Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 8, No. 1, Juni 2010 Cetak E-mail

Edisi ini berisi delapan tulisan yang terdiri atas empat tulisan tentang naskah klasik keagamaan, tiga tulisan tentang khasanah keagamaan, dan satu tulisan tentang literatur kontemporer keagamaan.  Yang pertama tulisan karya Fuad Jabali dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jabali membahas tentang manuskrip dan orisinalitas penelitian. Tulisan ini menunjukkan bahwa kajian kreatif terhadap manuskrip bisa menjadi cara yang paling efektif untuk mengklaim orisinalitas sebuah kajian ilmiah. Cara berpikir kreatif dan kritis bisa membantu memahami realitas dibalik manuskrip dan mengkontekstualisasikan pemahaman tersebut dalam kekinian. Untuk itu lembaga pendidikan yang mengkaji ilmu humaniora perlu membekali peserta didiknya dengan soft skill (kritis, analitis dan historis) yang baik.

Tulisan Fakhriati dari Puslitbang Lektur dan khazanah Keagamaan membahas keberadaan naskah di Pidie dan Aceh Besar. Di wilayah ini, banyak manuskrip Aceh yang disimpan secara pribadi oleh masyarakat dengan perawatan seadanya. Ada masyarakat yang menyimpan manuskrip sebagai warisan leluhur, ada yang mengoleksi dengan tujuan bisnis. Tulisan ini menggambarkan secara komprehensif kekayaan intelektual yang tertuang dalam manuskrip yang ada di dua lokasi tersebut.

Juga ada tulisan Syarif Hidayat dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran membahas tentang Naskah Sunda Islami (NSI) dan hubungannya dengan perkembangan Islam di Jawa Barat. Jumlah NSI cukup besar. NSI punya ciri khas yang mudah dikenali yakni dari segi bahasa, aksara, kandungan, dan material yang digunakan. NSI lahir dari perkembangan budaya menulis dengan aksara Arab sejalan dengan perkembangan Islam di Tatar Sunda. Dalam hal ini, pesantren merupakan dapur yang produktif dalam melahirkan SNI. Sayangnya, NSI kurang mendapat perhatian dan pemeliharaan yang memadai.

Harap Andi dari Balai Litbang Agama Jakakarta membahas naskah Minhaj al-Atamm fi Tabwib al-Hikam karya seorang ulama Aceh bernama Tgk Syekh Muhammad bin Ahmad Khatib Langien. Naskah tersebut merupakan salah satu karya tasawuf, disiplin yang banyak dikaji oleh tokoh-tokoh Aceh seperti Hamzah Fansuri dan Nuruddin Ar-Raniri. Naskah ini merupakan salah satu dari kumpulan karya Tgk Syekh Muhammad bin Ahmad Khatib Langien dalam kitab Jam’u Jawami al-Musannawat atau yang dikenal dengan nama Kitab Delapan.

Proses awal perkembangan Islam di Aceh diulas oleh Sri Suyanta dari IAIN Ar-Raniri Banda Aceh. Menurut sejarawan muslim Hamka dan Al-Atas, Islam sampai ke Aceh sejak abaad pertama Hijriyah (abad ke-7 dan 8 Masehi), tapi baru menjadi agama populis pada abad ke-9 Masehi menurut Hasjmy, dan menjadi agama kekuasaan baru pada abad ke-13 Masehi menurut para orientalis. Ini menumbulkan perbedaan pendapat tentang kapan, siapa pembawanya dan bagaimana proses Islamisai di Aceh.

Tulisan berikutnya membahas transformasi kepemimpinan di Kedatuan Luwu pada abad ke-10 sampai 17 Masehi. Kerajaan ini dipandang sebagai tempat kelahiran peradaban Bugis. Menurut penulisnya, Syamzan Syukur dari IAIN Sultan Amai Gorontalo, ada tiga periode transformasi pemerintahan di Ledutan Luwu, yakni periode Galigo yang mengembangkan monarki absolut, periode Tomanurung yang bercorak monarki parlementer, dan periode Islam yang bercorak monarki konstitusi. Adeng Muchtar Ghazali dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyajikan tulisan yang membahas peran Sunan Gunung Djati dalam proses Islamisasi di Jawa Barat. Sunan Gunung Djati berperan dalam proses penyebaran dan pembangunan institusi di Jawa Barat, meliputi institusi politik, sosial budaya, dan agama. Semuanya dikembangkan dalam konteks penyebaran pembangunan masyarakat Islam.

Tulisan terakhir di edisi ini ditulis oleh Asep Saefullah dan Ridwan Bustaman, masing-masing dari Puslitbang Lektur Keagamaan Kementerian Agama dan Sekretariat Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Keduanya mengkaji tentang literatur Islam pada perpustakaan Masjid Raya Makasar dan Al-Markaz Al-Islami. Tulisan yang merupakan hasil penelitian ini menunjukkan, perpustakaan masjid pernah marak didirikan, tapi kini banyak yang tak aktif lagi. Keberadaannya dibutuhkan bagi masyarakat tetapi diabaikan karena kekurangan SDM dan dana.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Jurnal Lektur arrow Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 8, No. 1, Juni 2010