Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Inskripsi Keagamaan Nusantara Cetak E-mail

 

Masuknya ajaran Islam dengan damai memberi pengaruh terhadap terjadinya akulturasi budaya antara lokal dan Islam. Adanya saling mengisi antara keduanya mewujudkan budaya baru baik dalam bentuk fisik atau non fisik. Budaya itu kemudian menjadi ciri khas budaya masyarakat Islam Indonesia – kalau tidak dikatakan sampai saat ini. Dalam pewujudan budaya fisik khususnya dalam benda-benda keagamaan, percampuran antara lokal (Hindu/Budha) dan Islam sangat sulit dipisahkan terutama pada sarana peribadatan, sarana kematian, simbol atau lambang dan lainnya. Benda-benda itu berserakan di sentra-sentra pusat Islam masa lalu, ada diantaranya di kesultanan, makam-makam tokoh agama dan sultan, tempat ibadah atau masjid, benteng, prasasti, gapura, kerajinan dan lainnya. Dan itu, merupakan artefak-artefak masa lalu yang dapat membantu mengungkap kehidupan nenek moyang kita yang konon hidup tentram, rukun dan saling menghormati.

 

Dalam penampilannya artefak-artefak tersebut cukup beragam baik dalam ciri yang digunakan atau bentuk wujudnya, ada yang bercirikan hiasan bunga, hiasan binatang, hiasan dedaunan dan ada yang berbentuk tulisan atau lainnya. Sebagai contoh pada hiasan mimbar masjid sering ditemukan ciri yang berbentuk bunga dan kaligrafi Arab, diantara keduanya cukup sulit memisahkan peranannya dalam hiasan tersebut. Uka Tjandrasasmita mengungkapkan: Kedatangan Islam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diperkirakan sudah berlangsung sejak abad pertama Hijrah atau abad ke-7 M. Secara bertahap, perkembangan itu disertai penyebaran bahasa Arab dengan tulisannya. Data arkeologis nisan-nisan kubur dari abad ke 11, 13, sampai awal 15 M, menunjukan bahwa tulisan yang digunakan ialah tulisan Arab. Contohnya adalah nisan kubur Fatimah binti Maimun bin Hibatullah (475H/1082 M) dengan huruf Kufi, di Leran Gresik; nisan kubur Malik as-Saleh (696 H/1297M) dengan huruf Tsulus, di Gampong Samudra Pasai, Lhokseumawe; dan nisan kubur Maulana Malik Ibrahim (822 H/1419 M) dengan huruf Tsulus di Gresik.[1]

 

Penelitian ini pada jumlah, bentuk dan makna yang terkandung dalam inskripsi keagamaan (tulisan Arab/pegon) yang ada di daerah penelitian. Tujuannya untuk menginventarisasi dan mendiskripsikan artefak- artefak yang ditemukan. Penelitian ini dilakukan di tiga Propinsi (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat) dengan kabupaten/kota: Bangkalan, Sumenep, Gersik, Ponorogo, Surakarta, Demak, Kudus, Cirebon dan Sumedang. Fokus penelitian ini adalah inskripsi atau tulisan-tulisan Arab baik yang berbahasa Arab atau Jawa/Sunda dengan tulisan Arab atau Pegon yang terdapat di masjid, kubur dan keraton.

 

Hasil penelitian ini menyimpulkan hal-hal sebagai berikut. 1). Artefak-artefak tinggalan Islam yang menggunakan tulisan Arab, Arab Melayu, Jawa Kuno atau tulisan lainnnya tersebar di sentra-sentra pusat Islam masa lampau disinyalir belum banyak diketahui masyarakat baik dari segi jumlahnya, isinya, apalagi sejarahnya. 2). Informasi mengenai tinggalan Islam yang menggunakan tulisan (inskripsi) Arab, Arab Melayu, Jawa Kuno perlu diungkap dalam rangka melacak peranan umat Islam dan pengaruhnya serta sebagai khazanah keagamaan Islam masa lalu di Indonesia. 3).Ada kecendrungan masyarakat Islam masa lampau menuangkan rasa keagamaannnya dalam bentuk tulisan Arab atau Pegon pada tempat-tempat seperti masjid, nisan dan keraton atau rumah. 5).Tulisan yang banyak menghiasi tempat-tempat tersebut berupa ayat-ayat Al-Qur’an, Hadis Nabi, Qaul Ulama dan parasasti yang berupa nama tokoh agama atau peringatan terhadap sesuatu yang dianggap penting dalam mkeagamaan.

 

Penelitian merekomendasikan hal-hal yang antara lain: 1).Perlu ada usaha menginfentarisasi inskripsi-inskripsi keagamaan dan melestarikannya dalam bentuk digital dalam rangka melestarikan budaya keagamaan dan memelihara khazanah keagamaan nusantara. 2).Penelitian dalam bidang ini perlu mendapat porsi, karena masih kurangnya lembaga-lembaga yang memperhatikan benda-benda semacam ini padahal mempunyai nilai tinggi dalam rangka mengungkap budaya keagamaan nusantara. 3).Usaha-usaha menghilangkan tulisan-tulisan peninggalan masa lalu perlu dihindari terutama yang tertera di nisan-nisan kuno.



[1] Tjandrasasmita,  Uka, Arkeologi  Islam Nusantara, KPG, cet 1, 2009, hal 290.

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Ringkasan arrow Ringkasan Penelitian arrow Inskripsi Keagamaan Nusantara