Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Kajan dan Penulisan Sejarah Kesultanan Jambi Tahun 2010 Cetak E-mail

Penelitian tentang sejarah Kesultanan Jambi ini bertujuan untuk: menyusun draft penulisan konstruksi dan narasi sejarah Kesultanan Melayu Jambi. berdasarkan fakta dan peninggalan sejarah yang ada; serta menelusuri perannya dalam konteks penyebaran Islam dan perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Adapun metode penelitian menggunakan metode sejarah, yaitu proses menguji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau; dan metode historiografi, yaitu rekonstruksi yang imaginatif melalui usaha sintesis atas data yang diperoleh untuk menjadi kisah sejarah yang dapat dipercaya.

 

Hasil penelitian menyatakan bahwa Kesultanan Jambi terbentuk mulai pertengahan abad ke-15, tetapi bentuk dan strukturnya masih sangat sederhana. Baru memasuki akhir abad ke-16 atau awal abad ke-17, Kesultanan Jambi berkembang seiring dengan proses Islamisasi yang berkolaborasi dengan meningkatnya perekonomian Jambi di pusat-pusat perdagangan di pantai timur Sumatra dan Selat Malaka. Aktivitas perdagangan Jambi dapat disamakan dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Aceh, Palembang, Johor, dan Jepara.

 

Penulisan sejarah sosial kesultanan Jambi di awali dengan sejarah  Jambi pada masa lalu dalam era Kerajaan Sriwijaya, dan juga berdirinya Kesultanan Jambi berdasarkan sumber naskah  Ini Sejarah Jambi. Dalam naskah tersebut digambarkan tentang Silsilah Raja-raja Jambi, Keturunan Orang Kerajaan Jambi yang Dua Belas Bangsa, Asal-usul ”Tanah Pilih Pusako Betuah, Undang-undang, Hukum Adat, dan Wewenang, serta  Raja Jambi yang  Beristri di Palembang. juga ada konflik yang terjadi antara Kesultanan Jambi dengan Kesultanan Johor dan Palembang.

 

Temuan lainnya berkaitan dengan perjuangan Kesultanan Jambi dalam mempertahankan kedaulatannya. Bahasan tema ini awali dengan gambaran tentang  tentang kondisi geografis dan penduduk Jambi pada Abad ke-19 dan intervensi Belanda terhadap Kesultanan Jambi yang diawali dengan sebuah hubungan dagang pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Fakhruddin (1833-1841) dan Sultan Abdurrahman Nazaruddin (1841-1855). Dalam era kepemimpinan Sultan Thaha Syaifuddin, perjuangan mempertahankan kedaulatan kesultanan dari intervensi Belanda dilakkan dengan sangat gigih.  Selain dengan cara berperang, juga ada langkah diplomasi termasuk diantaranya dengan meminta bantuan Kerajaan Turki Utsmani.

 

Penelitian ini merekomendasikan: (1) Perlu adanya komitmen yang tegas dari  pihak pemerintah pusat dan daerah dalam melindungi dan menyelamatkan peninggalan sejarah masa silam; (2) Sosialisasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya perlu disosialisasikan secara luas, sehingga setiap peninggalan sejarah akan ditangani secara professional dan penuh tanggungjawab   (3) Perlu disadari bahwa peninggalan sejarah  yang berupa situs, artefak, dan naskah dapat dimanfaatkan sebagai sumber sejarah, kepentingan ilmu, kepariwisataan, dan yang lebih penting lagi adalah sebagai wujud jati diri dan identitas bangsa. (4) Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI perlu menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dalam penulisan sejarah kerajaan Islam lokal dalam upaya pelestarian khazanah Islam Nusantara.

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Penelitian arrow Kajan dan Penulisan Sejarah Kesultanan Jambi Tahun 2010