Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Penelitian Rumah Ibadah Bersejarah: Surau Gadang Syekh Burhanuddin Ulakan Padang Pariaman Sumate Cetak E-mail

 

Oleh:

Retno Kartini Savitaningrum Imansyah

 

Penelitian terhadap bangunan dan arsitektur rumah ibadah bersejarah ini berangkat dari beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: (a) Bagaimana asal usul berdirinya rumah ibadah bersejarah dan kondisi masyarakat saat pendiriannya ?; (b) Bagaimana model arsitektur bangunan dan benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya ?; dan (c) Sejauhmana perkembangan rumah ibadah bersejarah sejak pendiriannya sampai  sekarang ?.

 

lokasi penelitian terhadap rumah ibadah bersejarah dilakukan di Provinsi Sumatera Barat. Penelitian difokuskan pada masjid/surau bersejarah yang memiliki usia di atas 50 tahun yang berlokasi di Kabupaten Padang Pariaman. Model penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Terdapat surau bersejarah yang berfungsi sebagai tempat ibadah dan tempat mengaji ilmu agama Islam di Kabupaten Padang Pariaman yang didata dalam penelitian ini, yaitu Surau Gadang dan Masjid Syekh Burhanuddin Ulakan. Surau (home of prayer) adalah tempat ibadah sekaligus lembaga pendidikan yang didirikan oleh ulama di Minangkabau. Di surau inilah beberapa aktifitas keagamaan dan sosial dilakukan seperti salat lima waktu, mengkaji ilmu agama, berdakwah, belajar ketrampilan untuk bekal hidup, termasuk berkesenian dan mempelajari ilmu bela diri.

 

Adapun data tentang sejarah Surau Gadang Syekh Burhanuddin Ulakan diperoleh dari tiga sumber yaitu, pertama langsung dari responden dan informan yang terdiri dari pengurus Yayasan Syekh Burhanuddin, para tetua yang mengetahui sejarah surau dan masjid, pegawai Kankemenag Padang Pariaman, pegawai Dinas Pariwisata dan Budaya setempat, serta data dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional  (BPSNT) Sumatera Barat.

 

Temuan hasil penelitian ini menegaskan bahwa Surau Gadang Syekh Burhanuddin Ulakan di Padang Pariaman, Sumatera Barat tidak jauh berbeda kondisinya dengan surau dan masjid-masjid bersejarah lainnya di Indonesia. Yang khas nampak dalam muatan budaya lokal yang diapresiasikan dalam bentuk arsitektur bangunan bersejarah yang pada umumnya bercirikan arsitektur vernacular. Sintesa antara budaya lokal maupun tradisi pra Islam dengan Islam nampak pula mewarnai corak arsitektur rumah ibadah kuno di ini. Misalnya kontur bangunan berkolong dan model atap gonjong.  Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai filosofis meleburnya unsur adat dengan agama seperti dalam pepatah  adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, syara’ mandaki adaik manurun benar-benar mewarnai alam Minangkabau pada masa itu.

 

Di masa sekarang, Surau dan Masjid Raya Syekh Burhanuddin masih  tetap memiliki fungsi sebagai tempat shalat, musyawarah,  juga merupakan tempat berkumpulnya jamaah untuk “mengaji” ilmu keagamaan, walaupun dengan intensitas dan kualitas yang berbeda. Namun fungsi surau sebagai asrama atau tempat tinggal bagi murid-murid sudah tidak dilakukan lagi. Dengan demikian peran surau ataupun masjid tidak sama lagi dengan pada masa awal pembangunannya oleh Syekh Burhanuddin dan pengikutnya. Pada masa itu, surau dan masjid menjadi titik sentral penyiaran dan pengembangan agama Islam di Pariaman dan sekitarnya. Bahkan konon menjangkau seluruh wilayah Minangkabau melalui dakwah-dakwah yang diteruskan oleh sahabat dan murid Syekh Burhanuddin. Namun, seiring dengan perkembangan jaman, maka peran basurau menjadi kian memudar.

 

Hasil penelitian ini merekomendasikan agar; (i) beberapa pihak seperti Kanwil Kemenag RI, BPSNT (Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional) Sumatera Barat, ataupun Dinas Pariwisata dan Budaya setempat perlu lebih menggalakkan sosialisasi UUU No. 11 Tahun 2010 tentang  Cagar Budaya, untuk menjaga dan memelihara eksistensi bangunan-bangunan rumah ibadah bersejarah misalnya surau dan masjid kuno. Hal tersebut perlu dilakukan mengingat beberapa surau dan masjid tua di Sumatera Barat, khususnya di Padang sudah dipugar total oleh masyarakat dengan alasan masjid modern lebih bermanfaat untuk umat. (ii) Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan perlu terus memfasilitasi kajian dan penelitian tentang rumah ibadah bersejarah, tidak hanya rumah ibadah umat Islam, tetapi juga rumah-rumah ibadah agama lainnya.

 

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Penelitian arrow Penelitian Rumah Ibadah Bersejarah: Surau Gadang Syekh Burhanuddin Ulakan Padang Pariaman Sumate