Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Membaca Sejarah Banten dari Sumber Asing Cetak E-mail

Review Buku “Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X - XVII” Karya Claude Guillot*)

 

Oleh Asep Saefullah

Peneliti Muda pada Puslitbang Lektur Keagamaan



*) Makalah disampaikan dalam Sidang Hasil Review Buku Keagamaan IV, Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Departemen Agama RI, Jakarta, Jum’at, 7 Agustus 2009.

Identitas Buku

Buku ini berjudul Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, merupakan kumpulan tulisan Claude Guillot yang diterjemahkan oleh Hendra Setiawan, dkk, dan diedit oleh Daniel Perret. Buku ini diterbitkan oleh Kelompok Penerbit Gramedia, Ecole francaise d’Extreme-Orient (EFEO), Forum Jakarta-Paris, dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional Jakarta, Desember 2008 (Cetakan Pertama). Jumlah halaman: 430 termasuk daftar pustaka dan indeks, dan ukuran: 16 x 24 cm.

 

Uraian Ringkas Isi Buku

Buku ini merupakan kumpulan tulisan Claude Guillot–sebagian bersama penulis lain—yang tersebar dalam berbagai jurnal/majalah, seperti Archipel, Indonesia, dan sejumlah buku bunga rampai yang diterbitkan antara tahun 1989 sampai 2006. Tulisan-tulisan tersebut umumnya berbahasa Perancis dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk keperluan penerbitan buku ini. Jumlah tulisan yang terdapat dalam buku ini sebanyak 15 buah. Secara umum, buku ini “membicarakan tiga topik utama, yaitu banten sebelum kedatangan Islam, komponen- komponen dari masyarakat Banten zaman Islam melalui tata perkotaan, perjuangan-perjuangan merebut kekuasaan dan terikatnya Banten pada dunia agraris, dan yang terakhir hubungan Banten dengan pihak-pihak asing” (Back Cover, dan lihat pula h. 12).

Sebagai informasi, Claude Guillot adalah peneliti asal Perancis yang pernah menjadi dosen bahasa Perancis di berbagai universitas di Mesir, Tanzania dan Indonesia. Disertasinya membahas perjuangan Kiai Sadrach dan masyarakat Kristen pertama di Desa Karangjoso (1981).[1]

Buku ini disusun menjadi tiga bagian, dan masing-masing bagian terdiri atas beberapa artikel. Ketiga bagian buku dimaksud adalah: 1) ‘Banten sebelum Islam’, 2) ‘Masyarakat dan Politik dalam Kesultanan Banten Tahun 1678’, dan 3) ‘Banten dan Dunia Asing’. Isi ringkas buku ini sebenarnya telah diramu oleh penulis sendiri dalam Prakata (h. 11-12), tetapi terasa terlalu ringkas. Untuk meringkaskan buku ini pun terdapat kesulitan karena sebagian tampaknya artikel berdiri sendiri-sendiri, misalnya pada bagian satu yang diberi judul “Banten sebelum Islam”, tetapi satu artikel menyajikan masa peralihan di Banten  dari zaman Pajajaran ke zaman Islam. Oleh karena itu, untuk kasus buku ini, sebelum kami memberikan beberapa catatan, kami sajikan tema-tema setiap artikel pada masing-masing bagian.

Bagian pertama yang menyajikan “Banten sebelum Islam” terdiri atas dua artikel. Artikel pertama membahas “Negeri Banten Girang”. Artikel ini ditulis oleh Guillot bersama Lukman Nurhakim dan Sonny Wibisono. Dalam artikel ini diuraikan sejarah kuno Banten sebelum kedatangan Islam, yang menyebutkan bahwa pusat ibu kotanya masih di Banten Girang, sepuluh kilometer dari Laut Jawa di hulu Sungai Cibanten (h. 12). Hal ini terungkap beradasarkan hasil penggalian arkeologi selama empat tahun (1988-1992) di situs Banten Girang (h. 16). Artikel ini memberikan simpulan bahwa dinasti Islam bukanlah pendiri Banten tetapi dinasti ini perebut kekuasaan dalam ‘negara’ yang telah memiliki sejarah yang panjang dalam perniagaan internasional. Sebuah simpulan yang harus dikritisi. Sedangkan artikel kedua membahas “Perjanjian Antara Portugis dan Sunda Tahun 1522 dan Masalahnya” (hal. 31-64). Artikel ini merupakan penafsiran atas sumber tertulis yang masih menjadi kendala bagi para sejawaran Indonesia karena menggunakan bahasa Portugis. Teks-teks lain di antaranya adalah catatan dua penulis kronik asal Portugis, Joao de Barros dan Diogo de Couto (h. 32-34).

Bagian kedua yang membahas ‘Masyarakat dan Politik dalam Kesultanan Banten Tahun 1678’ terdiri atas lima artikel, yaitu: 1) “Kebebasan Berusaha Melawan Ekonomi Terpimpin: Perang Saudara di Banten, 1580-1609 (h. 107-130), 2) “Orang-Orang Tionghoa Penghasil Gula di Kelapadua, Banten, Abad ke-17: Teks-Teks dan Peninggalan” (h. 131-154), 3) “Politik Produksi Pangan Sultan Ageng (1651-1682) (h. 155-200), 4) “Keseimbangan Sulit Antara Ambisi Politik dan Perkembangan Ekonomi: Perang dan Damai di Banten (Abad ke-16-ke-17) (h. 201-218), dan 5) “Pola Perkotaan dan Pemerintahan di Kota-Kota Perdagangan di Dunia Melayu (Abad ke-15-ke-17) (h. 219-240). Secara umum, bagian ini menguraikan “aspek-aspek sejarah kemasyarakatan dan peradaban Banten pada zaman Islam. Di sini dibahas aspek tata kota, orang Keling, orang Tionghoa penghasil gula, politik produksi pangan, serta perjuangan masyarakat Banten merebut kekuasaan.”[2]

Bagian ketiga menguraikan hubungan Banten dengan pihak asing dengan judul ”Banten dan Dunia Asing” (241-397). Bagian ini terdiri atas tujuh artikel, yaitu: 1) ”Banten dan Teluk Benggala pada Abad ke-16 dan ke-17”, 2) ”Orang Portugis dan Banten (1511-1682), 3) ”Seorang Pedagang Perancis di Pulau Jawa pada Abad ke-17: Jean-Baptiste de Guilhen, 1634-1709 (h. 291-350), 4) ”Seorang Pakar Pembangunan dari Abad ke-17 di Banten: Kiyai Ngabehi Cakradana” (h. 351-), 5) ”Semusim di Neraka: Scott di Banten, 1603-1605”, 6) ”Inskripsi Islam pada Meriam Ki Amuk” (), 7) ”Hidup dan Mati Sebuah Tempat Eksotis: Citra Banten dalam Kesusastraan Inggris, Prancis dan Belanda” (h. 385-397).  

Pada bagian ini terdapat ”cerita” tentang individu, misalnya kisah Kiyai Ngabehi Cakradana sebagai seorang ”arsitek” pembangunan dari abad ke-17 di Banten, yang namanya kerap disebut oleh para pendatang Eropa yang singgah dan berniaga di Banten pada masa itu (h. 351). Menurut penulis, dari berbagai sumber diketahui jika Kiyai Ngabehi Cakradana mengawali karirnya dari seorang “Touckan Bessi” (Tukang Besi) dan Syahbandar. Penulis juga mengatakan bahwa ternyata ia adalah seorang keturunan China yang beragama Islam (h. 353). Kemudian ”cerita” dua orang Eropa yang pernah tinggal di Banten, Jean-Baptiste de Guilhen seorang pedagang asal Perancis dan Scott, warga Inggris yang bertugas untuk kompeni Inggris di Hindia Timur dan tinggal di Banten selama dua tahun (1603-1605) (h. 364).

Bagian ketiga ini ditutup dengan tulisan mengenai citra Banten yang muncul dalam kesusastraan Inggris, Perancis dan Belanda. Misalnya dalam The Alchemist (1610) karya Ben Jonson, The Court of the King of Bantam (1689) karya Aphra Ben, La Princesse de Java (1739) karya Madeleine de Gomez, lalu Agon, Sulthan van Bantam (1769) karya Onno Zwier van Haren (h. 385-397).[3]

Selain dilengkapi dengan daftar pustaka, buku ini juga disertai dengan berbagai ilustrasi seperti poto-poto arca, naskah perjanjian Portugis dan Sunda tahun 1522, beberapa peta kuno, poto kuburan, mata uang Banten, gambar orang Banten dan Eropa, khususnya Portugis, poto meriam Ki Amuk, dan lain-lain. Sedangkan pada bagian paling akhir dilengkapi pula dengan indeks (h. 415-450).

Perlu disampaikan bahwa, menurut penulisnya, “Buku ini ditulis untuk mereka yang paling dekat dengan sejarah banten, yaitu orang Indonesia sendiri, dengan harapan perhatian pembaca akan dicurahkan untuk melengkapi dan mendalami sejarah Banten yang begitu kaya.” (Back cover). Sayangnya, sumber-sumber dari Banten sendiri kurang mendapatkan porsi yang layak dalam buku ini.

Melihat isi buku ini yang begitu padat, tentu banyak hal yang dapat diperoleh, terutama data-data yang berasal dari sumber asing. Akan tetapi, ada beberapa hal perlu ditinjau dan didiskusikan lebih lanjut terkait buku ini. Dalam makalah singkat ini, setidaknya ada tiga hal yang akan disoroti, yaitu: aspek metodologi, aspek substansi, dan aspek sumber rujukan yang digunakan penulis buku ini. Selain itu, akan disertakan pula apresiasi terhadap buku ini sebelum makalah ini ditutup.

 

Aspek Metodologi

Buku kumpulan tulisan ini dapat dikategorikan sebagai kumpulan hasil penelitian arkeologi sejarah. Penelitian arkeologi umumnya mengkaji benda-benda material tinggalan masa lalu, tetapi Guillot menggunakan beberapa sumber tertulis lainnya, seperti naskah perjanjian Portugis dengan Kerajaan Sunda (h. 35) serta beberapa surat yang ditulis oleh orang Portugis yang pernah melakukan ekspedisi ke Banten, antara lain Braos Bayao (1540) (h. 47) dan Francisco de Sa (10 September 1527) (h. 49). Sumber lain yang digunakan adalah peta kuno, inskripsi, arsip, dokumen, dan catatan ”pengalaman” orang Eropa yang pernah tinggal di Banten atau wilayah Nusantara lainnya, terutama Batavia (Jakarta sekarang).[4]

Pengungkapan sumber-sumber tersebut perlu diapresiasi sebagai kontribusi bagi rekonstruksi sejarah Banten, atau setidaknya untuk memperkaya data. Sayangnya, penulis tidak banyak membandingkan atau melengkapinya dengan sumber-sumber lokal atau sumber lainnya yang sezaman, misalnya surat-surat kesultanan Banten.[5] Apalagi cerita yang dikisahkan peroangan seperti seorang pedagang Perancis, Jean-Baptiste de Guilhen (h. 291-349) dan pegawai rendahan dari Inggris yang bertugas di Banten, Scott (h. 363-376). Cerita dari keduanya tentu memberikan informasi, tetapi harus diingat bahwa posisi sumber tersebut sama dengan sumber-sumber lain yang harus diverifikasi dan diuji kebenarannya berdasarkan metodologi sejarah yang disebut kritik sumber.[6] Tampaknya penulis sangat begitu yakin dengan sumber tersebut dan berusaha meyakinkan kepada pembaca bahwa sumber-sumber yang digunakannya tersebut meyakinkan.[7] Akan tetapi, sebagai seorang ilmuwan yang diharuskan menjaga amanah ilmiyah (kejujuran intelektual), kritik sumber tersebut tetap wajib dilakukan, sebab tanpa kritik sumber, analisis lebih lanjut tidak dapat dilakukan. Artinya, dengan meminjam kaidah usul fikih, ma la yatimmu al-wajib illa bihi fa huwa wajib, bahwa kritik sumber adalah sesuatu yang wajib dilakukan jika ingin menyempurnakan penafsiran atas data yang dikandung sumber tersebut.

Persoalan lain dari aspek metodologi yang harus dikritisi dari buku ini adalah penggunaan teori sebagai kerangka analisi. Dalam hampir semua artikelnya, penulis tidak menjelaskan teori apa yang akan digunakan untuk menganalisis temuannya. Padahal begitu banyak teori yang dapat mempertajam penafsirannya atas data yang ia kemukakan. Teori sosiologi, misalnya hal ini tidak digunakan untuk mengkaji kisah-kisah dari Scott, de Guilhen, dan lain-lain seperti yang dilakukan oleh Joel L. Kraemer ketika mengungkap hiruk pikuk kehidupan Baghdad abad ke-10 dan ke-11 M.[8] Belum lagi hermeneutika dan semiotika, misalnya mengapa Scott menulis kronik tersebut dan apa motivasinya. Mestinya, orang sekaliber Guillot tidak meninggalkan hal-hal elementer tersebut. Oleh karena itu, tulisannya menjadi kering dan perlu dilengkapi dengan sumber-sumber lokal dan dianalisis dengan menggunakan teori yang relevan, sosiologi, antropologi, atau yang lainnya, setidaknya sebagaimana Kraemer melakukannya.

Jika melihat buku ini sebagai kumpulan karangan, sesungguhnya buku ini dapat dibandingkan, setidaknya dengan dua penulis Indonesia, yaitu Hasan Mu’arif Ambary (alm) dan Azyumardi Azra. Buku Menemukan Peradaban, Jejak-Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia,[9] kumpulan tulisan karya Hasan Mu’arif Ambary, hemat kami lebih baik dibanding dengan buku Guillot ini. Demikian juga dengan buku Renaisan Islam Asia Tenggara yang merupakan kumpulan artikel karya Azyumardi Azra.[10] Keunggulan kedua buku ini dari buku Guillot adalah bahwa keduanya tidak hanya menampilkan data-data dan ditafsirkan secara agak serampangan, tetapi dilengkapi pula dengan sumber-sumber lain yang kaya. Walaupun kedua penulis ini adalah putra asli Indonesia tetapi tidak serta merta hanya menggunakan sumber lokal, tetapi banyak pula menggunakan sumber asing. Dari segi penyajian juga demikian, berkat sentuhan tangan editornya (Jajat Burhanuddin untuk buku Hasan Mu’arif Ambary dan Idris Thaha untuk buku Azyumardi Azra), kedua buku kumpulan artikel ini memperlihatkan kekohesifan dan keterpaduan. Karenanya, buku Guillot sebaiknya dielaborasi ulang dan tentu perlu dilengkapi dengan sumber-sumber lain, terutama sumber lokal, agar penafsirannya agak lebih terarah.

 

Aspek Substansi

Dari segi substansi yang disampaikan dalam buku ini, banyak hal baru yang terungkap karena banyaknya sumber asing yang dugunakan, khususnya dari Portugis. Surat perjanjian atau surat-surat ”individu” misalnya, arsip dan dokumen Belanda, atau ”pengalaman” individu yang pernah hidup di sekitar Banten. [11] Sejauh pengamatan kami, apa yang disampaikan dari sumber asing tersebut mungkin demikian adanya, tetapi penafsiran dari penulislah yang harus dikritisi. Misalnya ketika mengatakan bahwa ”... dinasti Islam bukanlah pendiri Banten. Sebenarnya dinasti ini merebut kekuasaan dalam sebuah negara yang telah memiliki sejarah panjang dan yang kemakmurannya sejak lama bertumpu kepada penghasilan biji lada dan perniagaan internasional” (h. 30).[12] Pertanyaannya adalah, kapan Banten menjadi pusat perdagangan internasional, apakah pada saat berada di bawah kekuasaan Pajajaran atau Banten menjadi begitu terkenal setelah Islam masuk ke wilayah ini? Cukuplah sebagai jawabannya adalah apa yang dijelaskan oleh Hasan Muarif Ambary demikian:

”Bandar Banten pada abad ke-16 sampai 19 merupakan salah satu bandar Nusantara yang bertaraf internasional. Bukti-bukti sejarah dan arkeologi di Situs Banten memberikan bukti kuat, bahwa badar Banten memagang peran cukup besar dalam dunia perniagaan. Letaknya yang strategis, antara Malaka dan Gresik, telah menjadikannya sebagai salah satu bandar internasional yang berpengaruh di Nusantara baik secara sosial, politik, ekonomi, budaya maupun agama...” [13]

Tidak diragukan lagi bahwa Banten memang telah ada sebelum Islam masuk ke wilayah ini. Akan tetapi, berbagai sumber menyebutkan bahwa pelabuhan Benten menjadi semakin berkembang pada masa Islam, setidaknya sebagaimana dijelaskan Ambary.

Persoalan lain adalah interpretasi atas peristiwa-peristiwa yang terjadi antara 1580-1609. salah satu peristiwa penting yang disoroti oleh penulis adalah meninggalnya Maulana Muhammad tahun 1596 ketika melakukan ekspedisi ke Palembang. Pewarisnya yang masih amat belia bahkan dikatakan masih bayi, yaitu Sultan Abdul Mafakhir dianggap sebagai pembuka zaman pemerintahan wali raja (h. 105). Sayangnya penulis minim sekali menggunakan sumber lokal bahkan untuk menjelaskan mengapa yang memegang pemerintahan tersebut adalah wali raja tidak merujuk tradisi lokal. Ia hanya menjelaskan betapa bercekamuknya pemerintahan Banten saat itu (h. 113-15). Dan, salah satu sumber yang menurutnya tidak ada bandingannya adalah kesaksian dari Scott, seorang berkebangsaan Ingrris, yang berdiam di Banten hanya dua tahun (1603-1605). Kesaksian Scott bahkan dielaborasi lebih dalam dalam satu bab pembahasan khusus. Ini tentu menimbulkan pertanyaan, apakah seseorang yang hanya tinggal dua tahun dapat mengetahui begitu dalam seluk beluk pemerintahan Banten?

Penulis tampaknya lupa atau mungkin belum mengelaborasi watak kolonial bangsa Eropa yang baru saja menginjakkan kakinya di bumi Nusantara. Sebagai refleksi bahwa setelah Portugis menaklukkan Malaka pada tahun 1511, boleh dikatakan era kolonialisme di Nusantara dimulai. Sejak itulah bangsa-bangsa Eropa banyak berdatangan ke wilayah Nusantara, khususnya Indonesia, seperti VOC kemudian Belanda, Inggris, dan tentu Portugis. Berita-berita yang disampaikan oleh para pegawai kaum kolonial bisa dipastikan dibuat untuk merebut simpati dari para pembesar di negeri asalnya. Demikian pula yang disampaikan oleh Scott yang merupakan pegawai Inggris di Banten yang harus mencatat segala peristiwa yang dialaminya. Oleh karena itu, informasi yang dapat dikatakan sepihak tersebut tidak dapat serta merta diterima bagitu saja. Data-data itu memang penting untuk diungkap tetapi bagaimana kita menyikapi data-data itulah yang lebih penting, antara lain dengan melakukan kritik sumber, intern maupun ekstern.

Dalam buku ini juga ada salah satu artikel yang minim sumber, yaitu tentang ”Pola Perkotaan dan Pemerintahan di Kota-Kota Perdagangan Dinua Melayu (Abd ke-15 – ke-17) (h. 219-237). Artikel yang pertama kali diterbitkan dalam majalah Indonesia, 80, 2005 (h. 39-51) ini lebih banyak berisi penafsiran penulis atas kondisi sosial keagamaan di kota-kota Dunia Melayu. Sumber artikel ini yang secara jelas disertakan adalah peta kuno Melaka di awal abad ke- 17 dari Manuel Godinho de Ereda (h. 220) dan dari Manuel de Faria e Sousa (h. 222), serta peta kuno Aceh tahun 1640 dari Firenze (h. 223).

Hemat kami, uraian dalam artikel ini patut dikaji ulang sebab ia tidak lebih dari tafsiran penulis atas peristiwa-perstiwa yang terjadi sekitar abad ke-16 dan ke-17, baik di Banten maupun di wilayah lain di Indonesia, dan yang lebih penting uraian tersebut tidak menyebutkan sumbernya. Misalnya ketika ia menjelaskan kondisi di Aceh tahun 1520-an pada saat pergantian pemimpin, ia tidak menjelaskan pada masa siapa peristiwa itu terjadi. Menurutnya, muncul kerusuhan karena ada pertentangan antara elit kerajaan dan sekelompok orang yang disebutnya ”Orang Kaya”. Siapa yang dimaksud elit kerajaan tidak dijelaskan lebih lanjut. Demikian pula dengan ”Orang Kaya”, tidak dijelaskan secara memuaskan.  Bahkan, lanjutnya, setelah 1579, untuk mengakhiri krisis tersebut, karena para ”Orang Kaya” tersebut dikhawatirkan semakin berlebihan, seseorang yang lanjut usia yang ditunjuk sebagai raja memerintahkan untuk melakukan pembantaian, dan disebutkan dalam buku ini, bahwa ”menurut sebuah sumber, dalam semalam saja seribu orang dari kalangan ini tewas terbunuh” (h. 226).

Dari uraian di atas, seharusnya penulis menjelaskan siapa orang yang lanjut usia tersebut, dan apa sumber yang menyebutkan adanya pembantaian tersebut? Sebagai seorang ilmuwan seharusnya penulis tidak melupakan hal ini. Kasus seperti ini juga terjadi ketika ia menjelaskan peristiwa yang terjadi di Banten tahun 1580 yang disebutnya sebagai zaman wali raja (h. 227). Menurutnya, telah terjadi revolusi sosial di Banten sehingga, berdasarkan ”sebuah dokumen Belanda, tujuh ribu orang terpaksa meninggalkan Banten”. Akan tetapi, dokumen apa yang dimaksud, penulis tidak menyebutkannya. Penulis sepertinya hanya mengandalkan sebuah peta langka yang ternyata juga tidak ada potonya dalam artikel ini sebab ia hanya menyatakan, ”Revolusi sosial ini tercermin dalam peta langka yang kita miliki ini.” (h. 228).

Kiranya beberapa contoh kekurangakuratan dalam buku ini cukup demikian, sebab masih banyak tafsiran penulis yang perlu dikritisi, misalnya ketika menjelaskan inskripsi meriam Ki Amuk (377-383). Penulis meragukan kesimpulan Crucq yang mengatakan bahwa meriam tersebut dibuat di Jawa pada abad ke-16 M (h. 381-382), tetapi ia tidak mengusulkan tempat lain sebagai asal meriam tersebut.

Selain itu, kiranya hal lain yang perlu dicermati adalah, bahwa penulis tampaknya ingin menunjukkan betapa kecilnya peran Islam di Banten, seperti terlihat jelas dalam pernyataannya, bahwa ”... dinasti Islam bukanlah pendiri Banten...” (h. 30). Ini salah satu persoalan yang perlu dikaji ulang sebab kenyataannya adalah bahwa sejak kekuasaan Islam memasuki jantung kesultanan Banten, khususnya ketika putra Sunan Gunung Jati, yaitu Sultan Maulana Hasanuddin secara resmi dinobatkan menjadi Sultan, Banten secara berangsur-angsur tumbuh menjadi bandar internasional dan semakin maju.[14] Justeru kehadiran kaum kolonial lah, khususnya Belanda, yang merusak reputasi kesultanan Belanda yang sudah go internasional tersebut.

Persoalan lain adalah ketika Banten masih dalam kekuasaan Pajajaran, apakah pada saat yang sama, Kesultanan Banten sundah berdiri? Atau justru dengan masuknya Islam ke Banten dapat menahan lajunya kaum kolonial mengeruk kekayaan Banten? Hemat kami, buku ini terkesan Eropasentris sebagaimana lazimnya buku-buku sejarah yang ditulis oleh sebagian besar sejarawan Eropa. Contoh yang paling nyata adalah Snouck Hurgronje ketika menyatakan bahwa Islam masuk Indonesia pada abad ke-13 M. Atau arkeolog seperti GF Pijper, WF Stutterheim, JP Moquette, dan lain-lain.[15] Dalam hal menulis awal masuknya Islam ke Nusantara misalnya, para penulis Eropa cenderung mengenyampingkan bukti logis yang sering dikemukakan oleh para penulis Nusantara, misalnya Nuquib Al-Attas, Hamka, Uka Tjandrasasmita, sampai Azyumardi Azra, yaitu semangat dan alam pikiran Islam yang menjiwai sebagian besar masyarakat Nusantara. Penulis Eropa cenderung menafikan bukti non fisik tersebut, seperti yang pernah dikritik oleh Naquib al-Attas.[16]

Namun demikian, kita tetap harus memberikan apresiasi pada buku ini terutama karena menyajikan data-data baru. Secara umum, substansi yang disampaikan dalam buku ini sangat menarik dan untuk itu perlu dibahas dan didiskusikan lebih lanjut. Berita-berita asing tentang Banten sesungguhnya memperkaya wawasan dan sumber informasi untuk menggali sejarah leluluhur bangsa Indonesia, khususnya Banten. Sejarah Banten yang bersumber dari berita asing tentu akan berbeda jika ditafsirkan oleh kita sendiri sebagai pemilik sejarah, dan kita tentu akan mencari lebih dalam kesesuaiannya dengan konteks situasi yang langsung dirasakan di lokus penelitian. Misalnya ketika Titik Pujiastuti mengkaji Surat-Surat Banten, dalam  bukunya Dagang, Perang, Persahabatan, tafsirannya terasa lebih berimbang, tidak hanya berdasarkan sumber lokal, tetapi juga sumber asing.[17]

 

Aspek Sumber

Bukanlah hal aneh bahwa sumber penulisan sejarah Indonesia banyak tersimpan di Eropa, seperti Belanda, Inggris, Portugis, Perancis, dan lain-lain. Bahasa yang digunakannya juga tidak jarang ditemukan dalam bahasa-bahasa asing tersebut. Hal ini disebabkan karena bangsa-bangsa Eropa tersebut pernah menjajah, atau setidaknya membangun koloni-koloninya di Nusantara yang kaya raya akan sumber daya alamnya ini.

Dalam mengakses sumber-sumber asing, kendala bahasa merupakan hal yang dipandang paling menghambat dalam mengungkap isinya. Kendala lain adalah dalam hal mengakses sumber itu sendiri, peneliti pribumi terkadang perlu melakukan perjalanan jauh dan panjang untuk mendapatkan sumber-sumber asing tersebut. Setelah sumber itu ditemukan pun masih juga ada kendala, terutama apabila dokumen atau arsip yang ditemukan tersebut kondisinya sudah rusak dan sulit dibaca. Karena itulah, tidak mudah mempergunakan sumber asing untuk penulisan sejarah kita, apalagi jika kita ingin menulis sejarah kita secara utuh dan komprehensif.

Dalam hal pengungkapan informasi dari sumber asing, buku ini banyak memberikan data itu. Sebagaimana disebutkan di atas, buku ini begitu banyak menggunakan sumber asing, seperti surat perjanjian, arsip, dokumen, atau surat individu, dan lain-lain untuk menulis sejarah Banten ini. Namun, sangat disayangkan, dari ratusan rujukan yang digunakan penulis, tidak lebih dari 20 rujukan lokal yang ia gunakan. Hal ini tentu, dari satu sisi dapat mengurangi objektivitas, jika interpretasinya terpengaruhi oleh latar belakang penulis yang bukan orang Indonesia. Tetapi di sisi lain, sebenarnya, interpretasi tersebut akan menjadi objektif jika keberadaan penulis sebagai outsider dapat meminimalisir keberpihakannya pada jati dirinya sebagai orang asing.

Dari pembacaan sementara atas buku ini, salah satu kesan yang dapat ditangkap dari penulis adalah kurang begitu mempercayai sumber lokal. Ini terlihat dengan minimnya sumber lokal yang ia gunakan sebagaimana disebutkan tadi. Untuk itu, cara yang paling bijak untuk ”membaca” sumber-sumber asing dan menginterpretasikannya adalah dengan membandingkannya secara adil dengan sumber-sumber lokal atau sumber lainnya yang relevan. Dengan demikian, diharapkan penulisan sejarah Banten, dan secara umum sejarah Indonesia, tidak bias.

 

Apresiasi

Sebelum menutup makalah ini, di luar yang telah disampaikan, kiranya kita tetap harus memberikan apresiasi. Data-data yang diungkapkan dalam buku ini memang banyak yang luput dari perhatian kita, terutama karena keterbatasan mengakses informsi tersebut. Catatan Yudhistira ANM Massardi dalam blognya http://esqmagazine.com/2009/03/banten.html dapat kita ungkap sebagai salah satu contoh bahwa buku ini memberikan informasi baru, dengan berbagai kekuarangan dan kelebihannya. Massardi menulis:

”Banten adalah sebuah puncak emas di pebukitan sejarah. Dari abad kesepuluh hingga abad ke-17. Ketika itu, Banten adalah pelabuhan perdagangan internasional terkemuka – salah satu kota dagang terbesar di dunia – sebelum sejarah, juga kita, mengenal ”Indonesia.” Sinarnya mencapai Eropa, India, China, dan Timur Tengah. Dicatat dalam peta perdagangan dunia. Direkam di dalam khasanah sastra Inggris, Prancis dan Belanda. Di negeri-negeri pencari lada dan gula, emas dan perak. Tetapi kita tidak membaca.”[18]

Dalam uraiannya lebih lanjut, Massardi mencoba memberikan beberapa hal baru yang diungkap dalam buku ini yang layak mendapatkan penghargaan di samping beberapa kekuarangan yang disebutkan di atas. Dalam blog di atas, Massardi menulis demikian (pemberian no. halaman dari Pereview): 

Dari sejarah itu, kita mengenal seorang waliraja bernama Ranamanggala. Ia memerintah Banten pada 1609, setelah merebut kekuasan dari tangan oligarki tengkulak dan pedagang, yang berniaga dengan para saudagar Persia, Gujarat, Malabar, Keling, Pegu, China, Turki, Arab, Abysinia, Portugis, Inggris, Denmark, Prancis, Belanda. Ia memerintah hingga dimakzulkan pada 1624, oleh persekongkolan para pedagang asing itu, yang dirugikan oleh kebijakan politiknya (h. 125-128).

Gerah menyaksikan perang dagang, khususnya Belanda dan Prancis, dan dentuman meriam-meriam kapal mereka di perairan Banten, Ranamanggala ambil kesimpulan: mereka, dengan serakah, berebut biji lada dari buminya—juga dari daerah taklukannya di Lampung dan Bengkulu. Maka, pemimpin kharismatis dan teguh pendirian itu memerintahkan rakyatnya untuk menumpas dan melarang tanaman lada. Perdagangan bebas dihentikan. Kekuasaan negara ditegakkan. Setiap transaksi harus seizin pemerintah. Lebih dari itu, ia mengembalikan visi agraris: kembali ke darat, kembali ke sawah, dan hidup tenang dalam kesahajaan. Maka, para pedagang dan kakitangan mereka sama meradang. Ranamanggala pun mereka hempang (?; hempas?) (h. 127, dan h. 183-188).

Banten juga melahirkan Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), seorang pemimpin besar. Ia melanjutkan visi agraris Ranamanggala dalam skala lebih luas. Ia memerintahkan setiap orang menanam 100 pohon kelapa — pohon yang dari akar hingga daunnya memberikan kehidupan—di pinggiran Sungai Cisadane (h. 156 dan 164).

Secara total, ia merelokasikan sebanyak 20.000 warganya untuk membangun 10 desa yang rimbun dengan pohon kelapa di area seluas 5.000 hektare! Secara strategis, pemukiman-pemukiman baru itu juga merupakan ”benteng pertahanan” yang menyangga wilayah perbatasan dengan Batavia, yang ketika itu semakin dikembangkan oleh kompeni Belanda dan merongrong Banten (h. 170-179, khususnya h. 171-172).

Sultan Ageng juga memerintahkan sekitar 5.000 orang warganya untuk menggali terusan sepanjang 6 km yang menghubungkan Sungai Tanara dan Sungai Pasilian. Terusan selebar 6 meter dengan kedalaman 4 meter itu, kemudian disusul dengan pembuatan beberapa terusan dan bendungan lagi, dan belasan kincir air. Itu dimaksudkan sebagai sarana transportasi dan irigasi bagi sawah-sawah baru yang dibuatnya secara kolosal. Hasil panennya dari areal persawahan (Serang) itu, bisa mengisi lumbung-lumbung padi negara sebanyak 80 metrik (?) ton pada 1664 (h. 158, 169-172).

Ranamanggala dan Sultan Ageng adalah dua figur visioner yang mencoba ”meredam” keserakahan lautan materialisme, dengan solusi ”kembali ke tanah,” yang lebih kalem dan kontemplatif. Harus juga dikatakan, mereka adalah ”bapak pembangunan” sejati, yang tahu persis kebutuhan rakyatnya, dan memahami bahwa benteng pertahanan negara yang utama adalah: ketahanan pangan.

Uraian yang agak panjang ini sengaja disajikan apa adanya untuk sekedar memberikan contoh bahwa buku ini juga memiliki data penting. Memang kutipan ini bisa dikatakan terlalu panjang, tetapi dibandingkan dengan buku yang tebalnya lebih dari 400 halaman dapat dikatakan terlalu sedikit untuk menyajikan data. Namun demikian, gambaran ringkas di atas dapat memberikan petunjuk betapa sejarah Banten masih dapat dielaborasi lebih lanjut berdasarkan data-data yang telah diungkapkan dalam buku ini. Bisa jadi di beberapa negara Eropa lainnya, selain Portugis dan Belanda, masih terdapat data lain yang dapat melengkapi buku ini.

 

Penutup

Banten memiliki sejarah yang panjang dan menyandang nama besar. Kebesaran Banten mulai terdengar terutama ketika ia menjadi pelabuhan internasional. Kami pernah menyaksikan langsung kondisi Banten Lama kurang lebih 10 tahun yang lalu, tahun 1999. Kondisinya sangat memprihatinkan. Demikian juga dengan Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon, kini tinggal puing-puingnya saja yang, maaf, teronggok kurang terurus. Menurut tradisi setempat, keraton tersebut sengaja dibakar atau ditinggalkan oleh keluarga kerajaan karena tidak mau direbut oleh penjajah, khususnya Belanda. Sikap ini sejalan dengan pribahasa, ”lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai” atau lebih tepatnya dengan ungkapan ’isy karîman au mut syahîdan (hiduplah mulia atau mati dengan syahid). Artinya, patriotisme Banten tidak perlu diragukan lagi, dan kebanggaan itu muncul setelah Islam memberikan pengaruhnya di wilayah Jawa paling kulon ini. Bahkan, harus diakui bahwa takdir Banten sebagai pintu masuk utama ke wilayah Indonesia, adanya demikian, sebab kini bandar udara terbesar di Indonesia berada di wilayah Banten.

Berita-berita yang disampaikan dalam buku ini boleh jadi merupakan informasi baru bagi kita, khususnya dari sumber-sumber berbahasa Portugis karena keterbahasan bahasa. Namun, harus diingat bahwa sumber-sumber tersebut berasal dari pihak asing, walaupun tidak lantas sesuatu yang berasal dari pihak asing itu buruk. Hanya saja, situasi dan kondisi pada masa itu, antara abad X-XVII, situasi dunia masih diwarnai hukum rimba dan kolonialisme Eropa. Tak terkecuali di Banten. Ia termasuk wilayah dimana bangsa Eropa membangun koloni-koloninya, bahkan Belanda ingin menjajahnya. Dengan demikian, sumber-sumber asing tersebut harus diuji validitasnya dan benar-benar dikritisi. Justru, seharusnya orang sekaliber Guillot mencari informasi lain, khususnya dari sumber lokal, apakah informasi asing tersebut benar atau tidak. Di sinilah perlunya obyektivitas dan landasan berita yang lebih valid sehingga imajinasi historisnya dapat terarah. Amanah ilmiyah (kejujuran intelektual) merupakan sesuatu yang wajib dipertahankan sebagai etika kesarjanaan. Wallâhu a’lam

 


Daftar Pustaka

 

Ambary, Hasan Mu’arif, Menemukan Peradaban, Jejak-Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, Editor: Jajat Burhanuddin, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998).

al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung: Mizan, 1990)

Azra, Azyumardi, Renaisan Islam Asia Tenggara, Editor: Idris Thaha (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000)

Gottschalk, Louis, Mengerti Sejarah, terj. Nugroho Notosusasto, (Jakarta: UI Press, 1985)

Guillot, Claude dan Ludvik Kalus, Inskripsi Islam Tertua di Indonesia, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole francaise d’Exteme Orient, Forum Jakarta-Paris, 2008).

Guillot, Claude, Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, (Jakarta: KPG, 2008), h. 47-48, sebagai contoh lain catatan individu lihat juga h. 184 dan 186-186.

Kraemer, Joel L., Renaisans Islam, terj. Asep Saefullah dari Humanism in the Renaissance of Islam, (Bandung: Mizan, 2003), h. 34.

Massardi, Yudhistira ANM, ”Banten”, http://esqmagazine.com/2009/03/banten.html, Kamis, 19 Maret 2009

MUI, Sejarah Umat Islam Indonesia, (Jakarta: MUI, 1991)

Pudjiastuti, Titik, Perang, Dagang, Persahabatan, Surat-Surat Sultan Banten, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, The Toyota Foundation, 2007)

Sunjayadi, ”Menyibak Kegemilangan Masa Lalu Banten”, dalam  http://sunjayadi.com/?p=167. dikases 19 Maret 2009

Tjandrasasmita, Uka (Ed), Sejarah Nasional Indonesia III, Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, (Jakarta: Depdikbud, 1975),

-------, Penelitian Arkeologi Islam di Indonesia dari Masa ke Masa, (Kudus: Menara Kudus, 2000)

 



[1] ”Menyibak Kegemilangan Masa Lalu Banten”, dalam  http://sunjayadi.com/?p=167. Karya Guillot lainnya, kali ini bersama Ludvik Kalus, yang juga merupakan kumpulan artikel adalah Inskripsi Islam Tertua di Indonesia, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia dan Ecole francaise d’Exteme Orient, Forum Jakarta-Paris, 2008).

[2] ”Menyibak Kegemilangan Masa Lalu Banten”, dalam http://sunjayadi.com/?p=167, diakses 19 Maret 2009. Lihat juga uraian kami pada subjudul “Apresiasi” di bawah.

[3] Untuk paragraf ini dan yang sebelumnya lihat juga ”Menyibak Kegemilangan Masa Lalu Banten”, dalam  http://sunjayadi.com/?p=167.

[4] Lihat khususnya Bagian Kedua buku ini. Tentang arkeologi Islam di Indonesia lihat misalnya Uka Tjandrasasmita, Penelitian Arkeologi Islam di Indonesia dari Masa ke Masa, (Kudus: Menara Kudus, 2000).

[5] Titik Pudjiastuti, Perang, Dagang, Persahabatan, Surat-Surat Sultan Banten, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, The Toyota Foundation, 2007)

[6] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terj. Nugroho Notosusasto, (Jakarta: UI Press, 1985), khususnya Bab VI tentang ”Masalah Otentisitas dan Kritik Eksternal” (h. 80-94), dan Bab VII tentang ”Masalah Kredibilitas dan Kritik Intern” (h. 95-117)

[7] Dalam menguji sumber berita atau ”riwayat” dari bangsa Eropa, kita masih sulit mendapatkan alat bantunya seperti yang mudah kita temukan dalam literatur Islam klasik, seperti kitab-kitab al-Tabaqat al-Kubra, Siyar A’lam al-Nubala, Rijal al-Hadis, dan lain-lain. Oleh karena itu, untuk melihat bagaimana tingkat kejujuran, daya ingat, keadilan, dan kepribadian penyampai berita dari orang-orang Eropa tersebut sulit dilakukan. Dengan demikian, berita yang disampaikannya perlu dikonfrontir dengan sumber lain.

[8] Misalnya ia menggunakan teori Burchkardt untuk menjelaskan fenomena individualisme pada masa Abbasiyah, khususnya masa Dinasti Buwaihi sekitar abad ke-10 dan ke-11 M. Joel L. Kraemer, Renaisans Islam, terj. Asep Saefullah dari Humanism in the Renaissance of Islam, (Bandung: Mizan, 2003), h. 34.

[9] Hasan Mu’arif Ambary, Menemukan Peradaban, Jejak-Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, Editor: Jajat Burhanuddin, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998).

[10] Azyumardi Azra, Renaisan Islam Asia Tenggara, Editor: Idris Thaha (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000)

[11] Claude Guillot, Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, (Jakarta: KPG, 2008), h. 47-48, sebagai contoh lain catatan individu lihat juga h. 184 dan 186-186. Bandingkan dengan Titik Pudjiastuti, Perang, Dagang, Persahabatan, antara lain h. 13-22.

[12] Bandingkan dengan antara lain Uka Tjandrasasmita (Ed), Sejarah Nasional Indonesia III, Jaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia, (Jakarta: Depdikbud, 1975), khususnya h. 93-94, dan MUI, Sejarah Umat Islam Indonesia, (Jakarta: MUI, 1991), h. 79-84 tentang Kesultanan Banten, dan lihat juga h. 68-78, tentang Demak, Mataram, dan Cirebon.

[13] Hasan Muarif Ambary, Menemkan Peradaban, h. 117-126.

[14] Hasan Muarif Ambary, Menemkan Peradaban, h. 117-126. Lihat Juka Uka Tjandrasamita, SIN III, h. 152-154, dan MUI, Sejarah Umat Islam Indonesia, h. 79-83.

[15] Uka Tjandrasamita, SIN III, h. 111-119.

[16] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, (Bandung: Mizan, 1990)

[17] Titik Pudjiastuti, Perang, Dagang, Persahabatan, Surat-Surat Sultan Banten, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, The Toyota Foundation, 2007)

[18] Yudhistira ANM Massardi, ”Banten”, http://esqmagazine.com/2009/03/banten.html, Kamis, 19 Maret 2009

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Kajian Buku arrow Membaca Sejarah Banten dari Sumber Asing