Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Kajian Dan Penulisan Sejarah Kesultanan Riau Lingga Cetak E-mail

Penelitian mengenai sejarah Kesultanan Riau Lingga, merupakan salah satu upaya untuk menutupi ketimpangan penulisan sejarah yang selama ini hanya berorientasi pada kerajaan-kerajaan besar. Kesultanan Riau-Lingga kini terdapat di provinsi Kepulauan Riau-Lingga, provinsi yang baru dibentuk pasca digulirkannya otonomi daerah tahun 2000.

Fokus penelitian ini adalah kepada sejarah kesultanan, struktur birokrasi pemerintahan dan hubungan Sultan dan rakyatnya, sistim dan praktek hukum, serta tinggalan budaya materi di kerajaan Riau Lingga dalam kurun waktu 1787- 1911, mulai berdiri sampai berakhirnya kesultanan.

Adapun tujuan penelitian adalah untuk memahami asal usul kesultanan, struktur pemerintahan, hubungan Sultan dan rakyatnya, adat dan praktek-praktek hukum kesultanan, serta memahami budaya materi yang ditinggalkan oleh kesultanan Riau Lingga. Penelitian ini juga diharapkan akan memberi makna bagi persoalan penegakan hukum, hubungan negara dan rakyat dan pada persoalan identitas daerah, terutama daerah-daerah yang baru dimekarkan. Metode pengumpulan data menggunakan metode  penelitian kepustakaan  dengan sumber data berupa arsip koleksi perpustakaan di dalam dan di luar negeri. Selain itu, data juga diperoleh dari studi lapangan melalui wawancara dengan informan kunci.

Hasil Penelitian ini menemukan bahwa kesultanan Riau Lingga merupakan sebuah kerajaan maritim dengan beribu pulau yang disatukan oleh laut, menjadi daerah terdepan berhadapan dengan Malaysia dan Singapura. Letak geografis Kepulauan Riau yang berada di persimpangan dan jalur strategis perdagangan, berimplikasi pada migrasi penduduk yang heterogen di Kesultanan Riau Lingga. Heterogenitas penduduk diikuti pula dengan heterogenitas dalam hal agama. Adapun mengenai penamaan kesultanan Riau Lingga adalah sebuah proses dari realitas politik kesultanan, yang sering perpindah dan berganti nama dalam rangka menemukan strategi baru menghadapi lawan.

Dalam struktur birokrasi, kesultanan Melayu Riau Lingga menerapkan sistem kekuasaan yang dualistis, yakni Sultan yang berasal dari etnik Melayu, berdiam di Daik, sebagai penguasa tertinggi, sedangkan wakil Sultan disebut Yang dipertuan Muda atau Raja Muda berdiam di Penyengat, berasal dari keturunan bangsawan Bugis. Sultan juga dibantu oleh wakil-wakilnya seperti Temenggung, Bendahara, Laksamana, Ulama, Kadhi, dan para pejabat istana lainnya dengan wakil-wakilnya, Amir, Orang Kaya sampai ke Batin dan Penghulu. Selanjutnya, seiring dengan  semakin kuatnya politik kolonial Belanda, maka sebagian para bangsawan dan pejabat istana masuk dalam birokrasi kolonial, menjadi para pegawai Residen dan Kontrolir.

Penelitian ini merekomendasikan hendaknya pada masa-masa mendatang dibutuhkan penulisan sejarah Islam di Kepulauan Riau yang lebih komprehensif, sehingga posisi strategis Islam dalam mewarnai aspek sosial budaya, perdagangan, hukum dan politik di wilayah Nusantara mendapatkan proporsi yang layak. Dengan kajian sejarah yang simultan, maka hubungan baik kerajaan Riau-Lingga dengan kerajaan-kerajaan negara tetangga di masa lalu akan tergambarkan dengan baik, mengingat masih adanya garis keturunan dan proses kawin-mawin pada masa lalu antarketurunan kerajaan. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara tetangga seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura dan lainnya.

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Penelitian arrow Kajian Dan Penulisan Sejarah Kesultanan Riau Lingga