Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 7, No. 2, Desember 2009 Cetak E-mail

Pada edisi ini terdapat enam tulisan terkait kajian naskah, sejarah, dan arkeologi, satu tulisan tentang kajian buku teks Pendidikan Agama Islam di madrasah, dan dua telaah buku. Tulisan pertama dalam tema kajian naskah, sejarah, dan arkeologi disusun oleh Mu’jizah dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Ia mengulas tentang sejauh mana kajian filologi menyentuh kekayaan naskah Melayu. Kajian ini setidaknya telah dimulai pada abad ke-19 di Belanda. Berbagai kajian terhadap naskah-naskah Melayu terus dilakukan oleh lembaga akademis dan lembaga penelitian, walaupun pada tahun 2000-an mengalami kemandegan karena dukungan dana yang makin berkurang.

Zakiyah dari Balai Litbang Agama Semarang membahas tentang naskah Nabi Wafat dari Museum Negeri Nusa Tenggara Barat. Fokusnya pada aspek fisik naskah, nilai-nilai keagamaan, dan posisi naskah di antara naskah-naskah yang lain. Hasilnya, secara umum naskah dalam kondisi baik. Naskah berisi kisah tentang Nabi SAW menjelang wafat. Dalam teks tersebut terkandung nilai-nilai Islam. Diduga teks merujuk pada hadis Nabi karena ada kemiripan antara keduannya.

Tulisan berikutnya disusun oleh Samidi Khalim yang juga dari Balai Litbang Agama Semarang. Ia menyajikan hasil penelitian awal tentang ajaran tasawuf dalam naskah Wasiyah al-Mustafa li ‘Ali al-Murtada karya TGH. M. Saleh hambali (1896-1968) dari Kabupaten Lombok Barat. Penelitian menggunakan pendekatan sejarah dan hermeneutika. Naskah ini merupakan kitab tasawuf yang berisi tentang pesan-pesan Nabi SAW kepada Ali bin Abi Thalib. Pesan-pesan berupa aspek ruhaniyah dan fadhilah berbagai syariat Islam seperti wudhu, sholat, zikir, dan puasa.

Selanjutnya, Titin Nurhayati Ma’mun dari Universitas Padjadjaran mengkaji tentang kontribusi Islam dalam sastra Sunda dengan pendekatan Ilmu ‘Arud. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesusastraan klasik di Tatar Sunda tidak dapat dilepaskan dari adanya kekuatan sastra Islami yang berlangsung sejak lama di Jazirah Arab. Tulisan Idham dari Balai Litbang Agama Makasar membahas akulturasi budaya di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan dengan mengkaji arsitektur Masjid Tua Al-Hilal Katangka. Dari kajian ini ditemukan adanya campuran budaya Bugis, Makasar, Jawa, Sumatera, Cina, Eropa, Timur Tengah, Islam, dan Hindu yang tercermin dalam arsitektur masjid tersebut.

Fuad Jabali dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengetengahkan tulisan yang mengulas tentang sejarah Ternate. Dengan pendekatan sejarah sosial dan filologi, sejarah Ternate dipandang sebagai sejarah masyarakat Ternate. Masyarakat Ternate adalah masyarakat yang dinamis penghasil rempat-rempah dan sebagai tempat pertemuan para pedagang asing. Peran petani dan masyarakat lainnya membentuk identitas masyarakat Ternate yang terbuka dan dapat beradaptasi dengan pengaruh luar.

Tulisan selanjutnya adalah hasil penelitian yanng dilakukan oleh Munawiroh dari Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. Ia meneliti tentang Buku Teks Pendidikan Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah yang digunakan baik di sekolah negeri maupun swasta di Jakarta dan sekitarnya. Dari penelitian ini diketahui bahwa terdapat kesalahan atau ketidaktepatan dalam mengutip ayat Al-Qur’an dan hadis, terjemahan, kesesuaian ayat/hadis, dan transliterasi Arab-Latin.

Telaah buku mengkaji dua judul buku, yakni Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII karya Claude Guillot, dan Fatwa dalam Sistem Hukum Islam karya KH. Ma’ruf Amin. Telaah buku masing-masing ditulis oleh Asep Saefullah dan Harisun Arsyad. Asep Saefullah menilai bahwa Buku Guillot lebih banyak menggunakan sumber asing, khususnya yang berbahasa Portugis. Hal ini membuat pemaknaan yang dlakukan penulis terhadap data dari sumber asing terasa agak kering karena belum dilengkapi dengan sumber lokal terutama sumber yang berupa naskah.

Buku kedua merupakan hasil dari pelaksanaan fungsi MUI dalam memberi fatwa dan nasehat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan umat Islam pada umumnya. Menurut Arsyad, buku ini berbeda dengan buku fatwa lainnya karena menampilkan aspek akademis yang bersifat deduktif dan teoritis. Selain itu, penulisnya juga menyajikan pengalaman empirik dalam menangani fatwa di lingkungan MUI.

 
Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Jurnal Lektur arrow Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 7, No. 2, Desember 2009