Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

MENYOROTI PEMIKIRAN YANG BERKEMBANG DALAM KAJIAN AL-QUR’AN Cetak E-mail

Oleh. HM.Abdan Syukri.

Dr. Phil. H. H.M. Nur Kholis Setiawan, Pemikiran Progresif Dalam Kajian Al-Qur’an. Penerbit : Kencana Prenada Media Grop, Jakarta, 2008. Dengan 200 halaman, ukuran 20,4 x 13,5 cm.

I.                    Pendahuluan

Awal makalah review buku ini di mulai dengan data penulis/pengarang, yakni nama Dr.Phil.H. M. Nur Kholis Setiawan yang lahir 10 Nopember 1970, dan dibesarkan dalam pesantren di Gombong Jawa Tengah. Dia menempuh pendidikan dasar dan menengah pertama di kota kelahirannya, melanjutkan SLTA di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Sarjana S 1 di IAIN/UIN Sunan Kalijaga (1994), S2 Islamic Studies dari Leiden University (1997), Netherland, dan Ph.D dalam bidang Kajian Ketimuran dari Bonn University Jerman (2004). Mengajar di Pesantren Wahid Hasyim, Yogyakarta, dan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta, dan Direktur Pascasarjana UNSIQ Jawa Tengah, serta menjadi Pengurus Pusat Lakpesdam NU 2005-2010. Dan banyak lagi jabatan-jabatan tinggi lainnya yang ia duduki. Demikian pula banyak karya yang telah dihasilkan, baik dalam bentuk buku dan artikel ilmiah dalam bahasa Jerman, Inggeris, dan Indonesia. Di antaranya : “Das Zusammenbleiben von Hindu und Muslime in Indonesiien” (2008)Jerman); Zum Umgang Mit dem Anderen: Nahdlatul Ulamas Beitrag fur das Religiose Leben In Indonesien” (2007-Jerman); “Intellektuelle sollten den religiosen Aspek des Islam uberdenken”2007/Jerman); “ Anti –Semitism in Indonesia: A Simplification of a Multi-Facet Islam” (2007/Inggeris) dan lain-lain.

Al-Qur’an yang diturunkan kepada manusia dengan perantaraan malaikat Jibril a.s. menggunakan bahasa Arab agar dapat dimengerti; sedang bahasa aslinya hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya; dimaksudkan bahasa aslinya ialah kalam Allah SWT yang qadim tanpa huruf dan tanpa suara. Ada beberapa ayat yang menunjukkan hal ini yaitu: “Sesungguhnya kami jadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.” (QS. Al-Zukhruf:3). 1 

Apa yang menjadi alasan utama dalam penulisan buku ini adalah karena banyaknya tulisan-tulisan yang bernada menghujat, menganggap murtad, bahkan mengafirkan terhadap komunitas tertentu dalam kesejarnaan muslim Indonesia yang dimuat dalam pelbagai media, baik buku, majalah dan lain-lain.

________________

1.    KH. Husin Naparin, Lc., MA. “ Nalar Al-Qur’an Refleksi Nilai-Nilai Teologis & Antropologis, Penerbit: El-Kahfi, hal 24, Jakarta, tahun 2004

 Hujatan-hujatan yang tertuang dalam media-media tersebut mencerminkan adanya kebencian dan dominasi emosional ketimbang spirit intelektual- akademis. Dari itu pada gilirannya akan menggiring kepada kepercayaan/kefahaman atau image public/masyarakat bahwa komunitas yang terhujat menjadi pihak terdakwa/salah sekaligus berdosa dalam keislamannya. Tentu saja tulisan-tulisan semacam perdebatan yang bernada menghujat yang ada dalam buku M. Nur Kholis Setiawan ini, bertentangan dengan realitas sejarah pemikiran Islam klasik. Banyak pemikir pada abad pertengahan hingga abad modern ikut memberikan andil interpritas mengenai kode dan saluran teks kitab suci. Sebuah teks kitab suci masyarakat muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber religiositas dan etika utama dalam realitas sosial yang memuat ilmu dan kekuasaan Allah, yang tidak mudah dipahami oleh pembacanya.

Para pembaca bisa saja salah tafsir terhadap permasalahan dan persoalan yang dibahas dalam ayat (irtibat al-ayat). Kesalahan penafsiran bisa disebabkan penafsir memahami teks dengan begitu saja tanpa meletakkannya dalam konteks tata-situasi kebudayaan dan tanpa mempertimbangkan sejarah dari turunnya teks (nash) atau asbab an-nuzul. 2

Di permulaan buku ini penulis memaparkan mengenai Pemikiran Progresif Dalam Sorotan, jika dilihat dari produk munculnya sindikasi gerakan pemikiran gerakan keislaman, terutama dari kalangan muda ormas Islam merupakan salah satu indikator. Di antaranya adalah jaringan Islam Libral, sindikasi yang oleh banyak kalangan dianggap merepresentasikan kelompok anak muda NU, karena faktor Ulil Abshar di dalamnya, Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), ditilik dari namanya, merupakan wadah bagi generasi Muda Muhammadiyah. Ada lagi yang menamakan dirinya kelompok Post-tradisionalisme Islam atau disingkat POSTRA. Untuk kelompok JIL dan JIMM sama-sama mengampanyekan kebebasan berpikir, dan menghidupkan semangat berijtihad. Sedangkan Postra banyak mengedepankan gerakan revitalisasi tradisi dan khazanah intelektual Islam klasik. Jaringan Islam Liberal sangat keras menolak formalisasi Islam. Kemudian di antara buku-buku bermunculan pada beberapa tahun terakhir yang ditulis oleh kelompok yang menganggap dirinya “pembila” Islam , salah satunya adalah Hartono Ahmad Jaiz seorang lulusan dari perguruan tinggi agama Islam.

Dalam rangka menyelamatkan Islam dari derasnya arus pemikiran progresif yang mereka anggap mengarah kepada liberalisme pemikiran. Dalam hal ini pernyataan Hartono Ahmad Jaiz dianggap terdapat kelemahan-kelemahan dan cacat, lebih mengedepankan emosional, tidak berdasar, sekedar asal comot dan lain-lain. Pada akhirnya dikemukakan bahwa arti penting hermeneutika dalam kaitannya dengan AL-Qur’an sebagai teks terletak pada perannya yang proporsional dalam menetapkan pertanyaan-pertanyaan mengenai refleksi teologis sebagai prosedur penafsiran.

________________

Htt:/klik2agama.blogspost.com/2008/11meretas-pemahaman-yang-demokratis.html

 

 

Terlebih bisa juga dikatakan dalam pergulatan dengan teks secara akademis. Dengan demikian, fungsi hermeneutika sejatinya mirip dengan ta’wil yang juga amat lazim digunakan oleh para mufasir sebagai salah satu bentuk resepsi terhadap Al-Qur’an. Dengan demikian, hermeneutika tidak seperti yang dikhawatirkan Hartono akibat keterbatasan bacaan mengenai hermeneutika.

Dalam Islam, bagi muslim liberal, bahasa Al-Qur’an sederajat dengan hakikat wahyu, namun isi dan makna pewahyuan pada dasarnya tidak bersifat harfiah-verbal. Karena kata-kata dalam Al-Qur’an tidak secara langsung mengungkapkan makna pewahyuan, maka diperlukan upaya pemahaman yang berbasis pada kata-kata, dan mencari apa yang sesungguhnya hendak diungkapkan atau diwahyukan melalui bahasa. Dengan memahami pembahasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan antara Islam progresif dan Islam liberal adalah terletak pada prinsip keterlibatannya. Islam liberal hanya bergerak pada tataran discourse, sementara Islam progresif tidak hanya bergerak pada tataran discurse, tapi juga melakukan aksi untuk membumikan gagasan-gagasannya. Oleh karenanya yang penting bukannya salah menyalahkan dan curiga mencurigai, namun tidak melanggar yang prinsif dasar pokok kaedah yang menjadi acuan, dan tidak menyimpang dari aturan dan hukum yang dipakai para ulama/sahabat dahulu. Di samping itu liberal dan progresif yang dilabelkan pada dunia pemikiran meniscayakan kebebasan individu dalam mengekspresikan pendapat, gagasan tanpa hambatan secara intimidasi.

Dalam bukunya juga dikemukakan penulis mengenai “ Elemen-elemen Pemikiran Liberal dan Progresif Dalam Kesrjanaan Muslim”  dimulai dengan bahasan tentang pendekatan terhadap Al-Qur’an dengan menggunakan telaah filsafat bahasa dan sastra telah banyak dilakukan oleh para sarjana muslim klasik.  Disinggung juga perdebatan antara Mu’tazilah dengan Asy’ariyah seputar persoalan tauhid, atau yang dikenal dengan persoalan sifat-sifat ketuhanan, apakah ia merupakan dzat (substansi) itu sendiri atau ia sebenarnya merupakan aksiden terhadap dzat ?, merupakan perbedaan yang bersifat formal yang telah dipecahkan oleh Al-Baqillani (w.403), karena dipengaruhi oleh Abu Hasyim Al-Jubba’I (w.330).

 Meskipun demikian terdapat sisi persamaan anatara Mu’tazilah dengan Asy’ariyah berkaitan dengan interpretasi ayat-ayat sifat atas dasar pendapat bahwa ayat-ayat tersebut merupakan ekspresi metaforis tentang fakta-fakta ketuhanan. Demikian juga dalam hal ini sahabat Ibnu Abbas upanya untuk menafsirkan Al-Qur’an dengan mempertimbangkan perangkat bahasa Arab terlalu sedikit diperhatikan dalam diskursus kajian keislaman secara umum khususnya dalam persoalan teologis pasca terbentuknya kelompok khawarij sebagai penentang Ali ibn Abi Thalib, kebenaran ajaran Ali serta menunjukkan dan membuktikan kekeliruan kelompok khawarij.     

Contoh Ibn Abbas memberikan interpretasi pada kata “kursy” tetap ditafsirkannya sebagai pengetahuan Tuhan yang tentunya pemahaman seperti itu lahir dari proses penta’wilan . Jika diruntut, aktivitas ta’wil yang dilakukan oleh Ibn Abbas dalam kasus ayat ini mendekati tradisi kelompok Mu’tazilah. Contoh lainnya adalah penafsiran Mujahid Ibn Jabbar salah seorang murid Ibn Abbas terhadap 18:34, wa-kana lahu tsamarun fa-qala li-sahibihi wa-huwa yuhawiru ana aktsaru minka malan wa-a’azzu nafaran, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya ketika ia bercakap-cakap dengan dia, hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikutku lebih kuat”. Kata tsamar yang semula atau bermakna dasar “buah” diartikan oleh mujahid sebagai emas dan perak. Secara semantik antara emas dan perak di satu sisi dengan buah di sisi yang  lain tidak memiliki relasi medan semantik, karena dua-duanya memilki arti baik denotatif maupun konotatif masing-masing. Dalam konteks ayat ini Mujahid melakukan peralihan makna dari makna dasar kemakna relasional berdasarkan konteks pembicaraan ayat secara keseluruhan. Akan tetapi, memang tidak ditemukan alasan pasti mengapa Mujahid melakukan interpretasi demikian. Yang jelas, perubahan makna yang dilakukan oleh Mujahid terhadap kosakata dalam ayat tersebut menunjukakkan arti pentingnya konteks dan pertimbangan “lokalitas” dari sebuah teks. Penafsiran yang dilakukan oleh Mujahid bisa disebut dengan penjelasan serta penafsiran filologis terhadap Al-Qur’an.

Dari paparan yang diulas dalam bab ini dapat disimpulkan bahwa budaya pemikiran kritis, saling debat, dan saling adu argomen termasuk dalam kajian yang sangat sensitif yakni teks suci keagamaan, Al-Qur’an merupakan sesuatu yang telah lazim dalam khazanah keislaman, bahkan menjadi sebuah kekayaan yang tiada ternilai. Jika pemikiran kritis dan saling adu argomen merupakan elemen yang fondamen dalam pemikiran liberal progresif dalam kajian keislaman bukan merupakan “barang haram”, mesti diberangus dan diperangi, justru sebaliknya merupakan suatu tradisi yang perlu dilestarikan, dikembangkan, dan ditumbuhsuburkan.

2.   Ringkasan dan Analisis Isi Buku Pemikiran Progresif Dalam Al-Qur’an

Pemikiran progresif yang salah satunya diwujudkan dalam pendekatan sastra terhadap Al-Qur’an dimotori oleh Amin Al-Khuli dipertengahan abad ke dua puluh. Keseriusan Al-Khuli dalam menkaji Al-Qur’an tidak bisa dilepaskan dari kajian-kajiannya terhadap bahasa dan sastra Arab. Menyusul perhatiannya terhadap sastra dan kesusastraan Arab secara umum, Al-Khauli kemudian mengarahkan perhatian pada studi-studi Al-Qur’an. Ia merupakan editor dan annotator beberapa artikel, salah satunya tentang tafsir, yang ditulis oleh Carra de Vaux yang dimuat dalam Enzyklopedi des Islam ketika ensiklopedia tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Ulasan Al-Khuli ini kemudian diterbitkan sendiri menjadi Al-Tafsir Ma’alim Hayatihi Manhajuh al-Yawma oleh Dar Al-Ma’rifa tahun 1962. Kajian ini juga difokuskan pada aspek sosial- historis Al-Qur’an, termasuk di dalamnya situasi intelektual, kultural, dan geokrafis masyarakat Arab abad ke tujuh tatkala Al-Qur’an diturunkan. Ringkasnya kajian ini menitikberatkan pada arti pentingnya aspek-aspek historis, sosial, kultural dan antropologis wahyu bersamaan dengan masyarakat Arab abad ke tujuh sebagai objek langsung teks wahyu tersebut. Al-Khuli menawarkan metode tafsir yang lebih dikenal dengan tafsir susastra terhadap Al-Qur’an, al-tafsir al-adabi li-al-qur’an. Metode ini untuk mendapatkan pesan Al-Qur’an secara menyeluruh dan bisa diharapkan terhindar dari tarikan-tarikan individual-ideologis. Hasil penafsiran yang perlu dikemukakan di sini adalah bahwa para Nabi adalah makhluk sempurna yang memiliki segala macam kelebihan bahkan kesucian. Mereka dianugerahi intelektualitas luar biasa serta kreativitas tiada henti sehingga mampu menjadi penerang bagi umatnya. Di samping itu, mereka juga terhindar dari kesahan-kesalahan kemanusiaan yang dapat merusak kesucian mereka. Al-Khuli memang bukan orang yang pertama melakukan kerja penafsiran tematik, akan tetapi setidaknya ia merupakan salah satu sarjana muslim yang menekankan keniscayaan metode tematik ini untuk dapat memahami teks secara total dan tidak sekedar atomistik. Jika dibandingkan deengan sarjana Mesir kontemporer pasca-Abduh, Mahmud Shaltut. Dan lain-lain.

Sumbangan penting yang mungkin dihasilkan tafsir tematik adalah upaya untuk mengetahui wawasan global al-Qur’an (an-nazhratu al-kulliyyah li al-Qur’an), besrta konsep atau gagasan  al-Qur’an (al-Fikru al-Qur’ani). Atau dengan ungkapan yang lebih sederhana, bagaimana mengetahui sikap al-Qur’an terhadap pelbagai pokok perbincangan al-Qur’an itu sendiri. Inilah yang sulit atau mustahil dicapai oleh tren tafsir yang konvensional menurut susunan surah-persurah. 3    

Dalam hal ini Erat kaitannya dengan metode susastra, al-Khuli menolak kecenderungan tafsir saintifik, al-tafsir al-ilmi. Model penafsiran yang didefinisikan sebagai sebuah penafsiran yang memasukkan peristilahan-peristilahan keilmuan kontemporer dalam terminologi Al-Qur’an serta berupaya mendeduksi segala bentuk ilmu pengetahuan tersebut dari teks-teks Al-Qur’an, menurut Al-Khuli, tidak selaras dengan misi tafsir susastra. Bagi Amin al-Khuli, sarjana yang dengan sangat sistematis menolak tafsir saintifik sebagai model interpretasi. Argomen-argomennya banyak diakui oleh sarjana Mesir kontemporer yang tidak sepakat dengan tafsir ilmiah sebagai cara penafsiran. Ketidakberesan tafsir saintifik menurut al-Khuli terletak 3 (tiga) aspek. 1) Aspek bahasa. Penafsiran saintifik tidak kompatibel dengan makna kata-kata Al-Qur’an. 2) Dari segi filologi dan ilmu bahasa serta sastra. 3) dari segi sisi teologis. Oleh karena itu penolakan al-Khuli terhadap tafsir saintifik ini pada prinsipnya dipengaruhi oleh perhatiannya yang sangat besar terhadap pendekatan sastra, al-manhaj al-adabi dalam menafsirkan teks-teks keagamaan. Pada bahasan selanjutnya oleh penulis dikemukakan bahwa oleh Abu Zaid banyak berbicara tentang interpretasi objektif, meski dalam kenyataan sangat sulit, yang ia sebut dengan ta’wil sebagai pembanding interpretasi ideologis, yang ia sebut dengan talwin. Ia sangat kritis terhadap penafsiran yang ideologis terhadap teks, mengingat dalam khazanah keislaman, model ini paling banyak ditemukan. Uraian singkat dan beberapa pengikut al-Khuli di atas menunjukkan bahwa pendekatan sastra terhadap Al-Qur’an menjadi salah satu model penafsiran yang cukup mapan.

______________

                      3.Gamal al-Banna. “Evolusi Tafsir” Dari JamanKlasik Hingga Jaman Modern, Penerbit, Qishi Press. hal 199, tahun 2004.

Dalam hal ini tentunya peran al-Khuli sangat besar di dalam menggagas pendekatan sastra untuk bisa memahami al-Qur’an yang konon bisa agak jauh dari tarikan-tarikan kepentingan individual, ideologis, karena salah satu jargonnya adalah membiarkan al-Qur’an berbicara dengan dan melalui dirinya sendiri.      

 Dalam uraian selanjutnya buku ini memaparkan tentang”Teori Makna Pertumbuhan dan Perkembangan”  adapun yang dimaksud dengan terminus yang dipakai, adalah mekanisme pelahiran makna, yaitu bagaimana aspek-aspek Al-Qur’an yang meliputi mikrostruktur, stilistika dan simantik dipahami serta dipakai oleh sarjana klasik untuk membedah makna yang dimiliki oleh teks.

 Oleh karena itu ulasannya tidak saja terfokus kepada struktur dalam kalimat, melainkan juga kemungkinan “peralihan” makna sebuah kosakata yang pada gilirannya bisa memberikan pengaruh pada perubahan makna. Menurut Gadamer hanya berperan sebagai titik berpijak seseorang dalam memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks. Di sinilah terjadi pertemuan antara subjektivitas pembaca dan objektifitas teks, di mana makna objektif teks lebih diutamakan.

Kesempatan ini dalam analisis mikrostrukturnya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, Al-Farra’ juga telah menggunakan beberapa terminus yang dalam perkembangan selanjutnya dipakai sebagai terminus technicus sastra Arab. Istilah yang dimaksud adalah majaz, tropik, yang menjadi inti dari penafsiran susastra Al-Qur’an pada era setelah Al-Farra, setidaknya dikembangkan oleh sarjana semisal Ibn Qutayba, penulis Ta’wil Musykil al-Qur’an. Yang menjadi penting dalam stilistika Al-Qur’an adalah kenyataan sejarah yang menunjukkan bahwa para sarjana muslim klasik berusaha keras untuk menunjukkan elokuensi al-Qur’an, fasaha, melalui cara pandang stilistika

Arti penting pilihan kata yang dipakai Al-Qur’an dalam mengomunikasikan makna ditemukan Al-Jahiz ketika ia membandingkannya dengan syair-syair baik Arab Jahiliyah maupun Islam. Baginya, hanya Al-Qur’an yang memiliki karakter tutur yang tidak pernah “muspro”. Salah satu contoh adalah kosakata mathar dan ghayts yang dua-duanya berdenotasi hujan. Kesalahan sastrawan Arab adalah memperlakukan dua kosakata tersebut sebagai sinonim, padahal al-mathar dalam pemakaian Al-Qur’an senantiasa berhubungan dengan siksa, seperti yang terdapat dalam 4:102 wa-la junaha alaykum in kana bikum azan min matharin aw kuntum mardha an tadha ‘u aslihatakum. Sementara penggunaan kata ghayts dalam Al-Qur’an senantiasa dihubungkan dengan rahmat Tuhan.

Stilistika juga memegang peranan penting dalam mengalihkan makna sebuah kosakata. Dalam rangka lingustik modern bisa disebut dengan model sintagmatik, yakni susunan kata dalam kalimat yang mempengaruhi peralihan makna dari kosakata. Dalam kasus Al-Qur’an salah satu contohnya adalah kata kufr, ”kufur”, tidak bertuhan. Kata ini Al-Jahiz memiliki arti dasar “menutupi”, “melindungi” atau”mengatapi”.        

Tema kata Tanya, istifham, juga menjadi salah satu poin penting dalam diskusi dan pembahasan, tidak saja pada wilayah gramatik normatif, melainkan juga dalam wilayah susastra dalam kaitannya dengan interpretasi Al-Qur’an. Abd Al-Qahir Al-Jurjani (w.471/1079), misalnya, menganggap dan memperlakukan istifham sebagai bagian dari elemen struktural yang bisa digunakan untuk menyusun dan menentukan posisi kalimat yang berbeda. Ia menempatkan istifham ini sejajar dengan pembahasan tentang susun balik, taqdim wa-ta’khir.

Demikian pula kata lainnya yang multi makna adalah kata” kufr”. Kosakata tersebut merupakan satu dari delapan puluh kata dalam Al-Qur’an yang menurut Al-Tirmizi merupakan multi makna. Kata kufr tersebut berasal dari makna kata al-ghita, “tutup” ataupun “penghalang” yang bisa dipakai dalam bahasa Arab keseharian dalam frasa “ kaffartu al-syai’a” berarti ghataytuhum, “ saya telah menutupinya”.

Dalam pembahasan akhir penyusun mengemukakan tentang Sastra dan Tafsir Al-Qur’an dalam Turats, bahwa konsep majaz sebagai pintu masuk diskursus sastra arab dalam kaitannya dengan tafsir Al-Qur’an paling tidak sampai kurun waktu Abd Al-Qahir Al-Jurjani (w. 471/1078). Konsep majaz yang dipakai dalam kajian bahasa Arab modern telah lazim diguanakan oleh para sarjana klasik sebagai lawan dari istilah haqiqah atau veritatif. Al-Jahiz adalah sarjana pertama yang memahami majaz secara substansial sebagai lawan dari haqiqah atau veritatif, meskipun jika dibandingkan dengan penerusnya seperti Al-Qadi Abd Al-Jabbar atau Abd Al-Qahir Al-Jurjani, atau Abd Al-Qahir Al-Jurjani dikatakan bahasan al-Jahiz belum sistematis. Ada tiga kelompok yang berbeda memosisikan lafal majaz, yaitu 1) Mu’tazilah secara dogmatis banyak ajarannya bersinggungan dengan majaz, kedua, Zahiriyah, kelompok yang menolak keberadaan majaz baik dalam bahasa secara keseluruhan  maupun dalam Al-Qur’an, dan sebagai konsekuensinya juga menolak ta’wil. Dan ketiga, Asy’ariyah, kelompok yang mengakui adanya majaz dalam kondisi tertentu dan di bawah persyaratan yang ketat.

 Awal perbedaan pendapat berkenaan dengan eksistensi majaz dalam Al-Qur’an adalah perbedaan analisis dan kesimpulan tentang asal mulanya bahasa. Kalangan Mu’tazilah berkeyakinan  bahwa bahasa semata-mata merupakan penemuan dan kuasa manusia. Sementara Zahiriyah memegang keyakinan bahwa bahasa merupakan pemberian Tuhan . Sedangkan kelompok Asy’ariyah menyatakan bahwa bahasa memang merupakan krearivitas umat manusia.

Penggunaan majaz banyak ditemukan pada tiga disiplin keislaman, yakni theology, ilmu sastra, dan tafsir kitab suci. Oleh karena itu akan terkonsentrasi pada “keunikan dan kekayaan” makna majaz dalam disiplin tafsir Al-Qur’an lebih khusus lagi pada asal usul dan perkembangannya. Beberapa pengaji Al-Qur’an dalam karya-karyanya menggunakan konsep tersebut khususnya terhadap ayat-ayat yang menurut mereka “tidak jelas” dan pemahaman terhadapnya meniscayakan perangkat-perangkat hermeneutis. Seperti yang didokumentasikan oleh Ignaz Goldziner adalah penafsiran Ibn Abbas terhadap 2:266: “ apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah”. Dengan demikian bahwa konsep majaz menurut analisis Abd Al-Jabbar adalah peralihan makna dari makna dasarnya atau leksikalnya ke makna lainnya yang lebih luas. Atau dengan kata lain bahwa pengertian ini tidak terlalu jauh berbeda dengan pengertian yang disimpulkan Al-Jahiz serta sarjana lainnya.

 Dalam hal ini juga penyusun mengemukakan ungkapan metaforis di antaranya isti’arah, tasybih, tamsil, dan kinayah. Mengkaji isti’arah, metafora dalam diskursus keislaman secara umum harus dimulai dengan difinisi mengenainya, karena metafora merupakan seni bertutur atau seni ungkapan yang amat umum dan berlaku bagi setiap bahasa.

Dengan demikian penjelasan Al-Jurjani dan para sarjana lainnya menunjukkan adanya sistematika dari perekembangan difinisi. Definisi dari Ibn Qutaibah dibandingkan definisi oleh al-Jurjani  lebih mudah difahami. Meskipun Ibn Qutaibah meyakini bahwa metaphor atau isti’arah merupakan bentuk terbanyak dari  seni peraturan sebagai bagian dari majaz, namun uraiannya mengenai metapfor tidak bergantung pada Al-Jurjani. Al-Askari menetapkan metaphor secara umum dan tidak membedakannya dengan bentuk-bentuk majaz lainnya seperti tasybih, tamsil ataupun metonimie. Uraian dan paparan al-Jurjani mensistimatisir wilayah metaphor bukan dalam kerangka metaphor lama dan baru dalam istilah yang dipergunakan oleh Heinrichs, akan tetapi sebagai sistematisasi dari bentuk-bentuk seni ungkapan atau seni bertutur.

Salah seorang sarjana yang dianggap lebih maju tentang penggunaan tasybih, bernama Al-Rummani, tidak saja pada level teoritis atau sekedar sebagai salah satu perangkat pengubah sayair, akan tetapi banyak berorientasi pada aspek pratikal, bagaimana Al-Qur’an bisa dilacak keindahan serta kesempurnaan sastranya melaui tasybih. Konsep tasybih menurut pandangan Al-Rummani masuk dalam diskursus retorek dalam kerangka dogma keunggulan atau kei’jazan Al-Qur’an. Dikemukakan lagi apa yang disebut dengan tasybih model kedua adalah seperti kalimat “argomen ini sangat jelas seperti matahari, hadzihi hujjatun ka-sysyamsifil-zuhur, subjek kalimat tersebut, yakni “argomen ini” merupakan sesuatu yang dibandingkan, sedangkan kata “matahari” merupakan yang dibandingi dan ”jelas”merupakan momen perbandingan, dan perangkat perbandingannya adalah huruf “ka”.

Berikutnya penyusun paparkan tentang konsep matsal dan tamsil merupakan bentuk majaz selanjutnya sebagai pembangun seni puitis secara umum. Jika dibandingkan dengan kinaya, tasybih dan isti’arah, konsep matsal memiliki kekhususan. Untuk konsep tamsil = pengertian matsal, ulama Abu Ubaidah dan Al-Jahid menganggap dan menetapkan matsal dan tamsil sebagai konsep ilustrasi puitik, seperti halnya tasybih, perbedaannya terletak pada cakupan dari dua istilah matsal dan tamsil tersebut dengan tasybih. Tasybih lebih umum ketimbang tamsil.

 

 

 

Kinayah adalah sesuatu yang “tersimpan”, (tersembunyi) tidak langsung dalam pengertian umum atau sesuatu yang tidak konkret dan tidak kentara. Contoh kinayah adalah kata yang merepresentasikan “kewanitaan” atau yang biasa dijadikan kinayah bagi karekter keperempuanan oleh para pujangga Arab.

Dengan apa yang telah dikemukakan dan dipaparkan dalam bukunya Dr.Phil. H.M. Nur Kholis Setiawan, di mana Para pemikir pada abad pertengahan hingga abad modern ikut memberikan interpretasi mengenai kode dan “saluran” teks kitab suci. Sebagai sebuah teks kitab suci, masyarakat Muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber religiositas dan etika utama dalam realitas sosial yang memuat “pengetahuan Allah SWT”, yang tidak mudah dipahami setiap pembaca. 

 

3.                   Penutup

         Sebagaimana Pemikiran progresip yang dibahas dalam buku yang disusun Dr. Nur Kholis Setiawan merupakan jadi kata sifat bagi pembangunan pemikiran yang mengharapkan dan mendambakan kondisi dan meniscayaan perlindungan serta jaminan terhadap kebebasan berpendapat. Hal tersebut guna menghindari saling adanya pembenaran sendiri dan ada kemungkinan bisa menyalahkan pihak tertentu dengan dasar ijtihadnya (masing-masing).

        Bagi suatu kelompok yang mengemukakan pemikiran-pemikiran progresip dalam kajian kitab suci Al-Qur’an, mencoba memberanikan pikiran mereka yang bertanggung jawab hingga merupakan titik terang ke depan bagi perekembangan dan peradaban Islam.

       Adalah sebuah upaya Pemikiran progresip membangun konteks kekinian memerlukan “kontinuitas epistemologis” untuk menjembatani perbedaan atmosfer kontektual anatara masa lalu dan masa kini. Karena itu, pemahaman atau interpretasi atas teks harus dilihat sebagai produk pemikiran yang relatif sebab ia lahir dari penalaran yang terbatas. Kaidah metodologi digunakan untuk mengungkap maksud dari teks. 4

              _______________

4. htt://klik2agama.blogspot.com/2008/11/meretas-pemahaman-yang-demokratis.html

       

 

 

 

Ciri khas pemikiran ini adalah kajian terhadap teks-teks keagamaan dalam perspektif pemikiran progresip memilki signifikansi tersendiri. Semangat kebebasan serta keberanian bereksprimen. Termasuk di dalamnya elemen-elemen ilmu Humaniora, dalam pengertian sederhana, menjadi salah satu elemen yang tidak bisa dielakkan keniscayaannya sebagai salah satu istimdad, alat bantu, mendekati teks keagamaan. Demikian juga munculnya terminus majaz, metaphor, misalnya, merupakan salah satu indikator bahwa human invented science, menjadi keniscayaan dalam kajian terhadap Al-Qur’an.

        Pada halaman awal buku ini  telah terjadi penghujatan terhadap kelompok bernama Hartono Ahmad Jaiz dari seorang lulusan perguruan tinggi agama Islam, yang menganggap pemikiran progresip yang mereka anggap mengarah kepada liberalisme pemikiran. Akan tetepi Hartono Jaiz ada beberapa kelemahan dan cacat, yakni dia mengedepankan emosional, tidak beritika, asal comot, jauh dari standar ilmiah dan mutu akademis, jauh dari kesan objektif. Sedangkan maksud Hartono sendiri adalah untuk memiliki materi wahyu Allah (Al-Qur’an) dan sunnah serta perangkat ilmu yang diwariskan para ulama. Tidak dimilikinya pemahaman apa yang dimiliki para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in sebagai generasi yang terbaik.

Daftar Pustaka

KH. Husin Naparin, Lc., MA. “Nalar Al-Qur’an Refleksi Nilai-Nilai Teologis & Antropologis”                 Penerbit, El-Kahfi, Ciputat, Jakarta Selatan, tahun 2004.

Gamal al-Banna “ Evolusi Tafsir” dari Jaman Klasik Hingga Jaman Modern. Penerbit Qiathi Press, Doren Sawit Jakarta Timur, Tahun 2004.

Jhon L.Esposito et.al. “Siapakah Muslim Moderat” Mengapa Islam Moderat Diperdebatkan? Demi Islam atau Demi Barat? Apa Implikasinya Bagi Perang Melawan Muslim Radikal? Penerbit, Kultura (Gaung Persada Press Group) Jakarta, tahun 2008.

Dr. Musthafa Dieb Al-Bugha. Dr. M. Sa’id Al-Khin “Al-Wafi Syarah Hadits Arba’in Imam An-Nawawi, 2002.

Muhammad Khalil Al-Khatib. “Khutbah-Lhutbah Rasulullah” Penerbit, Darul Falah Tahun 2001.

http:/klik2 agama.blogspot.com/2008/11/meretas-pemahaman-yang-

                                 demokratis.html.

 
< Sebelumnya
You are here  :Depan arrow Kajian Buku arrow MENYOROTI PEMIKIRAN YANG BERKEMBANG DALAM KAJIAN AL-QUR’AN