Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Identitas Naskah Klasik Keagamaan Aceh Cetak E-mail

Kajian Terhadap Watermark Dan Countermark  Dalam Naskah Klasik Keagamaan

 

Kebanyakan naskah Melayu yang menggunakan bahan naskah dari luar negeri memiliki kriteria watermark (cap air) dan countermark (cap tandingan) di dalamnya. Watermark dan countermark dapat memberikan informasi tentang tahun dan negara tempat pembuatan kertas naskah. Sehingga, bila naskah yang tidak memiliki tahun penulisan dapat diprediksi kapan naskah ditulis, hingga kepada bagaimana jalur hubungan antara negara pembuat kertas dengan negara pengguna kertas. Melalui watermark dan countermark, konteks lahirnya sebuah naskah dapat ditelusuri lebih jauh. Bahkan lebih jauh dari itu hubungan penulis dan penyalin yang berada di negara yang menjadi pemakai kertas serta hubungannya dengan negara produsen kertas tersebut dapat menjadi kajian lebih lanjut. Watermark dan countermark dibuat tentu memiliki alasan dan latarbelakang dari si pembuat atau si pencetus ide. Ini merupakan pengetahuan sejarah yang sangat berharga yang perlu diungkap yang kemudian dapat dihubungkan dengan masa lahirnya sebuah naskah klasik di wilayah Nusantara ini.

 

Penelitiain ini berupaya untuk mengungkapkan sejumlah watermark dan countemark dalam naskah klasik keagamaan yang ada di Aceh. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (i) Bagaimana tipologi dan ciri khas watermark dan countermark di wilayah ini?  (ii) Kapan dan dimana tempat produksi watermark dan countermark yang ada dalam naskah klasik keagamaan untuk wilayah tersebut? (iii)  Bagaimana akses pemakai kertas naskah klasik untuk mendapatkan kertas yang berwatermark? Bentuk penelitian ini adalah kwalitatif dengan study lapangan dan perpustakaan. Dalam menganalisa data, penelitian ini menggunakan pendekatan kodikologis dan Sejarah.

 

Hasil penelitian ini menemukan bahwa bahwa naskah klasik wilayah Aceh telah menggunakan alas tempat penulisannya berbentuk kertas yang sebagian besar menggunakan watermark dan countermark. Selain itu, terdapat penggunaan kertas yang bergaris halus dan kasar, kertas polos, dan kertas modern yang bergaris hijau. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri juga bahwa kertas tradisional, yaitu kertas dluwang juga digunakan untuk menulis teks dalam naskah klasik keagamaan.

 

Jenis watermark dan countermark yang ada di dalam naskah-naskah klasik keagamaan wilayah Aceh cukup bervariasi dan menunjukkan latar sejarah hubungan Aceh dengan Negara asing. Dari bulan sabit bersusun tiga yang menunjukkan kekhasannya sebagai wilayah yang didominasi oleh penganut Islam hingga gambar-gambar khas Eropa yang menunjukkan bahwa kertas tersebut memang dimport dari luar negeri, seperti propatria yang di dalamnya terdapat orang yang memakai kostum Belanda.

Hasil penelitian ini merekomendasikan dua hal yang paling mendesak dilakukan, yaitu; (i) perlu ada musyawarah dan workshop di antara para ahli dan pemerhati watermark yang concern dalam bidang watermark untuk naskah klasik Melayu, untuk membuat standardisasi dalam pembuatan katalog watermark untuk naskah Melayu; dan perlu adanya ketrampilan dalam mendeskripsikan secara utuh, sehingga tidak ada penyimpangan dan kelainan dalam pendeskripsian sebuah watermark yang ada dalam kertas naskah klasik Melayu. (ii) agar diadakan katalog yang bisa dijadikan standard khusus untuk watermark khususnya naskah keagamaan Nusantara, sehingga dapat memudah para peneliti dan pemerhati naskah untuk dapat rujukan dalam hal mengidentifikasi alas naskah yang dipakai untuk penulisan naskah klasik, karena selama ini belum terdapat buku referensi yang dapat mewakili dan menjawab pertanyaan peneliti terhadap tahun, tempat, dan produser yang membuat kertas berwatermark tersebut, yang kegunaan adalah sangat penting untuk menentukan umur naskah klasik keagamaan.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Penelitian arrow Identitas Naskah Klasik Keagamaan Aceh