Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

HITAM PUTIH FRON PEMBELA ISLAM (FPI) Cetak E-mail

Oleh: HD. Zainuddin[1]

 

ANDRI ROSADI[2], Hitan Putih FPI (Front Pembela Islam): mengungkap rahasia-rahasia mencengangkan ormas keagamaan paling controversial /oleh Andri Rosadi. cetakan I, Juli 2008.-- Jakarta : Nun Publisher, 2008.-- 2,5 cm x 20 cm; 237 halaman



[1] Disampaikan pada acara Review Lektur Keagamaan Kontemporer, tanggal 6 Juli 2009 di  Ruang Sidang Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, denga Narasumber:  Prof. Dr. H. Maidir Harun.

[2] Andri Rosadi lahir di Tembilahan - Riau, 30 Desember 1975, jebolan Pondok Pesanren Modern Gontor Ponorogo, dan Universitas al Azhar Kairo,  dengan studi Sejaran dan Peradaban Islam, ia meneruskan kuliah pasca sarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta, jurusan Antropologi. Pengalaman menulisnya, pernah memimpin majalah Itqan di Pondok Pesantren Gontor dan redaktur jurnal mahasiswa Indonesia-Kairo al Umran. Karya tulis yangpernah dipublikasikan: Antropologi pemikiran Islam (Kairo 2003); Esai-esai ke Arah Filsafat Ilmu Islam (Kairo, 2001); Islam Interaktif (Kairo, 2002); dan saat ini ia sedang menyeesaikan studi S3 di Institut for the Studi of Muslim Civilizations (ISMC), London. 

Paska tumbangnya pemerintahan Orde Baru tahun 1998, diwarnai dengan munculnya aktor ”Gerakan Islam Baru” (new Islamic monement)[1]. Aktor baru ini berbeda dengan aktor gerakan Islam lama, seperti NU, Muhamadiyah, Persis, al Irsyad, al Wasliyah, Jamaat Khair dan sebagainya. Organisasi gerakan Islam baru ini memiliki basis ideologi, pemikiran dan strategi gerakan yang berbeda dengan ormas-ormas Islam sebelumnya, memiliki karakter yang lebih militan, radikal, skripturalis, konservatif, dan ekslusif, dengan visi dan misi mewujudkan penerapan syari’at Islam di Indonsia. Secara keseluruhan kelompok ini menganut paham ”salafisme radikal”, yakni berorientasi pada penciptaan kembali masyarakat salafi (generasi Nabi Muhammad dan para sahabatnya), dengan cara-cara keras dan radikal. Bagi kelomppok ini Islam pada masa kaum salafi inilah merupakan Islam paling sempurna, masih murni dan bersih dari berbagai tambahan atau campuran (bid’ah) yang dipandang mengotori Islam. Gerakan Islam versi mereka lebih bercorak konfrontatif terhadap sistem sosial dan politik yang ada, menghendaki adanya perubahan mendasar terhadap sistem yang ada saat ini (yang mereka sebut sistem sekuler atau jahiliah modern), dan berupaya menggantinya dengan sistem baru yang mereka anggap sebagai sistem Islam (nidzam Islam). Islam sebagai alternatif (al–Islam kabadil), Islam adalah solusi (al-Islam huwa al-hall). Syariat Islam adalah solusi krisis, dan merupakan jargon-jargon yang menyemangati gerakan mereka. Andri Rosadi mengindentifikasi bahwa organisasi ini adalah:  kelompok tarbiyah, yang kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonsia (MMI), Laskar Jihad (Yogyakarta), Laskar Jadullah (Sulawesi Selatan), dan Fron Pembela Islam (FPI).

 

Apa yang unik dari FPI

Andri Rosadi dalam tesisnya menyoroti fenomena gerakan Fron Pembela Islam (FPI), terutama keterlibatan organisasi ini dalam kerusuhan di Monas tanggal 1 Juni 2008 yang menambah penjang daftar keterlibatan mereka dalam kerusuhan sosial keagamaan di Tanah Air. Suatu hal yang wajar jika kemudian muncul keprihatinan dari seluruh elemen bangsa terhadap aksi dan organisasi yang mendalanginya. Agresivitas dan kenekatan para pengikut FPI ini yang mendorong ia tertarik untuk meneliti dan mengkaji organisasi ini, tujuannya adalah untuk memahami FPI secara profesional, dan bukan untuk kepentingan lainnya. Oleh sebab itu, ia berusaha mengungkap sisi positif dan negatif sekaligus, agar organisasi ini bisa dilihat oleh para pemirsa secara utuh dan lebih komprehensip. Metode yang dipakai dalam melakukan penelitian ini ia menggunakan metode in-depth inter view dan observasi partisipsi, hal ini untuk menghindari tradisi yang sekarang berkembang di kalangan pengamat dalam menganalisa suatu masalah, selalu menggunakan data intelejen, misalnya masalah FPI,  Artinya, mereka tidak punya kontak langsung dengan anggota komunitas yang diteliti. Maka dalam hal ini Andri Rosadi yang juga sarjana S2 antropolog meminjam pendapat Geertz, bahwa para Antropolog tidak belajar tentang desa-desa, tetapi mereka belajar dalam desa-desa. Artinya, bahwa dalam mengungkapkan data FPI, ia melakukan pengamatan langsung (observasi) tentang aktivitas FPI.

 

Pada bulan November 2005 hingga Januari 2006, Andri Rosadi mengikuti pengajian mingguan FPI di Masjid al Ishlah Petamburan Tanah Abang, di samping ia juga mewawancarai beberapa informan, dari kalangan pengurus FPI dan anggota sampai kepada simpatisan, bahkan orang-orang yang kontra dengan FPI sekalipun. Ia beraudiensi langsung dengan Habib Rizieq di kediamannya, walaupun sebelumnya mengalmi kesulitan yang amat sangat[2], tetapi  akhirnya bisa juga menemui sang pimpinan organisasi ini. Bagaimana jalannya interaksi antra Habib Rizieq dengan para pengikutnya, begitu kuatnya karisma Habib Rizieq di mata pengikutnya. Kata Ade Maulana[3], anggota FPI, bahwa Habib Rizieq sosok orang yang bijaksana, sederhana, cerdas, berilmu dalam, dan konsisten, pusat komando, juga merupakan pusat wacana. Ide dan gagasan yang berkembang dalam FPI merupakan ide dan gagasan yang berasal dari Habib Rizieq. Oleh karena itu, buku Dialog Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar karangan Habib Rizieq merupakan kitab suci dimata para pengikutnya. Ada beberapa kasus  yang menimbulkan citra positif pada diri Habib Rizieq, diantaranya, penolakan Habib Rizieq atas suap 1,7 triliun, sehingga para pengikutnya semakin yakin dengan konsistensi perjuangannya. Padahal dalam kehidupan sehari-hari Habib Rizieq sangat sederhana, rumahnya kecil berada di gang sempit masih ngontrak, sebenarnya Habib Rizieq punya kemampuan untuk hidup kaya dan mewah dari jaringan sosial dan posisi yang ia pegang. Contohl ain, pasca evakuasi korban Tsunami di Aceh, FPI mengirimkan 1.200 sukarelawan ke Aceh dan berhasil mengevakuasi lebih dari 30.000  mayat. Lantas Pesiden Susilo Bambang Yudoyono menelpon Habib Riziq untuk mengucapkan terima kasih atas nama bangsa dan negara, dan berniat unuk memberikan penghargaan. Namun Satiyalencana tersebut ditolak oleh Habib Rizieq, dengan alasan, jika Presiden ingin memberikan penghargaan, maka berikanlah pada anak-anak sukarelawan FPI, bukan pada dirinya. Kasus ini terlepas benar atau tidak, menjadi perbincangan setiap anggota yang menggambarkan karakter positif Habib Rizieq, sehingga tanpa disadari mereka semakin masuk ke dalam ruang lingkup pengaruh Habib Rizieq.

 

Benarkah ada konspirasi asing atas kelahiran FPI?

Front Pembela Islam (FPI) lahir pasca keruntuhan Orde Baru, bersamaan dengan munculnya komunitas baru, seperti PKS, HTI, MMI, dan sejenisnya.. Sederetan peristiwa, terakhir peristiwa kerusuhan Monas tanggal 1 Juni 2008,  telah menyeret pimpinan FPI Habib Rizieq Syihab ke meja hijau. Kehadiran FPI di tanah air apa yang dikatakan Nurcholish Majid sebagai ”Ledakan Perisiwa” dalam era reformasi, saat elemen masyarakat menyuarakan reformasi politik, ekonomi dan hukum,  FPI mengusung slogam: ”Reformasi Moral”. Buku yang ditulis Andri Rosidi ini berisi studi antropologi terhadap gerakan FPI di Jakarta, sebagai bagian upaya memahami pola gerakan organisasi Islam di Indonesia. Pilihan pada FPI didasarkan pada fakta lapangan, bahwa organisasi ini cukup konsisten melakukan aksi massa, berbeda dari organisasi Islam lainnya. Di antara aksi-aksi FPI adalah: 1) Peristiwa Ketapang 1998; 2) Perang Cikijing 2000; 3) Demonstrasi menuntut pemberlakuan syariat Islam di depan gedung DPR 28 Agustus 2001; 4) Demonstrasi menuntut pengunduran  diri presiden Megawati 6 Januari 2003; 5) Penentangan kontes Waria di Sarinah akhir Juni 2005; 6) Penyerangan terhadap Kampus Mubarak (aliran Ahmadiyah) di Parung Bogor 15 Juli 2005; 7) Ancaman serangan terhadap kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Utan Kayu Jakarta Pusat 13 Agustus 2005; dan terakhir 8) Peristiwa penyerangan FPI terhadap kelompok aliran Ahmdiyah dan Jaringan Islam Liberal (JIL) di Monas  1 Juni 2008.

 

Elemen negara yang paling sering bersentuhan dengan FPI adalah aparat keamanan, karena dalam prakteknya, disinyalir bahwa FPI telah menjadi polisi swasta, dengan operasi mereka yang ilegal. Akibat aksi-aksi FPI tersebut, Polri pada tanggal 30 Mei 2006 menggelar pertemuan dengan angota DPR membahas desakan pihak-pihak yang menghendaki FPI itu dibubarkan. Kondisi ini sebagai cemin bahwa hubungan FPI dengan pemerintah selalu kontradiktif, yang berujung ditahannya beberapa orang tokoh sentral FPI termasuk Habib Rizieq. Contoh lain, dalam kasus pengrusakan Kedutaan Besar AS dan Kantor Majalah Playboy, polisi menangkap puluhan anggota FPI sebagai tersangka, sehingga dengan demikian hubungan FPI dengan pemerintah bertambah rumit, karena adanya faktor politik, misalnya beberapa Partai Islam punya kepentingan dengan FPI. Dalam hal ini, ada tiga elemen penting yang sering memanfaatkan organisasi model FPI, yaitu kelompok Pebisnis, Politisi, dan Militer. Habib Rizieq berkali-kali menegaskan, bahwa.pembubaran FPI tidak akan efektif, karena FPI sudah sangat siap mem-PTUN-kan instansi pemerintah mana saja  yang membubarkannya, dan jika kalah FPI akan berganti nama dengan personil dan kantor yang sama. Pada sisi lain, FPI curiga, bahwa wacana pembubaran FPI disebabkan intervensi asing (konspirasi), sebab wacana itu baru digulirkan dua hari setelah kunjungan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Donald Rumsfeld. Di sini tampak adanya rasa saling tidak percaya antara FPI dan pemerintah, yang terus bertahan hingga sekarang ini.

 

Di samping berdasarkan logika agama di atas, FPI juga memahami realitas kemungkaran tersebut sebagai bagian dari konspirasi pihak Barat untuk menghancurkan umat Islam. Menurut Habib Rizieq, ada lima keistimewaan Indonesia dan bagaimana cara Barat menggerogotinya: 1) Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, maka untuk menghadapinya, pihak Barat lalu mendanai gerakan Kristenisasi di Indonesia dengan tujuan untuk menciptakan keseimbangan kuantitas antara muslim dan Kristen; 2) Indonesia merupakan negeri muslim yang paling luas wilayahnya, maka untuk menghancurkannya, pihak Barat kemudian berperan aktif dalam proses lepasnya Timor Timur dari Indonesia; pihah Barat juga membantu Republik Maluku Selatan (RMS), Gerakan Aceh Merdeka (OPM), dan jika gerakan separatis ini berhasil, Indonesia akan menjadi negeri kecil yang lemah; 3) Indonesia merupakan negeri muslim yang terkaya hasil alamnya, maka untuk menggerogotinya, perusahaan Barat mengeruk secara berlebihan sumber daya alam Indonesia, misalnya perusahan minyak Amerika Exon Mobile, Caltex, Mobil Oil; 4) Indonesia adalah negeri muslim yang paling strategis letak geografisnya, maka pihak Barat selalu menghalangi segala perkembangan di Indonesia. Contoh kasus Batam, dimana  Barat selalu menghalangi usaha pemerintah Indonesia untuk menjadikan Batam sebagai pusat bisnis di Asia Tenggara, bahkan Singapura turut meniupkan issu tak sedap bahwa Indonesia merupakan sarang teroris; dan 5) Indonesia merupakan negeri muslim yang paling demokratis, sehingga dakwah Islam bisa berjalan lancar, maka untuk menyaingi amar ma’ruf dan nahi munkar, pihak Barat melakukan yang sebaliknya, yaitu menjadi amar munkar dan nahi ma’ruf

 

Hitam putihnya FPI

Kemunculan FPI, oleh Taufik Abdullah dibuat perumpamaan[4], terkait dengan kondisi paska  reformasi, yaitu mengutip dongeng Yunani tentang ”Kotak Pandora”. Artinya, ketika kotak terbuka, maka.beterbanganlah segala macam penyakit. Demikian juga, begitu presiden Suharto meletakkan jabatan, segala unsur konflik di tanah air segera tampil ke permukaan, dan krisis multi dimensional pun sampai kini masih terus berlanjut. Unsur-unsur disintegrasi sosial yang selama ini menutup, seakan-akan dengan serentak menyeruak ke permukaan. Saat itulah FPI dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 1998 di Jakarta, sebagai tempat berkumpulnya semua etnis dan lapisan masyarakat dari berbagai sosial ekonomi yang paling mapan sampai yang terpinggirkan, mereka menempati pemukiman kumuh. Menurut Abdul Mutholib[5] kebanyakan anggota FPI adalah bagian dari kelompok pengangguran dan kelas menengah ke bawah, mereka adalah masyarakat yang paling sedikit menikmati kueh pembangunan; tinggal di pemukiman kumuh yang sempit, tak memenuhi standar kesehatan dan bergulat dalam usaha memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Mereka bermukim di kawasan padat penduduk, seperti Koja, Petamburan, Tanah Abang., Pasar Minggu, dan Kemang.

 

Memang pada awal berdirinya, untuk mencari pengikut baru, FPI bersandar pada rekrutmen anggota yang berasal dari peserta pengajian, jama’ah masjid, ataupun santri di pondok pesantren yang dikelola oleh tokoh FPI.  Ibarat sebuah mesjid, siapaun yang datang ke mesjid itulah jamaah masjid, tetapi dalam perkembangan berikutnya untuk masuk menjadi anggota FPI harus melalui seleksi yang ketat, yaitu melalui interviu, dengan persyaratan mampu membaca Al Qur’an, telah berumur 15 tahun, dan harus mendapat izin orangtua, setiap anggota akan mendapat kartu identitas FPI[6]. Diprediksi, sejak November 2002, DPP menilai, selama 4 tahun perjalana FPI, terutama laskar telah banyak disusupi oleh kepentingan dan oknum luar, sehingga sering kali aksi-aksi FPI berada di luar koridor dan kontrol pengurus. DPP yakin, ada penyusupan untuk merusak citra FPI. Berdasarkan realita tersebut, DPP mengambil kebijakan yang lebih selektif dalam proses rekrutmen. Pada awalnya DPP mengklaim sampai November 2002, FPI memiliki 7 juta laskar di seluruh Indonesia, namun paska pembekuan DPD, dan dilakukan rekrutmen ulang jumlahnya berkurang drastis. Dalam proses ekspansi anggota, FPI memanfaatkan jaringan anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia, aktivitas individual anggota diarahkan untuk memperluas jaringan..

 

Dalam perkembangannya, tidak bisa disangkal lagi, bahwa ada politisasi secara internal dalam tubuh FPI o1eh anggotanya sendiri yang tidak bertanggung jawab, yaitu terjadinya friksi antara kelompok hitam dan kelompok putih dalam keanggotaan FPI[7]. Kelompok hitam, yaitu kelompok yang mengitari Habib Rizieq yang telah disusupi oleh intel, hal ini diketahui ketika beberapa orang pengikiut FPI yang ditangkap polisi, diinterogasi oleh orang-orang yang  ikut pengajian dan tablig FPI, dan ternyata mereka adalah intel polisi  yang menyusup ke tubuh FPI. Kelompok putih, adalah kelompok yang benar-benar berjuang untuk FPI  dan yang membesarkan FPI bersama-sama Habib Rizieq. Dua kelompok tersebut, ada pula pada para pelaku amar ma’ruf dan nahi munkar, yaitu mereka yang ikhlas lillahi ta’ala, berjuang dalam aksi yang dilakukan FPI tanpa pamrih, ia berani menanggung  resiko aksi, misalnya rela meninggalkan pekerjaan, mereka ini masuk kelompok putih. Adapun mereka yang pura-pura karena Allah, dan menjadikan motif-motif ekonomi sebagai tujuan utama, mereka masuk katagori kelompok hitam. Indikasi adanya kelompok hitam ini dari upaya membocorkan rencana aksi FPI ke target sasaran, hanya sekedar menerima imbalan ekonomi. Fauzi, salah seorang tokoh FPI memberi contoh oknum dalam kepengurusan FPI, dimana dua kelompok tersebut berseteru secara diam-diam dan tidak diketahui siapa yang memulai, dan yang lebih banyak tersingkirkan adalah aktivis putih. Indikator-indikator  ini digunakan secara individual  untuk menilai sesama aktiivis FPI, ketika terjadi kebocoran rencana aksi yang berakibat timbulnya kcurigaan satu sama lain.

 

FPI dan  radikalisme

Kelahiran FPI di sekitar fase reformasi politik di Indonesia, lebih tepat lagi jika dipahami dalam konteks reaksi terhadap negara yang sedang lemah, baik oleh serbuan kapitalisme global maupun karena ambruknya Orde Baru, dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. Di sisi lain, pengalaman politik Orde Baru masa silam yang represif dan cenderung tidak menghormati hak asasi manusia, telah meninggalkan duka dan kekecewaan yang mendalam di hati umat Islam. Sulit untuk di sangkal, bahwa kelompok yang menjadi korban politik Orde Baru tersebut sebagian besar kalangan umat Islam. Kemudian, di samping asfek historis tersebut di atas, realitas sosial juga memberikan konstribusi penting dalam melahirkan FPI, antara lain keberadaan. premanisme, perjudian, pelacuran, pornografi, dan segala bentuk kemungkaran yang dilarang agama terus berkembang bebas tanpa kontrol yang berarti dari aparat penegak hukum. Tampaknya pusat-pusat perjudian, pelacuran, dan hiburan adalah milik para investor dengan tidak mempertimbangkan dampak yang diakibatkannya terhadap masyarakat, mereka diuntungkan oleh mekanisme pasar yang semakin terbuka, dimana legalitas hukum dari Pemerintah Daerah merupakan senjata utama untuk mengelak dari penolakan masyarakat. FPI melihat bahwa  ada strategi pihak Barat untuk menghacurkan Islam di Indoneisa, yaitu dengan melakukan Amerikanisassi, mulai dari aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Sementara, Amerika dan sekutunya telah merekrut sebanyak-banyaknya muslim Indonesai agar belajar di negara-negara Barat untuk dicuci otaknya, dan di sisi lain di Indonesia sendiri, pihak Barat telah banyak mensuplai VCD porno, mesin judi, narkoba, dan minuman keras. Perasaan senasib inilah yang telah memperkuat ikatan emosional dalam komunitas yang terkadang terekspesikan dalam bentuk anti Barat  atau anti Amerika.

 

Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas, Fron Pembela Islam (FPI) telah mengusung misi, bahwa harus ada gerakan yang berani melawan prkatek-prkatek kemunkaran dan kemaksiatan secara prontal. Dari namanya sendiri, Front berarti berada di garis paling depan, sedangkan Pembela, artinya usaha pembelaan terhadap Islam sebagai agama dan  umat dari hal-hal yang munkar dan maksiat. Karena itu, kegiatan FPI yang paling penting bukan pengembangan ekonomi atau intelektual umat, tetapi reaksi fisik secara prontal tanpa kompromi dalam memberangus tempat-tempat kemunkaran dan kemaksiatan. Inilah warna gerakan FPI, dimana pihak-pihak yang tidak suka, memanggilnya ”kelompok radikal”. [8] Istilah ini juga yang dipakai oleh penulis, sebagai pengganti kata-kata fundamentalis atau militanisme, yang dituduhkan Barat kepada kelompok ini. Menurut Kartodirjo, bahwa radikalisme ditandai dengan penolakan secara menyeluruh tertib sosial yang sedang berkaku, hanya karena kejengkelan moral yang kuat terhadap kaum yang memilikii hak-hak istimewa dan berkuasa[9]. Dalam hal ini, pemahaman radikalisme FPI Andri Rosadi diletakkan dalam konteks gerakan perlawanan kaum agama untuk mengurangi ataupun menolak berbagai pelanggaran yang terjadi di masyarakat terhadap nilai-nilai agama. Sasaran gerakan tersebut adalah kebijakan negara dan penetrasi kapitalisme global. Ikatan kebersamaan yang dibangun dalam komunitas FPI ini lebih bersifat emosional yang bersumber dari ikatan kesatuan agama.

 

Semboyan yang digunakan FPI dalam renah perjuangannya mengadopsi dari kata-kata terakhir Sayyid Qutb (tokoh Ihwanul Muslimin), sebelum ajal menjemput di tiang gantungan di era Presiden Jamal Abdul Nasser: ”hidup mulia atau mati syahid”. Kalimat ini mengandung pengertian, hanya orang mulia yang menginginkan mati syahid, dan juga kesyahidan hanya bisa dicapai oleh orang yang hidupnya mulia. FPI memaknainya dengan sebuah motto: ”kebenaran tanpa sistem akan dikalahkan oleh kebatilan yang memiliki sistem”. Belajar dari sejarah, FPI kemudian berusaha menjadikan organisasi ini menjadi lebih solid, mereka menyadari sepenuhnya bahwa hanya dengan sistem yang baik, perjuangan bisa dicapai, visi dan misi bisa diraih dan diwujudkan. Berkaitan dengan itu, FPI mengurai motto tersebut dalam sebuah ungkapan: ”bagi mujahid, difitnah itu biasa, dibunuh berarti syahid, dipenjara berarti uzlah (menyepi),  diusir berarti tamasya. Tekad FPI sepertinya, apa pun risiko yang dihadapi, bukanlah halangan yang berarti untuk terus berjuang. Strategi untuk membangun militansi anggotanya, dituangkan dalam 5 doktrin FPI, yakni: 1) mengikhlaskan diri; 2) memulai dari diri sendiri; 3) kebenaran harus ditegakkan; 4) setiap orang pasti akan mati; dan 5) menjadi mujahid di atas para musuhnya. Doktrin FPI tersebut terlihat pada  visi dan misi organisasi, yaitu  Amr Ma’ruf dan Nahi Munkar, artinya menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar adalah satu-satunya solusi untuk menghindari kezaliman dan kemunkaran, dan menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar harus dilakukan bersifat kaffah (kompehensip).

 

FPI memanai amar ma’ruf nahi munkar?

Konsep amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan dua konsep utama dalam gerakan FPI. Apa pun yang mereka lakukan berupa kegiatan pengajian atau aksi di jalanan, tidak bisa dilepaskan dari dua konsep ini. Katagori perbuatan ma’ruf dan munkar yang FPI definisikan, selain bidang agama. mencakup  bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya, Khusus  mengenai kemunkaran, katagori di atas masih bisa diklarifikasikan ke dalam beberapa katagori yang lebih besar, yaitu: Pertama: katagori penyakit masyarakat (kemaksiatan), diantaranya, premanisme, minuman keras, perjudian, pelacuran, narkoba, pornografi dan pornoaksi; Kdua: katagori penyimpangan agama, di antaranya: pelecehan agama, praktek perdukunan, penyimpangan aqidah, pemurtadan, sekularisme, pluralisme, ketidak pedulian pada agama dan umat Islam, serta penolakan   apliksi syariat; Ketiga: katagori ketidak adilan dan kezaliman, di antaranya: penculikan aktivis FPI dan fitnah; Keempat: kategori sistem non-Islam, yaitu: nation state, ekonomi sosialis/kapitalis. Kategori-kategori di atas merupakan wacana utama yang berkembang dalam FPI. Oleh karena itu, fokus FPI lebih pada aksi langsung memberantas kemaksiatan, karena dalam pikiran mereka kategori munkar jauh lebih dominan di banding ma’ruf, yang memiliki aplikasi sosial yangsangat luas, dan bukan perbuatan pribadi.

 

 Logika-logika di FPI dalam mengklarifiksikan perbuatan terbagi dua, yaitu ma’ruf dan munkar; sebagaimana dalam kehidupan manusia juga ada dua, yaitu dunia dan akhirat; lalu reward juga ada dua, yaitu reward berkah di dunia dan surga di akhirat, atau bencana di dunia dan neraka di akhirat. Lalu bagaimana dengan orang lain yang melakukan kemungkaran, menurut FPI menolong saudara yang dizalimi adalah hal yang wajar, dan menolong orang yang berbuat zalim juga priotitas dengan jalan mencegahnya dari perbuatan zalim. Sebagai makhluk sosial, maka perbuatan manusia juga memiliki impliksi sosial, contoh hadist Nabi jika seseorang melakukan hubungan seks di luar nikah, dan itu diketahui oleh warga, maka jika warga tidak berusaha mengingatkannya, maka  dalam radius 40 rumah dari lokasi, seluruh warga di sekitarnya tidak akan mendapat barkah dari Allah, tanpa memandang melakukan atau tidak. Atas dasar itu, maka  muncul kewajiban kolektif, bahwa perbuatan tersebut tidak  dipandang sebagai kewajiban individu tetapi fardu kipayah atau kewajiban masyarakat. Habib Rizieq mencontohkan peristiwa Tsunami di Aceh, karena tidak ada nahi munkar, saat ulama dibunuh, tengku di bunuh, terjadi pemerkosaan, maka Allah menurunkan azab Tsunami. Lantas bagaimna metode aksi untuk menolak atau memberantas kemunkaran tersebut, berarti hal ini masuk ke dalam katagori: amar ma’ruf dan  nahi munkar.

 

Habib Rizieq memaknai ayat-ayat amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai kewajiban setiap muslim. Lantas bagaimana pelaksanannya?. Realitas menunjukkan bahwa lokasi pelacuran, pusat perjudian dan narkoba, pusat hiburan malam, dan lokasi maksiat lainnya selalu dijaga ketat oleh preman, bahkan diprediksi aparat keamanan. Jika aksi amar ma’ruf nahi munkar ingin diterapkan, maka aksi dan gerakan amar ma’ruf dan nahi munkar tidak bisa dihindari, atau dengan kata lain harus menggunakan kekarasan. Habib Rizieq juga menyadari bahwa penegakkan ma’ruf dan nahi munkar tidak mungkin dilakukian tanpa jalan kekerasan. Lalu pada sisi lain Al Qur’an dan Nabi menganjurkan agar dakwah dilakukan dengan santun dan persuasif ( An-Nahl:125). Berkenaan dengan itu, Habib Rizieq punya argumentasi lain dalam menafsirkan ayat tersebut dengan kaidah hukum: Ma La Yatimmu al Wajibu Illa Bihi Fahuwa Wajib. Habib Rizieq memaknainya, bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar adalah suatu  kewajiban, semenara realitas sosial menunjukkan bahwa  proses penegakkannya tidak mungkin  terlaksana dengan baik kecuali dengan kekerasan. Maka, dalam kondisi ini, kekerasan juga merupkan suatu kewajiban, sebab penegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar tak mungkin terlaksana tanpa kekerasan tersebut. Inilah logika keyakinan yang dipakai Habib Rizieq, yang kemudian dipakai sebagai logika agama dalam setiap aksi gerakan FPI.

 

Komplesknya masalah kemaksiatan di mata FPI, mengharuskan adanya tindakan langsung dengan tangan, atas dasar pijakan syar’i dari perintah Nabi saw. tentang metode amar ma’ruf  dan nahi munkar dengan tangan (Bilyadi), jika tidak mampu dengan mulut, jika tidak mampu dengan hati. Inilah akar anarkisme dalam setiap aksi FPI.  Menengok ke belakang dalam sejarah Islam, bahwa aksi pembasmian lokasi maksiat pernah juga dilakukan oleh Ibnu Taimiyah dengan pengikutnya, mereka menghancurkan warung-warung yang menjual minuman keras, dan aksi Ibnu Taimiyah ini dikutip dengan baik dalam sebuah rekaman FPI. Dalam pelaksanaan nahi munkar tentu banyak sekali tantangan, jika dilihat dari lokasi-lokasi yang menjadi pusat kemungkaran, bahwa di setiap lokasi pelacuran, perjudian, dan hiburan malam, selalu ada penjagaan ketat dari para sindikat preman. Konsekuensinya, adalah bahwa aksi-aksi yang dilakukan FPI sering berakhir konflik dengan para preman tersebut. Misalnya ketika laskar FPI menyerang tanah bongkaran di Tanah Abang yang dijadikan lokasi pelacuran, yang terjadi adalah konflik terbuka antara FP dengan para preman, dan tidak pelak lagi banyak anggota laskar yang babak belur. Konflik FPI dengan preman terjadi juga, ketika FPI menyerang tempat perjudian di kawasan Senen, dan penyerangan ke lokasi pelacuran di Kali Jodoh.Dalam peristiwa ini, beberapa orang anggota laskar FPI menjadi korban bacokan para preman. Dalam peristiwa Ketapang laskar FPI bergabung dengan preman muslim Ambon, melawan komplotan preman dari Ambon Kristen.

 

Islam sebuah solusi

Syariat Islam di mata FPI adalah solusi yang akan menyelesaikan segala permasalahan di Indonesia. Dalam hal ini, Andri Rosadi mengutip pendapat Boland[10], bahwa sejak merdeka hingga awal Orde Baru, telah terjadi tiga kekecewaan umat Islam. Pertama, terjadi pada tahun 1945 ketika Sukarno dan kawan-kawannya tidak setuju dengan Islam sebagai dasar negara; Kedua, terjadi ketika dalam pemilu 1955, partai Islam gagal meraih suara terbanyak, hanya 43, 5 persen. Ketiga, tejadi pada tahun 1967 ketika pemerintah Orde Baru menolak untuk merehabilitsi Masyumi; Keempat, terjadi tahun 1968 ketika pemerintah Orde Baru menolak untuk menerima Piagam Jakarta sebagai pembukan UUD 1945. Jalan satu-satunya menurut FPI adalah usaha untuk kembali ke Piagam Jakarta merupakan refleksi dari kekecewaan tersebut, yang tidak hanya kekalahan politik semata tetapi kekalahan syariat,  Taufik Abdullah menyebutnya sabagai politik anti Islam.  Kebijakan politik tersebut  di atas, menyebabkan Islam semakin terpuruk. Kata Daniel S. Lev, bahwa cara Orde Baru tersebut telah memperlakukan Islam relatif mirip dengan cara pemerintah kolonial, bahkan Wertheim lebih tegas lagi mengatakan bahwa pemrintah Orde Baru saat itiu tidak lebih dari Neo Kolonialis, penerus kebijkan Snouck Hurgronye dengan sasaran tembak untuk melemahkan setiap pengaruh politik Islam.

 

Dalam kerangka tegaknya syariat Islam ini, amar ma’ruf dan nahi munkar akan berjalan lancar, sehinga problem sosial ekonomi bisa diselesaikan, diantaranya adalah agar pemerintah kembali ke Piagam Jakarta . Hal ini Habib Rizieq  serukan, ketika berpidato di depan massa FPI pada Milad ke 2 FPI, apa katanya: ”Jika perjuangan menegakkan syariat Islam di Inodonsia dianggap teroris, memang iya saya teroris”. Juga semangat ini terinspirasikan pada ulang tahun FPI ke 5 Agustus 2003,  dimana ribuan anggota FPI dengan berpakaian serba putih berpawai memadati jalan-jalan di Jakarta, mengusung pesan: ”Pawai Hukum Allah”. Di dalam upaya mengusung gagasan diberlakukannya syariat Islam di Indonesia, Habib Rizieq melakukan pendekatan kepada  partai-partai Islam, ia menganjurkan para pengikutnya agar dalam pemilu memilih partai Islam, apa pun partai  Islamnya, tapi jangan memilih partai yang katanya di situ banyak orang Islamnya. Namun lagi-lagi FPI mengalami kekecewaan, karena partai Islam yang telah didukungnya menolak untuk menerima aspirasi mereka di DPR, bahkan sekedar untuk berjumpa dan mendengarkan orasi mereka. Belajar dari kasus pemilu tersebut, muncul perubahan orientasi politik FPI, tidak lagi berorientasi pada partai Islam, tetapi politik Islam, yang berbasis pada pengembangan nilai dan norma Islam, yang penting intinya sama dengan amar ma’ruf nahi munkar.

 

Perubahan Paradigma FPI

Perubahan tersebut terjadi dalam paradigma pemikiran para tokoh FPI., misalnya aksi FPI tidak lagi mengusung identitas Islam, tetapi lebih mengedepankan nilai-nilai Pancasila. Jika FPI menentang miras, pelacuran, perjudian, dan pornografi, maka aksi itu bukan hanya didasarkan pada perintah syari’at Islam, tetapi juga merupakan  bagian dari pengamalan nilai-nilai Pancasila, Ketika FPI  membuat proposal bantuan dana untuk acara bakti sosial dengan anak yatim piatu, dalam proposal itu dipakai istilah Program Tebar Kasih, tanpa ada identifikasi  secara jelas  simbol-simbol keislaman, karena Islam bertujuan menebarkan kasih. Pandangan terhadap negara, FPI kata Saefuddin[11] secara tegas tidak ada niat untuk mendirikan negara Islam, sebab itu tidak realistis.lagi  Hanya saja menurut Andri Rosadi ada suatu realita yang kurang disadari oleh FPI, yaitu ketika terjadi perubahan dalam strategi dan intensitas aksi, sebenarnya juga telah terjadi kompromi dengan aspek teologi. Sebelumnya, mereka telah memutuskan bahwa nahi munkar itu merupakan kewajiban setiap muslim. Namun, dalam perkembangan terakhir, mereka tidak lebih kompromistis dengan kemungkaran tersebut. Artinya, pada saat yang bersamaan, mereka telah mengabaikan perintah agama yang sebelumnya mereka pahami sebagai kewajiban. Ketika FPI semakin berkompromi dengan kemungkaran yang sebelumnya mereka tolak, sebenarnya FPI telah kehilangan ciri khasnya, dan tidak berbeda dengan organisasi keagamaan lainnya.

 

Perubahan lain terjadi pada strategi amar ma’ruf nahi munkar, yang pada awal berdirinya FPI menggunakan cara konfrontatif, dan dalam prakteknya cara ini mengakibatkan terjadinya konflik horizontal, sebab masyarakat sekitar ada yang membela lokasi yang dianggap FPI sarang maksiat. Kata Hidayat[12], di Jakarta Utara FPI terjadi bentrok dengan warga sekitar ketika melakukan razia minuman keras; di Tanah Abang juga demikian masyarakat bergabung dengan preman membela lokasi bongkaran sebagai pusat maksiat; juga di Senen FPI bentrok dengan warga. Belajar dari pengalaman tersebut, strategi berubah dengan mempertimbangkan faktor dukungan masyarakat, artinya FPI tidak mungkin menyerang kecuali setelah ada laporan dari warga. Dalam kasus Jaringan Islam Liberal (JIL) di Utan kayu, misalnya FPI memprovokasi warga sekitar melalui para tokoh agama dan pengurus masjid agar menolak JIL, maka muncullah spaduk besar dekat kantor JIL yang mengatasnamakan  umat Islam Utan Kayu yang berisikan tuntutan penutupan JIL. Sehubungan dengan itu, periodisasi perjalanan sejarah FPI bisa dibagi secara global ke dalam dua periode: yaitu, 5 tahun pertama dari 1998 hingga 2003, yang disebut oleh Habib Rizieq sebagai periode kebangkitan; dan 2004 hingga sekarang disebut sebagai periode konsolidasi. Periode kebangkitan, terjadi lebih dari 20 kali aksi kekerasan, disertai 7 kali aksi demonstrasi, sementara periode konsolidasi hanya beberapa kali aksi kekerasan. Pada periode terakhir ini, FPI bertindak memberantas kemaksiatan kalau ada  pengaduan dari masyarakat.

 

Perubahan-perubahahan strategi disebabkan banyak hal, sejak awal berdirinya hingga saat ini, telah banyak anggota FPI yang terkena proses hukum, bahkan  dipenjara, termasuk ketua umumnya Habib Rizieq. Pengalaman ini membuat FPI memikirkan kembali model aksi dan strategi gerakan mereka, di tengah kuatnya militansi memberantas kemaksiatan, ada ketakutan dalam hati mereka jika ditangkap polisi.  Implikasi negatif  lain dari aksi-aksi FPI adalah terjadinya polarisasi internal dan eksternal di tubuh FPI. Politisasi internal berupa dijadikannya FPI sebagai alat untuk memperkaya diri oleh beberapa oknum pengurus dan anggota. Menurut Fauzi, ia pernah menangkap basah seseorang yang mengutif uang dari sebuah hotel dengan mengatasnamakan FPI. Padahal FPI secara organisasi tidak pernah mengutusnya untuk mencari dana tersebut. Berkaitan dengan politisasi eksternal, strategi aksi FPI yang sering menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran pada sasaran operasi telah dimanfaatkan dengan baik oleh beberapa oknum polisi  dengan alasan keamanan. Misalnya isu penyerangan laskar FPI terhadap kantor JIL, telah dimanfaatkan beberapa oknum polisi untuk mengutip uang keamanan pada JIL, jika mereka ingin aman dari serangan FPI.

Catatan akhir

Andri Rosadi melalui tesisnya berupaya untuk meyakinkan para pemirsa, bahwa keberadan FPI tidak seperti pemberitaan miring media televisi, seolah-olah FPI adalah kelompok hitam yang radikal, premanisme, dan julukan lain sejenis, tanpa mengangkat akar permasalahan kenapa FPI berbuat anarkis. Sudah barang tentu keberanian Andi Rosadi mengangkat berita FPI ini, sudah dipersiapkan sebelumnyaa dengan segudang data aktual  yang secara akademis telah teruji keabsahannya di depan para pengujinya. Sangat berbeda dengan berita surat kabar, atau berita di televisi atau data inelejen sekalipun yang jauh dari keakuratannya, kadang britanya suka dipelintir. Andri Rosadi mencontohkan, ketika FPI menyerang lokasi perjudian terjadi perkelahian dengan kelompok preman, namun media memelintir pembritaanya bahwa FPI memukul anggota masyarakat. Tidak heran kalau buku ini laku di pasaran, para pemburu berita FPI kehabisan stok di toko-toko buku, konon pihak penebit Nur Publoisher Jl. Ampera Raya setelah penulis hubungi sudah mendapat izin dari Andri Rosadi yang sedang menyelesaikan S3 nya di London,  tepatnya Institut for the  Studi of Muslim Civilizations (ISMC), untuk melakukan cetak ulang edisi cetakan ke 2 sebanyak 50 000 eksemplar (cetakan pertama, 1 Julin 2008).

 

Di sayangkan, Andri Rosadi kurang lengkap menjelaskan alasan memilihan hitam putih,  sekilas ada yang memaknai bahwa FFI itu penuh dengan Hitam tetapi juga ada putihnya. Padahal Andri Rosadi dalamkmmemgungkap keberadan organisi ini, ia memaparkan data dan faklta FPI penuh dengan hal posotif daripaa negatifnya atau dengan kata lain lebih banyak putihnya daripda hitamnya Disini Andri Rosadi tidak menjelaskan secara rinci apa maksud hitam dan putih itu, hanya penjelasan singkat dikupas sebanyak dua paragrap pada halaman 114 dan 115, yaitu ketika menjelakan  Friksi dan Inrik di FPI, padahal kata-kata hitam putih itu diangkat menjadi hadline buku ini. etelah dibaca secara cermat yang diamksud oleh Andri Rosadi hitam putih itu julukan yang diberikan kepada anggota FPI. Putih, yaitu anggota FPI yang berjuang di FPI dengan tulus ikhlas tanpa pamrih, sampai-sampai mereka berani berkorban meninggalkan pekerjaanya dan keluarganya berangkat ke Aceh menolong korban Tsunami. Hitam, yaitu anggota baru FPI yang menyusup ke tubuh FP untuk menghancurkan FGPI dari dalam, seperti dicontohkan,  seorang intel polisi yang pura-pura ke FPI, mengikuti kegiatan FPI termasuk jama’ah pengajian FPI, ternyata tersingkap rahasia setela anggota FPI ditangkapi polisi oleh polisi yang mengikuti pengajian tersebut. Dalam peristiwa ini disikapi Andri Rosadi mengingatkan pemirsa pemimpin organisasi keagamaan mewaspadai penyusupan kelompok hitam yang akan menghancurka organisasi dari dalam. Menurut hemat penulis, bagimana kalau penulis mengusulkan jika hadline bagian pertama buku ini diangkat sebagai judul kaper muka, yaitu: ”Bom Waktu  itu  Bernama FPI”.

 

Andri Rosdi menilai FPI, organisasi Islam pasca reformasi yang  berbeda dengan organisasi Islam yang ada sebelumnya, konsisten dengan visi dan misinya: ” amar ma’ruf dan nahi munkar. FPI memaknainya harus dengan kekerasan, mengacu kepada Hadist Nabi: ”Bilyadi”. Di sini Andri Rosadi, dalam pema’naan Bilyadi hanya melihat dari sisi pemahaman FPI, padahal ada sisi lain yang mema’nai erbeda wlaupun sama-sama Suni, misalnya Bilyadi dimaknai dengan kekuasan, artinya dakwah amar ma’ruf an nahi munkar itu tidak hanya di lapangan terbuka, tetapi juga di panggung pilitik, apakah sebagai pejabat ekssekutif, legislatif maupun yudikatif. Dalam buku ini Andri Roadi juga tidak menjelaskan, bahwa keberanian  anggota FPI dalam menegakkan amar ma’run dan nahi munkar, melawan kelompk preman, menghancurkan tempat-tempat perjudiann dan tempat pelacuran, serta diskotik, ternyata orang-orang yang ada di FPI sebagiannya jug para mantan premn, mantan penjudi dan peminum, hanya saja  mereka menyatakan bertaubat dibawah Habib Rizieq, bergabung di FPI, mendapat bimbingan agama, shalat berjama’ah  dan hadir di pengajian., serta ikut  aksi di jalanan menyuarakan amar ma’ruf dan nahi munkar, berbeda dari sebelumnya yang menyurakan amar munkar dan nahi ma’ruf.

 

 Andri Rosadi juga telah menengarai pendapat  M. Imdadun Rahmat dalam bukunya  ”Arus Baru Islam Radikal” yang telah mensejajarkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS),  Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Majlis Mujahidin Indonesia (MMI) dengn Fron Pembela Islam (FPI) sebagai kelompok  berhaluan puritan, memiliki karakter yang militan, radikal, skripturalis, konservatif, dan eksklusif. Andri Rosadi dalam bukunya halman 26 dan 27 lebkih rinci menjelaskan bahwa dalam hal nahi munkar, FPI tampil lebih garang ketimbang PKS dan HTI yang paling banter hanya melakukan mobilitas massa untuk aksi damai di jalanan protoko Ibu kota. FPI tampil lebih berani dengan mengobrak-abrik dikotik dan tempat perjudian di Jakarta dan sekitarnya.sebagai aktor Gerakan Baru Islam ( news Islamic kmovenmeat)  atau sebagai Gerakan Kebanhktan Ilam ( Islam Rivavilisme). Namun sekas-kerasnya aksi fisik FPI tidak sejauh Laskar Jibhad (LJ) dan Laskar Jadullah yang ampai terjun bertarung di gekanggang konflik Ambon dan Poso.FPI tidak seeksrim empalan Jama’ah Islamiyah yang mengelar aksi pengeboman liar di dmbarang emoat sipil eperti sejunmloah gereja tahun 2000, Bali tahun 2002 an 2005, dan Hoel JW Marriot tahun 2003 an kuninan tahun 2004. Aksu kekerasan FI  paling bater menyerang tempat-tempat hibuan kota-kota besar khusunya Jakarta yang dinilai sarang maksiat.

 

Habib Rizieq Sihab berdasarkan penelitian Andri Roasi beraliran Syafi’i dan Sunni, demikian ini dinyatakan secara jelas Rizieq Sihab ketika menulis namanya: al Habib Muhammad Rizieq bin Husain Syihab Ba’alawi al Husaini al Syafii al Sunni. Disini jelas bagaimana ia mengidentifiksikan dirinya dengan mazhab Syafii dan aliran sunni Ahlu Sunnah wal Jamaah yang disingkat aswaja. Tetapi keika ditanya mengenai khutbah hari raya yang ia selenggarakan yang hanya satu kali khutbah saja, ia menjawab itu kan masalah khilafiah, dan biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masalah firqoh di tubuh FPI ini, Andri Rosadi berkomentar, bahwa ciri khas  pengikut Sunni adalah selalu berpegang teguh kepada  Al Qur’an, hadist, ijma dan qiyas.. Namun dalam prakteknya, ada satu karakter aliran Sunni yang diabaikan oleh FPI, yaitu ketundukan pada penguasa. Aliran Sunni melarang adanya gerakan protes terhadap penguasa, apapun kondisinya, selama penguasa masih mendirikan shalat (hal 97). Statemen Andri Rosadi terkait dengan identitas faham Sunni, tidak didukung oleh sumber referensi, apakah benar apa yang dikemukannya itu, sedemikian lunaknya akidah Suni. Bagaimana kalau penguasa yang shalat itu mengabaikan kemunkaran merajalela di tenga masyarakat tanpa ada usaha pencegahan secara seriau bahkan disinyalir ditutup tutupi, lalu apa kewajiban seorang muslim kalau itu terjadi di negara tercinta ini. Nah dalam hal ini Andri Rosadi perlu memberi penjelasan kepada pemirsa, karena yang ada hanya ungkapan itu dua baris..

 

Selamat membaca pemorsa, buku yang cukup menarik untuk dikaji, walaupun disana sini perlu ada kelengkapan informasi, dan penjelasan lebih mendetil, atau didukung oleh refernsi yang cukup kuat, apalagi terkait dengan masalah hukum. Kalau tidak, mau dibawa kemana negeri ini kalau para pemuka agama hanya padai bersilat lidah demi kedudukan, atu ada anekdot asal Bapak senang (abs), tanpa memperkatikan kaidah-kaidah hukum Allah yang harus ditegakkan di muka bumi Indonsia ini. Mungkin itu secarik harapan  FPI sebagamna dilansir oleh Andri Rosadi dalam tesisinya, juga barangkali harapan kita semua, demi keutuhan kita, keluarga kita, msyarakat dan bangsa Indonesia, dalam rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Taala.  Amin.

 

SEKIAN DN TRRIMA KASIH

 

Jakarta, 6 Agustis 2009.

 

Endnotes

1.      Bahan bahasan bersumber dari karya Andri Rosadi, judul Hitam dan Putih FPI, Jakarta: Nur Publisher, 2003;

2.      Sebagai informasi pembanding, lihat tulisan M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal: transmisi revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia.-- Jakarta, Erlangga, 2005.

3.      Sumber informasi lain tentang FPI, lihat tulisan Adlin Sila pada halaman 151-178, buku karya editor Imam Thalkhah, Gerakan Keislaman Pasca Orde Baru: upaya merambah dimensi baru Islam.—Jakart: Badan  Litbang dan Diklat Keagamaan, 2005;

4.      Lihat juga, bacaan yang kontradiktifr dengan FPI, karya Abdul Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama: membangun toleransi berbasis Al Qur’an.—Jakarta: Pesona Khayangan Estate, 2008, halaman 18-39.

5.      Informaasi tambahan tentang dekrit Pesiden, Piagam Jakarta, dan Islam sebagai Dasar Negara, lihat hadline pertarungan ideologi, pemilu 1955 dan Islam  vs Pancasila, 1955-1959, Karya Ahmad Syafii Maarif, Islam dalam Keindonesiaan dan Kemanusiaan; sebuah refleksi sejarah.—Jakarta: Mizan Pustaka, 2009, halaman 135-148;

6.      Sebagai pelengkap kajian, lihat: http://www.fpi.or.id/, Fakta Sejarah Penegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar; Ayo Berjihad Harta Benda dan Jiwa; Sejarah 10 tahun Perjuangan FPI, Juli 2009;

7.      Lihat juga: mhtm:file://C:\Documents and Settings\user\My Deocuments\1, reviu Buku\Hitam putih: Bedah Buku  “ Hitam-Putih; Juli 2009;

8.      Lihat juga: Deconlabel is powered by WordPress. Entries (RSS) and Comments (RSS). Designed by Blog Oh Blog with some modificaTION:  Antara FPI, AKKBP & Ahmadiyah di Monas, 4 Juni 2008.

 

 



 

 

 

 

 



[1] Istilah Gerakan Islam Baru disampaikan oleh  M. Imdadun Rahmat, dalam tesisnya yang sudah diterbitkan dengan judul: Arus Baru Islam Radikal; transmisi revivalisme Islam Timur Tengah, Jakarta, Erlangga, 2005,  halaman 72..

[2] Sebenarnya awal bulan Noveber 2005, saya sudah mencoba untuk memulai proses awal masuk jantung FPI,  tiga kali saya datang ke rumah Habib Rizieq, namun selalu ditolak oleh orang yag mengaku diberi tugas untuk  menjaga rumahnya, dengan rambut cepak ala militer tanpa basa-basi, ia menanyakan apakah ada rekomenasi dari anggota FPI yang lain, saya katakan sejujurnya, tidak ada. Saya tidak diperkenankan masuk, kemudian memberinya nomor telpon  yang harus saya hubungi, jika ingin datang lagi.

[3] Ade Maulana, adalah salah seorang tokoh FPI yang sudah bertahun-tahun berjuang bersama-sama Habib Rizieq, dialah yang banyak memberikan informasi tentang kepribadian sosok Habib Rizieq, dan dia juga yang menginformasikan adanya kelompok Hitam dan Putih di tubuh FPI

[4] Taufik Abdullah, Pengantar Krisis Masa Kini dan Orde Baru., Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003,

[5] Abdul Muthalib, seorang tokoh laskar FPI, sehari-hari bekerja sebagai pedagang madu. Di samping itu, ia juga aktif berdakwah di Pasar Ciputat dan Citayam. Dalam setiap dakwahnya, ia selalu mengarahkan para jamaahnya agar msuk FPI. Contoh Dani Irawan, seorang simpatisan FPI yang tinggal di kawaan Kemang, mengaku bersimpati dan mendukung FPI setelah bergaul akrab dengan Ahmad Fauzi. Pada awalnya, keluarganya menolak dirinya aktif di FPI, tetapi setelah keluarganya mengikuti pengajian akbar FPI, sikap mereka berubah dan mendukung. (104)

[6] Yanto, Militan Islamic Movements in Indonesia South-East Asia, Jakarta: Friedrich-Ebart-stiftung (FES), 2003, halaman 49

[7] K.H. Ccep Bustami, salah seorang pendiri FPI yang menyatakan keluar, karena kecewa dengan sikap dan aksi FPI yang kurang keras. Ia kemudian mendirikan organisai baru, namanya Laskar Hisbullah, dengan warna seragam hitam, bertolak belakang dengan seragam FPI yang putih, lalu menjelekkan FPI pada pihak luar. (halaman 113).

[8] Imam Thalkhah (editor), Gerakan keislaman pasca rde Baru: upaya merambah dimensi baru Islam, Jakarta: Badan Litbang  Agama, 2005, halmn 158

[9] Kartodirjo,…….. (1984, halaman 38)

[10]  Bonan (halaman)

[11] Saefuddin

[12] Hidayat

 
Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Kajian Buku arrow HITAM PUTIH FRON PEMBELA ISLAM (FPI)