Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

PENGEMBANGAN WAWASAN SDM TENAGA FUNGSIONAL PENELITI Cetak E-mail
Pada tanggal 22-23 Juni 2009, Puslitbang Lektur Ke-agamaan melaksanakan Pengembangan Wawasan SDM Tenaga Fungsional Peneliti. Dalam acara tersebut, hadir sebagai narasumber adalah Dewaki Kramadibrata, M. Hum., Dr. Oman Fathurahman, dan Dr. Mafri Amir, MA. Acara pengembangan wawasan tersebut bertujuan untuk membekali peneliti Puslitbang Lektur tentang cara-cara men-tahqiq naskah atau manuskrip keagamaan, terutama naskah-naskah yang berbahasa Arab.

Pada hari pertama acara tersebut, Ibu Dewaki Kramadibrata, memaparkan pentingnya studi filologi di Indonesia. Menurut dosen yang mengajar di Fakultas Ilmu Budaya-UI ini, studi filologi di Indonesia sampai permulaan abad ke-20 masih mengikuti konsep filologi dalam pengertian studi teks dengan tujuan melacak bentuk mula teks. Studi semacam ini disebut dengan filologi tradisional. Cara kerja filologi tradisional adalah mengelompokkan naskah-naskah varian menurut bacaannya yang berbeda-beda. Dengan demikian diperoleh naskah yang teksnya menyimpang, dan kemudian yang menyimpang itu dieliminasi dan disusun suatu silsilah naskah (stemma).

Selanjutnya, pengajar yang expert di bidang pernaskahan Melayu ini, menjelaskan pentingnya menyusun langkah kerja penelitian filologi. Dengan mengutip Djamaris (1977: 23-24), ia menjelaskan beberapa langkah penelitian filologi, yaitu: pertama inventarisasi, dilakukan untuk mengetahui jumlah naskah, karena sering kali naskah banyak jumlahnya, dan ada kalanya hanya satu-satunya (codex unicus). Cara menginventarisasi adalah melihat katalog-katalog yang ada terhadap naskah yang ingin diteliti. Kedua, deskripsi, yaitu pemberian keterangan tentang naskah secara menyeluruh dengan saksama. Kerja ini meliputi deskripsi fisik, dan isi dengan tujuan: 1) menentukan keterangan dari dalam (internal evident) berupa kolofon, watermark dan bahasa yang digunakan; 2) keterangan dari luar (external evident), yaitu siapa pemilik naskah sebelumnya; 3) perbandingan, yaitu untuk menentukan teks yang paling dapat dipertanggungjawabkan dari naskah jamak yang ada. Setelah semua naskah dibandingkan, kemudian dikelompokkan dalam beberapa versi dan ditentukan hubungan antara satu kelompok dengan yang lainnya untuk memperoleh gambaran garis keturunan versi-versi dan naskah-naskah.

Adapun Dr. Oman Fathurahman secara spesifik memaparkan tentang bagaimana cara-cara menta¥q³q naskah Arab. Menurut Ketua MANASSA ini, ta¥q³q sebetulnya tidak jauh berbeda dengan filologi. Ta¥q³q  diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “kritik” yang berasal dari kata kerja ¥aqqaqa, yu¥aqqiqa, ta¥q³q. Sedangkan mu¥aqqiq juga merupakan padanan dari kata filolog. Namun dalam tradisi penelitian naskah-naskah Arab kata ta¥q³q sering kali digunakan dalam pembahasan, al-na¡¡ (teks), al-makh¯µ¯ah (naskah), dan al-tur±£ (khazanah warisan lama).  Al-na¡¡ bisa juga berarti kajian terhadap matn. Sedangkan al-makh¯µ¯ah merujuk kepada buku atau catatan-catatan yang ditulis tangan, tidak termasuk di dalamnya buku atau catatan cetak. Adapun al-tur±£ dalam filologi adalah upaya untuk mengkritisi naskah-naskah lama warisan masyarakat terdahulu, dan menyebarkannya kepada pembaca yang lebih luas.

Lebih lanjut dosen UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan bahwa prasyarat yang ditempuh dalam ta¥q³q naskah Arab adalah: pertama, mengerti dan memahami bahasa Arab, baik makna kalimat dan struktur bahasanya; kedua, memiliki wawasan karakteristik dunia pernaskahan Nusantara; ketiga, mengetahui jenis khat Arab serta sejarahnya; keempat, mengetahui literatur terkait dengannya; kelima, mengetahui prinsip-prinsip dasar metode ta¥q³q; dan keenam, memiliki pengetahuan khusus yang cukup memadai tentang topik dalam naskah yang dikajinya.

Di samping itu, penting juga diperhatikan langkah-langkah dasar dalam men-ta¥q³q naskah Arab, yaitu: 1) memverifikasi kebenaran nama pengarang naskah lewat kamus-kamus; 2) memverifikasi kebenran judul naskah, baik judul, pengarangya, naskah yang tidak ada judul, dan perubahan nama judul dari aslinya; 3) memverifikasi kebenaran nama pengarang; 4) melakukan perbandingan naskah; 5) merekonstruksi teks; dan 6) menterjemahkan teks.
Pada hari kedua pengembangan wawasan SDM ini, hadir sebagai narasumber Dr. Mafri Amir, MA., dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada sesi ini ia lebih banyak bercerita tentang liku-liku dia melacak naskah untuk penulisan desertasinya. Mantan wartawan ini dengan enak dan runtut menceritakan proses penulisan desertasinya mulai dari awal sampai akhir. Dimulai dengan menceritakan latar belakang pendidikan dan kehidupannya yang sejak SD senang membaca naskah Melayu klasik khas lokal.

Ketika S2 dan S3, kecintaannya terhadap naskah dan sejarah pun semakin mendalam. Pada saat S2 ia mulai menulis tentang Syekh Tahir Jalaluddin dan mencari datanya sampai ke negeri jiran Malaysia. Namun setelah berkonsultasi dengan Prof. Azyumardi Azra dan atas sarannya, ia pun mengawinkan tafsir dan sejarah dalam menulis desertasi pada tahun 2000. Menurutnya kita sebagai peneliti jangan pernah puas dengan satu sumber dan jangan cepat percaya. Carilah data sebanyak-banyaknya.

Setelah penelusuran data-data tersebut kemudian dibaca satu-satu naskah tersebut dengan mikroskop sambil diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Karya Jalaluddin Tahir  yang didapatkan ada di berbagai negara, yaitu di perpustakaan Malaysia dan juga di perpustakaan Leiden, lengkap dengan micro film-nya. Micro film itu sekarang malah saya memilikinya, kata pak Mafri. Itu didapatkan berkat dorongan dan dukungan dari kepala perpustakaan UIN Jakarta dan Leiden.

Akhirnya, selama menyelesaikan desertasi tersebut, Dr. Mafri Amir, orang awak ini, banyak mendapatkan bantuan finansial untuk berangkat ke luar negeri dalam rangka mencari data untuk menyelesaikan disertasi. Dan itu semua datang dari kolega dan teman, dan bukan dari Depag, ungkapnya. [ ]

 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Artikel arrow PENGEMBANGAN WAWASAN SDM TENAGA FUNGSIONAL PENELITI