Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Kajian Dan Penulisan Sejarah Kerajaan Hitu Di Maluku Cetak E-mail

Penulisan sejarah kerajaan Hitu ini penting dilakukan dalam konteks perkembangan sejarah Islam di wilayah Kepulauan Nusantara-Indonesia paling tidak disebabkan oleh dua hal; pertama, posisinya sebagai sebuah kerajaan Islam di pulau Ambon, Maluku, yang mempunyai masa kejayaannya pada masa 1470-1682; kedua, Kerajaan Tanah Hitu pernah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dan memainkan peran yang sangat penting di Maluku, di samping melahirkan intelektual dan para pahlawan pada zamannya. Beberapa di antara mereka misalnya adalah Imam Ridjali, Talukabessy, Kakiali dan lainnya yang tidak tertulis di dalam Sejarah Maluku sekarang, yang beribu Kota Negeri Hitu. Kerajaan ini sendiri berdiri sebelum kedatangan imperialism Portugis. Oleh karena itu, kondisi sosial dari kerjaaan Hitu ini penting untuk dikaji, paling tidak sebagai bahan kajian sejarah sosial keagamaan di Indonesia.

Penelitian ini lebih memfokuskan pada kegiatan kajian sejarah sosial pada lingkup wilayah Leihitu (jazirah Leihitu/wilayah di mana terletak kerajaan Hitu), maka dalam telaah kepustakaan ini lebih memusatkan pada  konsep-konsep kesejarahan, sosial dan keagamaan masyarakat di wilayah tersebut.

Hasil kajian ini menemukan bahwa Kerajaan Tanah Hitu terletak di Pulau Ambon, tepatnya di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, Indonesia. Dinamakan Kerajaan Tanah Hitu karena letaknya berada di daerah Leihitu. Pada saat kerajaan tersebut masih eksis, daerahnya bernama Tanah Hitu. Kini, nama Tanah Hitu sudah tidak ada lagi, yang ada adalah Kecamatan Leihitu yang kadang biasa disebut dengan Jazirah Leihitu yang terdapat banyak desa, di antaranya adalah Hitu Lama, Hitu Messeng, Keitetu, Hila, Wakal, Mamala, Morela, Seit. Masing-masing desa tentunya saling menonjolkan ciri khasnya yaitu seperti halnya pesta tradisional “pukul menyapu” di desa Mamala adalah bentuk tradisi rakyat yang tidak dijumpai di daerah lainnya. Demikian pula di desa Kaitetu, dimana masyarakat membanggakan warisan budaya peninggalan sejarah, yaitu Mesjid Tua dan tradisi-tradisi keagamaan. Demikian juga desa Hila (Serani) menonjolkan peninggalan Benteng Amsterdam dan Gereja Tua sebagai warisan budaya yang bernilai sejarah.

Peperangan besar yang pernah terjadi antara lain Perang Hitu (1520-1605), Perang Banda (1609-1621), Perang Huamual (1625-1656), Perang Alaka  (1625-1637), Perang Wawane (1633-1643), Perang Kapahaha (1636-1646) dan Perang Iha (1632-1651).15 Kemungkinan besar, perang yang terjadi tidak murni disebabkan oleh perseteruan ideologi, tetapi lebih disebabkan karena alasan ekonomis atau perebutan kekuasaan wilayah rempah-rempah. Tidak salah jika perlawanan yang intensif tersebut mengakibatkan kawasan Maluku khususnya Maluku Tengah dan Ambon tersegregasi berdasarkan kelompok agama. Pola segregasi tersebut tidak lepas dari pola aliansi dan strategi Belanda untuk mempermudah pengawasan terhadap pribumi dan memecah kesatuan budaya orang-orang Maluku.

Penelitian ini merekomendasikan hendaknya di masa-masa mendatang perlu penulisan sejarah Islam di Maluku yang lebih komprehensif, sehingga posisi strategis Islam dalam mewarnai kebudayaan Maluku dapat diposisikan secara wajar. Dengan kajian sejarah yang lebih menyeluruh diharapkan mampu mengurai anatomi konflik Ambon yang sampai saat ini masih menjadi bayang-bayang yang menghawatirkan. Selain itu, melalui kajian, dapat diketahui bahwa kondisi naskah-naskah kuno dalam rumah tao (rumah marga) sangat memprihatinkan, maka diperlukan upaya sistematis untuk melakukan perawatan dan kajian naskah, sehingga masyarakat dapat mengambil manfaat dari khazanah intelektual masa lalu Leihitu.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Penelitian arrow Kajian Dan Penulisan Sejarah Kerajaan Hitu Di Maluku