Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Problematika Pendidikan Keluarga dan Sekolah dalam Mencerdaskan Anak Didik Cetak E-mail

Oleh: Drs. Thanthawy Djauhary

 

Identitas Buku: Prof. Dr. Muhammad Ali Murshafi,

Mendidik Anak Agar Cerdas dan Berbakti, Penerjemah: Muhtadi Kadi, Muhammad Misbah; Editor: Budiman Mustofa, Lc., Endang R., S.S., Erlina Z. Zachi, S.S. – Solo: Ziyad Visi Media; 2009, 140 hlm.; 205mm.

Pengantar

Pada era globalisasi dan era informasi ini, umat Islam mengalami multi krisis, terutama krisis ilmu dan teknologi. Dari kedua krisis ini mengakibatkan muncul krisis lainnya, di antaranya adalah krisis kebudayaan, ekonomi dan pendidikan. Pendidikan suatu bangsa tidak akan pernah maju, kecuali bangsa itu secara terus menerus memperbaiki kualitas sumber daya manusianya yaitu pendidik dan peserta didik.

Kemajuan pendidikan suatu bangsa mempunyai peranan yang sangat penting pada pendidikan keluarga, sekolah dan lingkungan, karenanya kerja sama  ketiga unsur pendidikan ini sangat dibutuhkan dalam memajukan dunia pendidikan, yaitu unsur keluarga mempunyai tanggung jawab orang tua, unsur sekolah mempunyai tanggung jawab pemerintah, dan unsur lingkungan mempunyai tanggung jawab masyarakat.

Pendidikan keluarga merupakan unit fundamental yang bertanggung jawab dan harus melayani kebutuhan fisik dan fsikis anak selama mereka dalam pertumbuhan menuju kedewasaan. Tanggung jawab dimaksud terutama berada dipundak orang tua, sehingga ia dituntut dapat benar-benar berfungsi sebagi pendidik. Karena ternyata salah satu faktor dominan yang mempengaruhi pola prilaku anak dalam proses pendidikannya adalah lingkungan keluarga.

Buku “Kaifa Turabbi Thiflak”, karya Prof. Dr. Muhammad Ali Murshafi, diterjemahkan oleh  Muhtadi Kadi, dkk dengan judul  Mendidik Anak agar Cerdas dan Berbakti”, (Ziyad Visi Madia, 2009), ini mencoba memberikan gambaran, seberapa besar peranan orang tua dan sekolah serta problematika yang mereka hadapi untuk mencerdaskan anak, khususnya usia pra sekolah. Karena, tanggung jawab ibu dan ayah sebagai pendidikan utama dalam keluarga serta orang-orang yang mengantikan kedududukan mereka menjadi perhatian yang sangat serius dari semua pihak, sejak anak dari kandungan dengan memperhatikan gizi, hingga lahir dan dewasa dengan memenuhi kebutuhannya yang disesuaikan pada tahap-tahap perkembangan  anak.

Pada prinsipnya setiap anak dalam Islam mempunyai hak-hak yang harus direalisasikan dengan sebaik-baiknya, maka pendidikan anak sangat banyak memberikan manfaat dalam pertumbuhan dan perkembangannya, melalui proses pengajaran dan pengarahan yang dilakukan pihak keluarga, dalam upaya membentuk sebuah generasi cerdas yang mempunyai kepedulian dan pengertian arti tanggung jawab. (Razaq Al-Hamshy, 2003:11)

Sekolah adalah sarana kedua yang bersama-sama dengan keluarga memberikan pendidikan sebaik mungkin kepada anak didik. Meskipun, ia merupakan sebuah sarana buatan yang didirikan oleh masyarakat demi mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan. Jadi, jelaslah peranan sekolah tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan peranan keluarga, bahkan pada hal-hal tertentu terkadang peranan sekolah lebih penting daripada keluarga.

Orang tua yang sibuk bekerja untuk meningkatkan tahap ekonomi keluarga, terkadang sedikit waktu luang berinteraksi dengan anak-anak mengindikasikan bahwa keluarga telah kehilangan banyak peranannya yang hakiki serta loyalitasnya terhadap anak. Sebab loyalitas itu telah mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan lain yang memaksa keluarga bekerjasama dengannya, bahkan meyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pada sekolah.

Pada sisi pendidikan bagi anak-anak yang telah menerima perubahan yang baru dari berbagai aspek. Orang tua, keluarga dan sekolah tidak lagi menjadi sumber utama dalam membangun dan membentuk kepribadian anak didik. Namun, pendidikan telah muncul berbagai macam permainan di tempat-tempat hiburan, berbagai bentuk film-film kartun dan hayalan di TV pemerintah ataupun sewasta serta berbagai alat teknologi lainnya. Semua itu akan menjadi virus baru dalam pembentukan  kepribadian anak.

Hal lain yang menambah besarnya tanggung jawab dalam menyiapkan kepribadian anak adalah sedikitnya waktu tersedia kebersamaan para orang tua dengan anak-anaknya, karena mereka disibukkan dengan pekerjaan dan kegiatannya di luar rumah, pendidikan anak diserahkan kepada pembantu. Padahal terdapat perbedaan antara budaya pembantu dan anak. Hal inilah yang menjadi persoalan.

 

 

Masa Kanak-Kanak yang Terakhir      

            Para Psikolog dan pakar pendidikan menegaskan bahwa masa kanak-kanak ditandai dengan pertumbuhan fisik, intelektual dan sosial. Semua pendidikan pada masa ini diarahkan untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan. Karena sistem saraf anak-anak fleksebel yang meniru sangat reaktif dari prilaku orang di sekitarnya dan mengidentifikasikan dirinya dengan karekter mereka. (Athiyah, 2007: x)

            Adapun yang dimaksud dengan masa kanak-kanak yang terakhir yang dinyatakan Prof. Dr. Muhammad Ali Murshafi dalam buku ini: bahwa anak yang berusia empat sampai lima tahun dan lima sampai enam tahun, tentunya masa pertumbuhan dan perkembangan anak akan berbeda dari bentuk badan, akal, emosional, gerakan, sosial, perasaan, dan bahasa.

            Misalnya, pertumbuhan jasmani anak berjalan dengan cepat. Pada tahapan ini anak sudah mampu menyatap makanan sendiri dengan mengunakan sendok dan garpu secara lincah, namun tak bisa mengunakan pisau makan dengan baik, memilih makanan yang disukai dan tidak disukai. Juga, dia dapat mandi sendiri dan mengurusi dirinya sendiri ketika membuang air besar. Pada waktu yang sama, dia mengunakan sebilah pisau untuk bermain-merusak sesuatu-bukan untuk memotong makanan dengan baik. Hal ini dibarengi dengan bertambahnya kematangan syaraf, kuatnya otot, dan tulang tubuh yang bertambah besar.

Pertumbuhan dan perkembangan akal anak pada masa ini di antaranya adalah dia memiliki rasa ingin tau yang besar terhadap lingkungan di sekitarnya dan semua informasi yang berhubungan dengannya. Juga, dia sudah bisa mengklasifikasi sesuatu dengan menyamakan dan membedakan antara bentuk-bentuk yang sederhana. Disamping  itu, dia dapat melakukan aktivitas dan percobaan terhadap sesuatu yang yang bisa disentuh. Pola pikirannya sudah mandiri, sehingga lebih banyak melakukan segala sesuatu dengan sendiri.

Pertumbuhan emosianal pada anak usia ini terlihat dengan adanya peningkatan kemampuan dalam mengungkapkan ketakutan dan kekhawatirannya, serta mengekspresikan emosinya. Dia mengukapkan hal-hal yang membuatnya bosan, sedih, marah dan juga mampu menyatakan hal-hal yang membuatnya kecewa saat mengalami kegagalan atau tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Selain itu, mulai muncul sikap-sikap perlawanan, angkuh, terkadang menggigit bibirnya sendiri, atau mengelengkan kepalanya.

Perkembangan gerak anak pada usia ini adalah bergerak secara terus menerus, lebih banyak menggunakan dua tangan daripada dua lengan dalam memegang bola kecil, melompat dengan mengangkat dua kaki, memanjat tangga dan pohon. Juga, dia dapat bergerak lincah di tempat-tempat yang sempit dan dia suka menunjukkan keahlian-keahlian yang berhubungan dengan fisik serta pelatihan yang dilakukannya

Perkembangan sosial anak pada usia ini terjadi keinginan anak untuk bermain dengan temannya melalui pergaulan dengan anak-anak yang lebih dewasa darinya dan mulai memperhatikan anak-anak di bawah usia mereka ketika dalam bahaya. Juga, mereka selalu merasa gembira dan berkompetisi antar anak seusianya mulai Nampak. Selain itu, mereka juga belajar tentang kepemimpinan, berpikir, dan hal-hal yang berhubungan dengan materi bersama teman-temannya.

Perkembangan rasa pada masa anak ini memiliki beberapa indikasi, di antaranya dia peka terhadap waktu, peka terhadap musim, hari raya, dan berapa kegiatan yang berhubungan dengan pernikahan. Juga, anak seusia ini memiliki perhatian yang besar terhadap tugas-tugasnya dan suka mendiskusikannya serta memahami kata-kata yang mengungkapkan ukuran, jumlah, dan isi  atau volume.

Pertumbuhan dan perkembangan kemampuan bahasa anak adalah mampu menangkap dan mengucapkan 2200 kata. Di samping itu, dia dapat menyebutkan nama dengan sempurna, usianya, alamatnya, dan tanggal lahirnya ketika ditanya. Pada usia ini, anak-anak bisa membedakan antara kenyataan dan khayalan. Mereka cenderung menggunakan banyak rangkaian kata. Juga, berusaha untuk mendapatkan ilmu yang ingin diketahui. Mereka cenderung banyak bicara dan ingin mengenal bentuk-bentuk huruf, nomor, dan beberapa kalimat, miskipun tidak belajar secara langsung.

Senada dengan hal tersebut, menurut Zakiah Daradjat bahwa pertumbuhan kemampuan bicara dan menangkap kata anak meningkat cepat sekali. Jika pada usia satu tahun ia mampu mengucapkan tiga kata, pada usia dua tahun: 272 kata, dan pada usia tiga tahun: 895 kata, pada usia empat tahun meningkat menjadi 1,540 kata dan pada usia lima tahun: 2.042 kata, selanjutnya pada usia enam tahun mereka telah mampu menguasai: 2.562 kata. (Zakiah, 2001: 13)

Masa kanak-kanak dengan demikian merupakan rentang waktu yang terjadinya proses pembentukan entitas seseorang. Kesalahan yang terjadi dalam proses pembentukan pada fase ini akan menimbulkan efek negative yang sulit diatasi pada rentang waktu berikutnya dan akan berdampak buruk pada keseluruhan rentang usia anak dan merembet pada masyarakat di sekitarnya.

Selain itu, setiap fase memiliki kondisi-kondisi dan tuntutan tuntutan yang khas bagi masing-masing individu. Oleh karena itu, kemampuan individu untuk bersikap dan bertindak dalam menghadapi satu keadaan berbeda dari satu fase ke fase yang lain. Hal itu kelihatan jelas ketika seseorang mengekspresikan emosi-emosinya. Demikian pula kemampuannya untuk belajar dan mengajar, juga cara-cara yang ditempuhnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya (Az-Za’balawi, 2007: 7)

 

Pendidikan Sosial

            Untuk mengkaji lebih dalam tentang Pendidikan Sosial Anak, buku berjudul  Kaifa Turabbi Thiflak”, karya Prof. Dr. Muhammad Ali Murshafi, diterjemahkan oleh  Muhtadi Kadi, dkk dengan judul “Mendidik Anak agar Cerdas dan Berbakti” amat menarik untuk disimak. Ali Murshafi, melalui buku ini berusaha mengkaji proses perkembangan kepribadian anak-anak di lingkungan keluarga dan sekolah serta faktor-faktor dominan mempengaruhi pendidikan kejiwaan anak.

            Perkembangan jiwa dan kepribadian anak sangat sangat ditentukan oleh empat faktor, yaitu: faktor orang tua, faktor jasmaniah turunan, faktor psikologi dan faktor sosial budaya. Apabila diibaratkan sebagai proses pembuatan kain batik, maka pembuat kain batik adalah orang tua. Bakal yang kurang baik, tentu sulit menghasilkan kain batik yang baik adalah faktor jasmaniah keturunan. Proses pembuatan yang tidak benar, akan menghasilkan kain batik yang tidak benar pula adalah faktor psikologi. Kekurangan bahan-bahan tertentu, maka hasilnyapun tidak akan sempurna pula adalah faktor sosial budaya. (Kholil, 1994:19)

            Dalam rangka pembentukan dan kepribadian watak seorang anak, dapat dikatagorikan atas tiga teori yaitu: Pertama, teori Emperisme, teori ini berpendapat bahwa setiap individu lahir seperti kertas putih, dan lingkungan itu yang “menulisi” kertas putih tersebut. Kedua, teori Nativisme, dimana aliran ini berpendapat bahwa perkembangan pribadi hanya ditentukan hereditas, faktor dalam yang bersifat kodrati, yang lebih dikenal, faktor bawaan dari lahir yang tidak dapat dirubah oleh pengaruh alam sekitar dan pendidikan. Ketiga, teori Convergensi, aliran ini berpendapat bahwa perkembangan pribadi anak sesungguhnya adalah hasil proses interaksi kedua faktor, baik internal (potensi hereditas), maupun faktor external (lingkungan/pendidikan). Potensi hereditas yang baik saja, tanpa pengaruh lingkungan atau pendidikan yang positif tidak akan membina kepribadian yang edial. Sebaliknya, meskipun lingkungan atau pendidikan yang positif dan maksimal, tidak akan menghasilkan kepribadian yang edial, tanpa potensi hereditas yang baik. (Noorsyam, 1986: 41-42.)

            Namun, ada dua pendapat yang sangat menarik kita simak dalam buku ini tentang faktor dominan yang mempengaruhi kepribadian anak didik, pertama, Lingkungan. Karena, ia adalah unsur utama dalam pendidikan. Kedua, genetik. Ia adalah dasar dalam pendidikan anak.

            Pendapat pertama diusung oleh Helvithos (1715-1771). Dalam buku yang berjudul “Manusia; Keabsolutan Akal dan Cara Mendidiknya”, dia bertanya mengenai penyebab perbedaan antara kemampuan manusia dan daya rasanya. Pertanyaan ini terjawab dengan adanya perbedaan dalam pola pendidikan dan pengajaran. Hal ini bersandarkan kepada teori Jonh Luck yang menegaskan bahwa panca indra adalah jendela ilmu. Dia juga menjelaskan bahwa jika kita bermurah hati pada orang ketika berjumpa untuk pertama kalinya, maka perasaan yang muncul dari mereka adalah bahagia. Pola pikir mereka juga dipengaruhi oleh perasaan. Meskipun dia telah menetapkan teori ini, tetapi teori ini kemudian ditariknya kembali.

            Menurut Helvithos, penyebab perbedaan antara kemampuan manusia dengan daya rasanya tergantung pada masing-masing individu. Hal ini terkait dengan perbedaan kemampuan akal antara satu individu dengan individu lainnya.

            Sedangkan pendapat yang kedua adalah gen. Pendapat ini diusung oleh Galthon. Dia mengesampingkan peran lingkungan dalam pendidikan anak dan seolah-olah menganggapnya tidak penting. Penganut pendapat ini mendasarkan pendapatnya pada hukum genetika yang paten. Sebagaimana anda ketahui bahwa manusia hidup di dunia ini dipengaruhi oleh sifat keturunan dari ayah dan nenek moyangnya. Maka, kita tidak bisa melakukan intervensi di dalamnya. Sehingga ada sebagian ilmuan yang menyimpulkan bahwa penciptaan seseorang berhubungan dengan penciptaan para pendahulunya. Sebagaimana sifat-sifat jasmaniah yang masih berhubungan dengan para leluhurnya, baik dari panjang tubuhnya, maupun bentuk kepalanya.

            Pendapat ini melihat bahwa bila kita memberitahukan kepada seseorang anak tentang kebaikan-kebaikan yang ada pada nenek moyangnya, niscaya dia akan menjadi anak yang baik, meskipun dia mendapat pendidikan yang rendah.

            Sebaliknya, penganut pendapat yang pertama menyatakan bahwa jika seorang anak dididik dengan pendidikan yang baik, maka kita tidak akan melihat sifat-sifat yang menurun dari ayah dan kakeknya.

Penulis melihat bahwa kedua pendapat ini sangat kontradiksi. Makhluk hidup memiliki kebebasan secara otomatis, memiliki tangan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Kebebasan dua tangan ini tidak didapatkan dari faktor-faktor genetik ataupun lingkungan. Akan tetapi, dua hal ini -genitik dan lingkungan- membantu manusia untuk menguasai kehidupan. Dari sisi keistimewaan genetik yang terdapat pada tubuh dan akal, kita dapat menemukannya pada sel-sel yang subur. Manusia tidak bisa memisahkan antara ruh dengan tubuh. Namun, aktivitas pembentukan kepribadian dan keahlian dalam berinovasi dapat disegarkan kembali. Hal tersebut dilakukan dengan menyatukan sel-sel yang subur. Hal ini dapat anda manfaatkan di masa mendatang, yaitu menyiapkan lingkungan dan gen yang baik untuk mewujudkan perkembangan pribadi.

            Selain dari dua pendapat di atas, menurut pendapat penulis unsur masyarakat tidak kalah penting dalam membentuk kepribadian anak. Jika keluarga dan sekolah berperan penting pembentukan jiwa anak, maka masyarakat dengan makna yang luas juga memiliki peran yang urgen dalam proses pendidikan sosial anak.

            Maka tidak diragukan bahwa perbedaan lingkungan, personal yang membentuk masyarakat, dan bentuk sosial yang mendasari semua lapisan masyarakat yang menyebabkan perbedaan cara pandang bagi anak-anak. Karena itu anak yang hidup dilingkungan perdangangan berbeda dengan anak yang tumbuh di lingkungan pertanian, dan juga berbeda dengan anak yang tumbuh berkembang di lingkungan agamis.

Setiap individu dari masyarakat manapun tumbuh di atas keyakinannya, baik keyakinan tersebut berhubungan dengan nilai-nilai agama, politik, atau estetika dan lain-lainnya. Dari nilai-nilai ini, budaya dalam masyarakat dapat mengkristal.

            Juga beberapa nilai, kriteria, dan kecendrungan ini merupakan bingkai keahlian bagi seseorang, jika bingkai keahlian ini dimiliki oleh seseorang, maka keahlian itu akan menjadi pondasi utama dalam mewujudkan beberapa tujuan

            Yang menarik juga dalam buku ini adalah lingkungan Islam yang mengupas dua sisi untuk membentuk kepribadian anak, baik sisi intern maupun ekstren, pertama lingkungan intern (Rahim Ibu). Ini adalah masa membuka kemungkinan pemindahan gen dan tumbuhnya beberapa karakter manusia di dalam jiwa anak. Pada masa ini, cairan rahim yang ada di selaput rahim mengelilingi janin, yang menjadikan temperatur di dalam rahim menjadi seimbang dan teratur. Selaput rahim ini juga menjaga janin dari cahaya dan suara, serta melindungi janin dari goncangan dan benturan. Melalui tali pusat -yang menghubungkan janin dengan plasenta- makanan disalurkan kepada janin. Islam sangat memperhatikan beberapa faktor yang memiliki pengaruhi terhadap rahim, yang dijabarkan sebagai berikut:

            Pengaruh makanan ibu. Jika makanan janin datang dari jalur darah, maka ibu harus mengkonsumsi makanan yang bergizi dan halal, bila dia ingin melahirkan anak yang sehat jasmani dan rohani.

            Ibu yang hamil jangan sampai mengkonsumsi khamar, sabu-sabu, atau menghisap ganja. Karena telah ditetapkan dalam ilmu kedokteran bahwa khamar, barang-barang terlarang, dan rokok memiliki pengaruh buruk pada pertumbuhan janin.

            Ibu yang sedang hamil harus menjauhi sikap-sikap yang menimbulkan permusuhan. Karena, permusuhan akan mempengaruhi pertumbuhan janin dan mengganggu ketenangannya di dalam rahim. Syari’at Islam telah menjelaskan tentang urgensi bebasnya pasangan suami istri dari berbagai cacat dan akhlak yang jelek. Karena, sifat-sifat ini bisa diwarisi oleh anak-anak.        

            Adapun dalam usia kehamilan, maka harus dijaga kesesuaian antara usia dan kehamilan. Karena, kesesuaian usia memiliki pengaruh terhadap janin dari sisi pertumbuhan dan pembatasan kemampuanannya.

            Di antara faktor intern yang berpengaruhi terhadap janin adalah keadaan kejiwaan ibu. Telah ditetapkan bahwa keadaan emosional memiliki pengaruh dalam sirkulasi hormone yang beraneka ragam di dalam darah. Hal ini akan mempengaruhi janin, karena ada tekanan terhadap kelenjer sang ibu, yang akan mengakibatkan berkurangnya hormon. Kemudian akan mengakibatkan menurunnya pertumbuhan tulang atau melemahnya akal. Sebagaimana yang ditetapkan dalam ilmu medis, bahwa rasa takut, marah, dan khawatir bagi ibu akan mempengaruhi sistem syaraf yang berpengaruh pada sisi fisiologi. Hal ini akan mengakibatkan perubahan komposisi kimia dalam darah, akan berpengaruh pada pertumbuhan janin.

            Bersikap penuh kasih, cinta, dan lemah lembut memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap jiwa dan emosi ibu. Ketika ibu hamil jauh dari perasaan takut, khawatir, dan marah maka hal itu akan memberikan pengaruhi positif pada kesehatan janin.

            Dalam ajaran Islam terlihat bahwa menumbuhkan kecintaan dan kasih sayang kepada istri, terutama yang sedang mengandung, mengandung nilai ibadah sedekah yang tergabung ke dalam upaya silaturrahmi atau menggembirakan yang berpahala besar. Pahala itu menjadi dua kali besarnya karena menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang kepada istri yang sedang mengandung berarti sekaligus menumbuhkan kecintaan dan kasih sayang kepada anak yang sedang dikandungnya. (Baihaqi, 2000:117)

            Suasana emosional dan jiwa yang harmonis dalam keluarga juga memberikan pengaruh baik pada janin. Rasulullah bersabda, “Berwasiatlah kepada istri kalian tentang kebaikan. Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang yang bengkok. Jika kamu meluruskannya, maka ia akan patah. Namun, jika kamu membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiatlah tentang kebaikan kepada istri kalian.”

            Hal lain yang dapat mempengaruhi janin adalah suasana kejiwaan. Sikap yang lemah lembut antara suami istri dan menjauhi konflik serta pertengkaran memiliki pengaruh positif terhadap pertumbuhan janin. Abu Darda berkata kepada Istrinya, “Jika kamu melihatku sedang marah, maka kamu harus meredamnya. Dan bila aku melihatmu sedang marah, maka aku akan meredamnya. (Yaitu dengan diam, tidak membalasnya dengan kemarahan). Jika kita tidak seperti ini, maka kita tidak akan pernah bisa hidup dengan bahagia dan damai.”

            Pengaruh lain terhadap janin keinginan ibu untuk hamil. Seorang ibu yang benci dengan kehamilannya, tekanan emosionalnya lebih besar daripada ibu yang bahagia dengan kehamilannya. Perasaan seorang ibu yang bahagia dengan kehamilannya dan berada dalam rumah tangga yang penuh dengan ketenangan serta keharmonisan, akan banyak memberikan dampat positif terhadap kesehatannya dan kepada pertumbuhan janin yang dikandungnya.

            Kedua, lingkungan ekstern yaitu lingkungan Alam, lingkungan sosial, dan lingkungan mentalitas. Semua ini dapat mempengaruhi kepribadian anak. Namun yang menarik bagi penulis untuk dikaji adalah Lingkungan mentalitas.

            Keadaan jiwa yang meliputi seseorang sangat mempengaruhi tabiatnya dan pembentukan kepribadiannya. Seseorang yang hidup dalam sebuah lingkungan yang terpenuhi kebutuhan jiwanya, berbeda dengan orang yang hidup dalam sebuah lingkungan yang tidak terpenuhi kebutuhan jiwanya.

            Ketika kebutuhan fisiologi seseorang terpenuhi -seperti makanan dan udara- juga kebutuhan jiwa terpenuhi yang berupa rasa aman dan cinta, maka kemungkinan besar dia dapat mewujudkn apa yang diinginkannya. Setiap orang berusaha untuk mewujudkan hal-hal berikut ini untuk memenuhi kebutuhan. Yaitu Cita-cita, sarana yang dipakai untk meraih cita-cita tersebut, pekerjaan yang dapat mendatangkan rezeki, dan hubungan sosial yang dapat menghubungkannya dengan orang lain dari berbagai lapisan dan dengan budaya  yang ada. Islam sangat memperhatikan lingkungan mental.

            Islam menganjurkan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhan mental ini dengan memberikan arahan dan aturan yang sangat baik.

            Pada bab empat dari buku ini “Nilai-nilai Pendidikan” Ali Murshafi lebih lanjut mencoba mengupas peranan nilai-nilai pendidikan, khususnya nilai moral di keluarga dan di sekolah, karena keluarga dan sekolah dipandang sebagai lembaga pendidikan terpenting dalam mengembangkan kemampuan intelektual anak, membangun pemikiran ilmiah yang konstan, serta meningkatkan kebiasaan dan nilai-nilai anak dengan cara memenuhi segala kebutuhan, seperti: rasa cinta, kasih sayang, kehangatan, dan belas kasih.

            Hal ini memerlukan kesadaran dari orang dewasa yang telah berpengalaman  untuk mendidik anak. Sebab, mereka memiliki pengalaman-pengalaman, mampu melaksanakannya, serta mengevaluasinya dalam memberikan pengarahan yang lebih baik kepada anak-anak yang sedang belajar untuk masyarakat, serta pandangan masa depannya. Dasar moral ini berhubungan dengan tujuan, perantara, dan sarana yang ikut berperan dalam mengarahkan anak serta meningkatkan dan mengembangkan pola pikir mereka.

            Di sinilah pentingnya pemikiran mengenai tata cara mendidik anak, apa lagi kita sekarang hidup di abad era informasi dan globalisasi. Saat ini sangat diperlukan untuk membangun generasi yang kuat yang bersenjatakan iman dan ilmu, mampu memimpin perkembangan dan pembaharuan, serta mampu menaklukkan teknologi, demi membantu terialisasinya tujuan-tujuan negara dan umat di bawah nilai-nilai pendidikan Islam.

Anak merupakan amanah ditangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika dia dibiasakan untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan diakhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta diabaikan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa. (Jamaal, 2005:19)

Karenanya, Islam mewajibkan para orang tua untuk berusaha semaksimal mungkin dan secara terus menerus memperbaiki karakter anak hingga dewasa dengan membiasakan mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar hal itu membantu mereka beradaptasi secara baik dengan anggota-anggota masyarakat di sekitar mereka.

            Mengenai objektifitas dan subjektifitas nilai-nilai, sebagian filosuf terdahulu –seperti Plato dan Aristoteles- memandang bahwa nilai-nilai itu bersifat objektif yang berhubungan dengan alam idealisme dan terlepas dari kesadaran manusia. Namun, para pengikut logika berpendapat bahwa nilai-nilai itu tidak bisa lepas dari indra dan usaha-usaha manusia, bahkan indra inilah yang memberikan penilaian terhadap objek-objek yang dinilai.

            Berdasarkan hal-hal di atas, setiap nilai harus memiliki dua sisi, yaitu subjek untuk menilai dan objek untuk dinilai.  Ali Murshafi cendrung mengatakan dalam buku ini bahwa nilai-nilai itu bersifat objektif dan subjektif sekaligus, terlebih lagi hal ini sesuai dengan ajaran  Islam. Islam adalah agama langit yang datang dengan membawa nilai-nilai yang menciptakan kebahagian bagi individu di dunia dan akhirat. Jika dipandang dari sumbernya, maka nilai-nilai dalam Islam bersifat objektif yang bersandarkan kepada Pencipta alam semesta, yaitu Allah.

            Nilai-nilai itu terkadang merupakan sebuah tujuan, terkadang ia adalah sarana dan terkadang pula ia menjadi tujuan sekaligus wasilah dalam satu waktu. John Dewey berpendapat bahwa tidak ada pemisah antara apakah nilai-nilai itu merupakan tujuan ataukah ia adalah sarana. Sebab tujuan-tujuan itu bersumber dari aktivitas itu sendiri dan tidak pernah ada akhirnya.

            Ada juga yang berpendapat lain. Ia beranggapan bahwa perbedaan antara nilai-nilai itu -merupakan tujuan atau sarana- terletak pada hubungan fungsional di antara keduanya. Artinya bahwa tipe-tipe prilaku dianggap sebagai sarana dalam mengaktualisasikan tujuan-tujuan tertentu dan sarana ini tidak disyaratkan dapat memahami perasaan. Barangkali satu sarana mampu mengaktualisasikan beberapa tujuan dan begitu pula sebaliknya, beberapa sarana hanya mengaktualisasikan satu tujuan saja.

            Berdasarkan keterangan di atas, bisa dikatakan bahwa tidak ada pemisah antara nilai-nilai itu sebagai tujuan atau sebagi sarana, selama manusia terus mencari pemantapan ‘ubudiyah kepada Allah dalam setiap ibadah-ibadahnya serta berinteraksi dengan-Nya.

            Tujuan peningkatan sosial di tengah-tengah keluarga dan sekolah adalah untuk memberikan nilai-nilai pendidikan kepada anak yang diakui oleh masyarakat, individu, dan diakui oleh lembaga-lembaga Negara. Di samping itu, di antara tujuan-tujuan adalah menyiapkan individu untuk satu pekerjaan tertentu, yang biasa ditekuni ketika dewasa. Pihak sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada yang lain dalam  merealisasikan tujuan ini.

            Selain itu, sekolah juga memiliki komitmen total dalam membantu anak untuk meningkatkan kemampuannya sebaik mungkin. Suksesnya seluruh proses sosialisasi bergantung pada seberapa jauh keluarga dan sekolah senantiasa memelihara dan memperaktekkan nilai-nilai, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

            Kelurga dengan kebudayaan serta nilai-nilai pendidikan yang memilikinya dapat memberikan dan mengarahkan anak agar memperoleh pusaka kebudayaan dan nilai-nilai pendidikan tersebut. Di antara nilai-nilai pendidikan yang terpenting adalah kejujuran dan amanah. Namun, hal itu sangat tergantung pada tipe interaksi keluarga dan jenis-jenisnya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Herbert Gans yang membagi tipe interaksi keluarga menjadi tiga macam.

            Pertama, Keluarga yang berpusat pada orang dewasa. Yaitu keluarga yang diperankan oleh orang dewasa untuk orang dewasa. Pada keluarga tipe ini, anak mengikuti jejak orang tuanya. Para anak berusaha sendiri untuk mengikuti semua perilaku orang dewasa. Orang tua dalam keluarga tipe ini tidak memiliki kesadaran dalam mendidik anak mereka, tidak memperhatikan pendidikan anak-anak mereka sesuai tujuan yang harus dilaksanakan, tidak memiliki pandangan yang jelas tentang posisi sosial di masa depan. Juga, mereka tidak tahu sama sekali bagaimana membangun masa depan anak-anak mereka, selama proses mendidik anak.

Kedua, Keluarga yang berpusat pada anak kecil, yaitu ayah merancang masa depan anak, tingkat ambisi ayah mempengaruhi anak yang akan dilahirkan, keluarga yang berpusat pada anak diliputi oleh persaudaraan. Para ayah menghabiskan banyak waktu untuk bermain bersama anak-anak mereka. Mereka melakukannya dengan sepenuh hati, senantiasa membuat masa kecil anak lebih bahagia dari yang dirasakan oleh ayahnya dulu, dan para ayah berangan-angan bahwa anak-anaknya akan menuai kesuksesan kelak dan mendapatkan profesi yang lebih baik daripada ayahnya.

Ketiga, keluarga yang dikendalikan orang dewasa, dengan tipe keluarga mempunyai ciri yaitu: Mereka telah mengenyam pendidikan perkuliahan, para orang tua lebih memahami keinginan anak-anak mereka dibandingkan orang tua yang terdapat dalam keluarga tipe pertama. Sedangkan anak-anak mereka mempunyai ciri yaitu: Cenderung berkembang sendiri, selalu berjuang demi mengembangkan dirinya, sesuai dengan tabiat yang khusus untuk kepribadian mereka

Meskipun pada kenyataannya tipe-tipe keluarga di atas sangat berpengaruh terhadap pengasuhan anak serta penyampaian kebudayaan masyarakat dan tingkah laku keluarga, akan tetapi tetap saja ibu lebih dulu berperan dalam pendidikan sosial. Karena, ibu merupakan agen pertama dalam pendidikan sosial. Bahkan, dia merupakan orang pertama dalam masyarakat yang dijumpai anak melalui perhatian, perasaan, serta simbol-simbol yang dapat mengajarkan tabiat kemanusiaan kepada anak.

Dalam mendidik kepribadian anak, baik pendidikan keluarga maupun sekolah mengalami berbagai kendala dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan yaitu kejujuran dan amanah kepada diri anak. Adapun kendala-kendala tersebut dan cara mengatasinya menurut Ali Murshafi dalam buku ini di antaranya:

 

1. Kondisi Ekonomi Keluarga

            Keluarga dengan tingkat ekonomi tinggi -pada umumnya- memandang sangat perlu untuk memiliki sarana-sarana penunjang demi meraih kebudayaan, peradapan, kemajuan, serta menciptakn keharmonisan antara nilai kejujuran dan amanah dengan orientasi-orientasi dan pemahaman-pemahaman baru yang diperolehnya. Hal itu dapat diaktualisasikan dengan menyediakan perpustakaan untuk anak, ruang untuk belajar, guru-guru khusus, serta seluruh kompenen pendidikan lain.

            Karena itu, tanggung jawab Negara yang paling utama adalah menaksir perbedaan level ekonomi antar masyarakat, sehingga sebagian besar keluarga dalam masyarakat akan mampu menyediakan kehidupan sejahtera. Dengan demikian, mereka mampu menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat membantu putra-putri mereka memperoleh pendidikan yang layak serta nilai-nilai pendidikan lainnya.

 

2. Sebagian Wanita disibukkan oleh Pekerjaan

            Banyak dari mereka beralasan bahwa keluarganya wanita untuk bekerja merupakan sebuah keharusan, bahkan merupakan hal yang mendesak untuk saat ini, mengingat kompetisi hidup yang semakin berat sekaligus sebagai tambahan pendapatan keluarga. Untuk itu mereka mengorbankan interaksi yang benar terhadap anak, yang akhirnya berakibat pada rusaknya nilai-nilai anak.

            Karena itu, seorang ibu lebih memperhatikan kondisi rumah tangga dan juga anak-anaknya dengan tidak menelantarkan pekerjaannya. Sekurang-kurangnya seorang ibu menemani anaknya selama dua tahun pertama masa kelahirannya. Setelah itu, si Ibu mengatur aktivitasnya dengan tidak melupakan perannya yang hakiki dalam bersosialisasi. Hal itu itu karena ibu layaknya sebuah bangunan yang memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda. mulai tingkatan dasar adalah tingkatan biologi kesehatan, emosi, kemudian  intelektual dan bahasa, dan tingkat yang terakhir adalah sosial.

 

3. Tidak Adanya Ayah di Rumah dalam Waktu yang Lama

            Tekanan-tekanan hidup dan bertambahnya beban yang dipikul keluarga memaksa ayah untuk membanting tulang dan memeras keringat agar dapat menutupi tuntutan-tuntutan hidup yang paling asasi. Karena itulah, ayah sering meninggalkan rumah dalam waktu yang lama dan terkadang bisa lebih lama dari waktu biasanya, sehingga banyak dari mereka yang hanya sebentar saja dapat melihat anak-anak mereka, pada hal anak-anak tersebut membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang yang dewasa.

            Karena itu, seorang ayah senantiasa mengemban tanggung jawab moral untuk  membimbing dan memberikan arahan kepada anak-anaknya dalam kehidupan rumah tangga dari sesuatu yang dapat merusak nilai moral anak, misalnya pengaruh media masa, baik itu surat kabar, radio, maupun telivisi.

 

4. Melimpahkan Tanggung jawab Pendidikan Sosial ke Pihak Sekolah

            Dari kesibukan orang tua dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga, menyebabkan para orang tua menyerahkan atau mendatangi lembaga-lembaga pendidikan untuk memasrahkan pendidikan anak mereka di tangan lembaga tersebut dan mereka menyakini bahwa pendidikan sekolah lebih memberikan harapan positif dalam menanamkan nilai pendidikan, jika dibandingkan standar pendidikan yang diberikan para ayah dan ibu.

            Karena itu, para orang tua mempunyai kewajiban awal dalam mendidik anak mereka, tidak sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak ke pihak sekolah. Disamping itu, para orang tua mengharuskan kerja sama yang baik dari seluruh lembaga-lembaga, terlebih lembaga pendidikan dalam rangka memberikan nilai-nilai yang benar kepada anak.

 

Selanjutnya, kendala-kendala sekolah dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan di antaranya:

1. Anak Sekolah Merasa Terasing sehingga Membuatnya Kehilangan Kemampuan   

    untuk Menyerap Ilmu Pengetahuan

Ada semacam sekat yang memisahkan antara apa yang mereka pelajari secara teori di sekolah dengan apa yang dilihatnya dalam masyarakat. Secara teori tanggung jawab sekolah tidak hanya terletak pada pemberian ilmu pengetahuan dan sebagai sarana pendidikan sosial agar anak-anak mampu beradaptasi dengan masyarakat dan dunia yang berubah-ubah saja. Namun, ia juga berperan untuk sebisa mungkin mendorong anak-anak agar lebih kreatif. Anak perlu diajarkan tentang nilai-nilai moral, selain belajar tentang ilmu pengetahuan dan teknologi, Sekolah sebagai lembaga pendidikan seharusnya berusaha menyampaikan pengetahuan-pengetahuan, keahlian-keahlian, serta nilai-nilai moral sosial kepada anak-anak. Ketika pihak sekolah tidak melaksanakan peranan itu, maka anak akan hidup dalam keterasingan.

Karena itu, membangun kebijaksanaan Negara-negara yang dilaksanakan dan diikutii oleh tokoh agama, pendidikan, ekonomi, dan politik demi mengolaborasikan usaha-usaha setiap unsur tersebut dalam memberikan nilai-nialai pendidikan kepada anak. Sehingga, hal tersebut menjadi solusi atas kemerosotan tingkat moralitas dan rendahnya nilai-nilai pendidikan yang terjadi di masyarakat.

 

2. Sistem Pengajaran Konvensional terhadap Anak dan Tidak Ada Kurikulum yang    

    Cocok untuk Memberikan Nilai-nilai Pendidikan kepada Anak

Sekolah-sekolah yang ada sekarang ini hanyalah merupakan tempat pendektean dan memperdalam pengetahuan-pengetahuan umum dengan segala jenisnya, tanpa ada ikatan moral dan hubungan yang baik antar elemen yang ada di dalamnya. Seharusnya, selain mengajarkan ilmu pengetahuan, sekolah juga mengajarkan nilai kejujuran dalam berbuat dan bertutur kata, sehingga pengetahuan dan moral dapat berjalan dalan dua jalan yang seimbang.

Karena itu, di sekolah-sekolah menambah jam pelajaran pendidikan agama dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dan moral. Para pendidik seyogianya memberikan pengajaran pendidikan agama tersebut yang menyenangkan dan mudah mengamalkannya melalui berbagai macam metode pengajaran, dari sesuatu yang sederhana kepada yang sulit, dari hal-hal yang mudah dikenal di sekitar siswa menuju yang abstrak dst.

 

3. Sedikitnya Guru yang Mampu Menumbuhkan Nilai-nilai Pendidikan

Persoalan lain, sedikit sekali ditemukan guru yang mampu memberikan pengetahuan yang benar serta mampu membangun hubungan sosial yang baik, selama aktivitas belajar mengajar di kelas. Tindak tanduk  serta prilaku guru  di depan kelas, memberikan teladan yang mengikuti ilmu dan moral, serta mendiskusikan aspek-aspek moral bersama siswa hanya dilakukan untuk memberikan standar-standar nilai kepada anak.

Karena itu, para guru harus memaksimalkan peranannya dalam mendidik sosial anak dengan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari melalui mengaktualisasikan nilai-nilai moral seperti tolong menolong, mengutamakan orang lain, kasih sayang, kejujuran dan amanah dalam beraktivitas di sekolah. Di samping itu, hendaknya guru menjadi teladan yang baik di depan anak, dan berupaya meningkatkan pribadi dan kemampuannya agar dapat membantu anak didik dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan.

 

Kesimpulan

            Dalam membangun kepribadian anak, sangat strategis peranan pendidikan, baik pendidikan oleh orang tua lingkungan rumah tangga, pendidikan sekolah maupun pendidikan di lingkungan masyarakat.

            Keluarga, sebagimana berperan dalam menentukan profesi anak di masa depan, dia juga berperan dalam memberikan pendidikan dalam masyarakat. Di samping mengarahkan anak dengan cara menjadi teladan dalam aktivitas sehari-hari, membiasakan beribadah secara teratur, serta membandingkan dan mencontoh aktivitas yang baik dari seseorang, keluarga juga harus mengarahkan anak tentang kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam masyarakat.

            Agar sekolah tidak ditinggalkan oleh masyarakat, namun dapat melakukan perannya dalam pendidikan sosial dengan baik, maka ia harus berupaya mewujudkan kebutuhan-kebutuhan anak, khususnya yang berhubungan dengan beberapa kegiatan dan gerakan. Sehingga sekolah tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan saja, namun harus diselingi dengan kegiatan yang mengandung hiburan atau permainan yang dapat memotivasi kecintaan belajar.

 

 

 

 

 

 

 


Daftar Pustaka

 

Abd, Hisyam, Razaq Al-Hamshy, 2003, Al-Athfaal Bahjat Al-Hayaah wa Amal Al - Musraqbal, Terj. Imran Rosadi, Kiat Mendidik Anak Masa Depan, Jakarta, Najla Press.

 

Abdur, Rahman, Jamaal, Athfaalul Muslimin, 2005, Kaifa Rabbaahumun Nabiyyul Amiin, Terj. Bahrum Abubakar Ihsan Zubaidi, Lc, Tahapan Mendidikan Anak, Teladan Rasulullah, Jakarta, Irsyad Baitus Salam.

 

A.K, Baihaqi, 2000, Mendidik Anak dalam Kandungan Menurut Ajaran Islam, Jakarta, Darul Ulum Press.

 

Ali, Muhammad, Murshafi, Kaifa Turabbi Thiflak, 2009, terj. oleh Muhtadi Kadi, dkk dengan judul  Mendidik Anak agar Cerdas dan Berbakti”,Surakarta, Ziyad Visi Madia

 

Athiyah, Hanna, Ath-Thuri, 2007, Ad-Daur At - Tarbawy Li Al-Walidain fi Tansyi’ah Al-Fatah Al-Muslimah fi Marhalah Ath-Thufulah, Terj. Aan Wahyudin, Mendidik Anak Perempuan di Masa Kanak-kanak, Jakarta, Sinar Grafika Offset

 

Daradjat Zakiah, 2001, Pendidikan dan Agama Akhlak bagi Anak dan Remaja, Jakarta, PT. Logos Wacana Ilmu.

 

Kholil, Syukur, 1994, “Miqat” IAIN SU No. 85 Th. XX.

 

Noorsyam, Muhammad, 1986, Fisafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan pancasila, Jakarta

 

Sayyid, Muhammad, Muhammad az-Za’balawi, 2007, Tarbiyyatul Muraahiq bainal Islam wa Ilmin Nafs, Terj. Abdul Hayyie al-Kattani, Pendidikan Remaja antara Islam dan Ilmu Jiwa, Jakarta, Gema Insani.

 

 

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Kajian Buku arrow Problematika Pendidikan Keluarga dan Sekolah dalam Mencerdaskan Anak Didik