menjelaskan bahwa berdasarkan data dari Lembaga Ta’mir Masjid Indonesia (2008), jumlah masjid di Indonesia berjumlah 700.000  yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.  Dari  jumlah tersebut, berdasarkan Data Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) tahun 2008  yang tercatat di Perpustakaan Nasional, baru sekitar 5 % atau sekitar 35.000  yang memiliki perpustakaan, dengan jumlah terbesar di Pulau Jawa dan Sumatera. Sebagai perbandingan dengan keberadaan perpustakaan masjid di era klasik, Sri Sumekar juga memaparkan kemajuan perpustakaan para khalifah dinasti Fatimiyah di Kairo. Menurutnya, jumlah seluruh buku yang ada di situ mencapai 2.000.000 (dua juta) eksemplar. Perpustakaan ini berisi berbagai macam ilmu antara lain Al-Qur’an, astronomi, tata bahasa, leksikografi dan obat-obatan. Karena itu, ia menegaskan bahwa kejayaan perpustakaan Islam di masa lalu menjadi ”tantangan” sekaligus motivasi bagi tenaga pengelola perpustakaan masjid agar dapat mewujudkan perpustakaan, paling tidak sama dengan perpusustakaan Islam masa lalu. 

Permasalahan dalam pengelolaan literatur masjid di era kontemporer juga dungkap oleh M. Solihin Arianto dalam sesi sebelumnya. Menurut Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, dalam beberapa kasus masih ditemukan para pengurus masjid yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya peran perpustakaan masjid dalam mencerdaskan masyarakat. Akibatnya, sejumlah perpustakaan masjid tidak dikelola dengan baik yang memudahkan para pengguna untuk mengakses sumber-sumber informasi yang tersedia. Memperjelas paparan tersebut, menurut dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta M. Kailani Eryono, dalam pengelolaan perpustakaan ada tiga pihak yang sangat bertanggungjawab yaitu pengambil kebijakan, pengelola teknis dan masyarakat pengguna.  Mantan Kepala Puslitbang Lektur Keagamaan ini juga menyampaikan faktor-faktor yang menghambat pengelolaan literatur masjid tersebut yaitu kurangnya komitmen pengurus masjid, ketiadaan sumber dana, kurangnya koleksi, ketiadaan SDM, ketiadaan sarana, dan lemahnya budaya baca.

Terkait dengan pengembangkan perpustakaan masjid di era informatika, Irma I. Ibrahim mengatakan bahwa dalam pemanfaatan teknologi informasi dibutuhkan SDM yang sudah melek Teknologi Infomrasi. Menurutnya, pemanfaatan sarana internet akan sangat membantu dalam melakukan promosi perpustakaan. Di sisi lain, pengurus perpustakaan Masjid tidak akan terlalu terbebani dengan biaya untuk memanfaatkan perangkat TI karena dapat menggunakan software-software gratis untuk penghematan. Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta ini juga mengingatkan peserta agar dapat menggunakan komputer yang ada semaksimal mungkin untuk mendukung kegiatan perpustakaan, melakukan kegiatan pengadaan koleksi, pengolahan, sirkulasi, dan promosi sehingga komunitas Perpustakaan Masjid dapat terus berkembang sebagai tempat pendidikan bagi umat Islam.

Untuk menambah wawasan kepada peserta, dalam workshop ini dihadirkan pula pengelola perpustakaan Masjid Istiqlal Jakarta dan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Menurut Abdullah Suparta dari Perpustakaan Masjid Istiqlal Jakarta, pada akhir tahun 2007 koleksi Perpustakaan Masjid Istiqlal berjumlah 14.945 judul terdiri atas 60% bidang agama dan 40% bidang lainnya. Koleksi buku yang berbahasa Indonesia : 6.204 judul/14.403 eks, berbahasa Arab : 3.571 judul/ 5.709 eks, dan berbahasa Inggris : 2.600 judul/4.880 eks serta koleksi perpustakaan anak: 2.570 judul/4.150 eks. Selain itu juga terdapat koleksi terbitan berkala terdiri atas majalah, buletin dan surat kabar serta koleksi audio visual yang meliputi: DVD,VCD,CD dan kaset. Sedangkan menurut Mulyanto Supardi dari Masjid Gedhe Kauman, gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 telah memporakporandakan masjid ini sehingga koleksi buku yang tersedia tinggal 6000 buah. Karena itu, tim perpustakaan Masjid Gedhe Kauman kini sedang melaksanakan 5 program, yaitu: pendataan kembali buku dan dokumen, pemindahan buku dan perlengkapan lainnya, penerapan sistem Computerisasi dalam pengelolalaan perpus, pemutakhiran data dengan melakukan inventaisasi, dan pelatihan sistem pengelolaan bagi remaja masjid.

Setelah mendapatkan materi-materi tersebut, para peserta melakukan simulasi tentang pengelolaan perpustakaan masjid yang terbagi ke dalam enam kelompok. Selanjutnya, para peserta juga mendapatkan sesi yang berisi kunjungan ke Masjid Gedhe Kauman dan Masjid Asy-Syuhada di kota Yogyakarta. Pada sesi terakhir, para peserta merumuskan berbagai permasalahan dan juga menyusun rekomendasi untuk peningkatan kualitas pengelolaan literatur masjid. Rumusan dan rekomendasi ini dihimpun dari berbagai masukan baik dari paparan nara sumber maupun dari peserta dalam sesi tanya jawab. Salah satu rekomendasi tersebut yaitu perlunya sinkronisasi kegiatan-kegiatan yang terkait pengembangan masjid antara Ditjen Bimas Islam dengan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama. Selanjutnya, Workshop Peningkatan Kualitas Pengelola Literatur Masjid ini pun ditutup secara resmi oleh Kepala Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, Maidir Harun. (Nurman Kholis)