Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 10, No. 2, Desember 2012 Cetak E-mail

Dalam edisi ini terdapat sepuluh tulisan. Tulisan pertama di edisi ini adalah karya Ita Syamtasiyah Ahyat dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia. Ia mengkaji tentang perkembangan Islam di Kesultanan Banjarmasin. Kesultanan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan sebelumnya yang bercorak Hindu, yakni Negara Dipa dan Negara Daha. Kerajaan ini bermula dari perkampungan orang-orang Melayu kemudian menjadi pelabuhan yang dilalui orang-orang muslim yang berlayar untuk mendapat rempah-rempah. Ajaran Islam yang sedang dalam proses penyebaran saat itu mewarnai corak kesultanan dalam aspek budaya, sosial, politik, dan ekonomi.

Sedangkan karya Alfan Firmanto dari Pusat Lektur dan Khasanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Isinya merupakan hasil penelitian tentang inskripsi keagamaan di Pontianak yang berhubungan dengan Kesultanan Kadriyah di Pontianak sebagai kerajaan Islam termuda di Indonesia. Belum banyak yang terungkap terkait sejarah berdirinya kesultanan ini. Penelitian ini berusaha mengungkap sejarah berdirinya kesultanan melalui inskripsi yang termuat pada makam para sultan di situs makam Batu Layang di Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat.

Masmedia Pinem dari Pusat Lektur dan Khasanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI mengetengahkan tulisan yang membahas tentang naskah tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau. Naskah tersebut tidak diketahui penulisnya, sedangkan penyalinnya bernama Maria. Disamping menjelaskan asal-usul, deskripsi fisik, dan isi naskah, tulisan ini juga menyoroti tentang konteks sosial, budaya, dan keagamaan ketika tarekat Naqsyabandiyah berkembang di Sumatera Barat.

Adapun karya Moh. Hasim dari Pusat Lektur dan Khasanah Keagamaan Balitbang Agama Semarang. Hasim membahas tentang sikap hidup orang Jawa yang tertuang dalam naskah Sanguloro. Dengan pendekatan filologi ditemukan bahwa naskah Sanguloro mengandung nilai-nilai falsafah kerukunan dan aturan hidup masyarakat Jawa seperti sikap bijaksana, berbuat baik, tidak sombong, dan menjaga perasaan orang lain.

Selanjutnya, Ahmad Rofii dari IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengkaji tentang naskah Kitab al-Nikah karya Abu ‘Abd Allah al-Husayn ibn Ahmad al-Mahfani, seorang penulis dari tanah Jawa. Kitab ini adalah kitab ringkasan tentang pernihakan dari mazhab Syafi’i. Kitab ini memberi dasar hukum baik dari al-Qur’an maupun hadits tentang pernikahan; perbandingan dasar hukum; dan prinsip moral dalam pernikahan.

Media komunikasi dan informasi dalam perspektif Al-Qur’an dikupas oleh Asep Usman Ismail dari IUN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terdapat dua bentuk media komunikasi primer, yakni verbal dan nonverbal. Selain itu ada dua media komunikasi pendukung, yakni khutbah Jum’at dan korespondensi (murasalat). Melalui media-media komunikasi tersebut, Al-Qur’an menekankan agar kaum muslimin berkomunikasi secara efektif, efisien, berkulitas, dan berbobot dengan memilih diksi yang santun.

Artikel berikutnya berupa hasil penelitian tentang inskripsi keagamaan pada Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Makam Syekh Abdul Hamid Abulung, Masjid Agung Al-Karomah, dan Masjid Syekh Abdul Hamid Abulung. Penulisnya, Ridwan Bustaman dari Pusat Lektur dan Khasanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI berpendapat, secara umum tulisan yang ada di makam dan masjid tersebut menggunakan bahasa dan aksara Arab, bahasa Melayu, dan aksara Pegon. Isi inskripsi berupa eksistensi para ulama terkemuka. Teks merujuk pada al-Qur’an dan Hadits. Dari inskripsi ini terungkap jejak sejarah Kerajaan Banjar.

Tulisan karya Zakiyah, peneliti pada Balai Litbang Agama Kementerian Agama Semarang, mengupas tentang nilai-nilai kerukunan dalam naskah Serat Waosan Puji, koleksi Perpusatakaan Widya Budaya Keraton Yogyakarta. Naskah masih dalam keadaan baik dan dapat dibaca. Naskah berisi tentang doa-doa; rukun iman, rukun Islam, dan tauhid; nama-nama surat dalam Al-Qur’an; ajaran Ki Purwadaksina, Serat Nitisruti, dan Serat Nitipraja.

Nurman Kholis dari Pusat Lektur dan Khasanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI menyajikan hasil penelitian tentang keberadaan mimbar di masjid-masjid kuno di Aceh. Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa mimbar sudah tidak digunakan lagi dalam masjid dan digantikan oleh podium. Padahal, mimbar berbeda dengan podium dari segi bentuk dan makna. Secara bentuk, mimbar terdiri atas tiga tangga atau lebih yang ketika khotib naik membelakangi jama’ah lalu berbalik menghadap jamaah. Tata cara ini tidak ada di podium. Secara makna, mimbar mempunyai makna yang lebih sakral karena apa yang terucap dari mimbar mempunyai makna lebih tinggi. Sementara di podium, semua orang bisa mengucapkan apa saja.

Edisi ini ditutup dengan buah karya Asep Saefullah yang melakukan tinjauan atas buku Studi Kawasan Dunia Islam karya Ajid Thohir. Buku ini menyajikan ringkasan tentang realitas Islam di berbagai kawasan dunia. Kajian ini menarik karena masing-masing wilayah menunjukkan ideologi lokal sekaligus menunjukkan modernitasnya. Walaupun masyarakat Islam menunjukkan konteks lokalnya, namun keragaman tersebut tetap berada dalam kesatuan.

 
< Sebelumnya
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Jurnal Lektur arrow Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 10, No. 2, Desember 2012