Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

DDTK TENAGA TEKNIS KONSERVASI NASKAH KLASIK KEAGAMAAN Cetak E-mail
Salah satu tantangan Puslitbang Lektur Keagamaan adalah masih terbatasnya SDM yang profesional dalam fotografi naskah. Untuk itu,  kegiatan DDTK ini ditujukan untuk menyediakan SDM yang menguasai teknik alihmedia naskah keagamaan, khususnya tenaga fotografer yang akan bertugas melakukan digitalisasi naskah ke berbagai daerah.
  Kegitan yang dilaksana di Ruang Puslitbang Lektur Keagamaan, Kamis-Jumat/12-13 Maret 2009 ini diikuti oleh 24 orang, baik peneliti maupun litkayasa di lingkungan Puslitbang Lektur Keagamaan. Acara yang dibuka secara resmi oleh Kapuslitbang Lektur Keagamaan ini  menyajikan 3 materi pokok, yaitu: (1) Teknik Pengalihmediaan (Fotografi dan Digitalisasi) Naskah; (2) Teknik-Teknik Pemotretan Naskah dengan Kamera Digital, dan; (3) Praktik Pemotretan Naskah dengan Kamera Digital. Narasumber ketiga materi tersebut adalah Bahren, SS, dosen pada Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang.Dapat dikatakan bahwa teknis fotografi naskah sangat mendukung efektivitas kinerja para peneliti naskah di lapangan. Artinya, para peneliti dapat melakukan sendiri kegiatan pemotretan di saat mereka menemukan naskah, tanpa menunggu terlebih dahulu petugas pemotretan naskah.
Secara garis besar, seorang fotografer naskah mesti menguasai tiga tahap pemotretan agar hasil yang diperoleh maksimal, yaitu: pertama, tahap pra-fotografi (observasi), misalnya mencari dan selamatkan naskah), kondisi naskah, dan keadaan lampu, dan alat-alat yang diperlukan. Tahap observasi termasuk paling lama karena terkait proses izin pemotretan dari pemiliknya. Selain itu, kita harus memiliki pengetahuan dasar tentang pemeliharaan naskah agar awet dan tidak hancur.
Kedua, tahap fotografi. Dalam tahap ini ada beberapa peralatan yang harus dibawa dan dikuasai teknik penggunaannya, seperti: kamera, tripot, card, card reader, PC/laptop, dan external hard disk/portable hard disk. Sedangkan teknik-teknik alih media naskah  yang harus dikuasai. Misalnya, memfotocopy itu diharamkan sebab naskah-naskah itu bisa rusak dan menscan bisa membuat huruf-huruf naskah itu rusak. Dalam pemotretan naskah sebaiknya memakai menu otomatis dan akan mempercepat pekerjaan kita. Dalam memotret naskah sebaiknya memakai alas yang berwarna hijau untuk menyerap cahaya sehingga gambar yang dihasilkan akan bagus. Demikian juga dengan teknik-teknik pencahayaan, apabila lampu mati di tempat pemotretan naskah perlu juga membawa beberapa lampu emergency. Apabila ada naskah gulungan maka cara memotret adalah dengan memotretnya beberapa bagian dan bisa juga disambung, dan penguasaan teknis lainnya.
Ketiga, tahap pascafotografi. Pada tahap ini, kita melakukan penyalinan dari card ke laptop. Dari sini kita dapat melakukan penomoran halaman, termasuk memutuskan untuk ikut standar ISO, yaitu judul project, tempat naskah, dan nomor naskah secara berurutan (ini adalah hak penuh dari peneliti). Contoh: EAP…DMMC…MI….001.
Biasanya, untuk memudahkan penomoran halaman harus dipisahkan antara yang genap dan ganjil. Biasanya naskah yang sudah jadi kita simpan diphotoshop dan di copy, disimpan lagi di gift (untuk memperkecil lagi ukurannya). Ketika kita alihkan ke gift itulah ukuran real (sebenarnya).
Untuk memotret, naskah-naskah yang hancur bisa dipotret 5 halaman awal, tengah dan akhir saja. Apabila naskah-naskah dalam keadaan tidak bersih, maka alat-alat yang harus dibawa adalah sarung tangan, masker dan kuas (menguas naskah harus satu arah).
Terkait mental (sikap) terhadap naskah, biarkan naskah itu di tempatnya, jangan dibawa, bawa file box untuk menyimpan naskah. Biasanya, dalam pemotretan naskah, kita diminta oleh si pemilik naskah untuk melakukan ritual-ritual tertentu. Tahap identifikasi naskah pun kemungkinan bisa sangat lama.
Apabila semuanya sudah selesai, maka kita harus menyerahkan satu copy naskah digitalisasi kepada si pemilik naskah. Tujuannya, untuk menghargai si pemilik naskah, sekaligus menghindari double dalam pendigitalisasian naskah.
Itulah inti dari keseluruhan materi yang diterima peserta DDTK. Namun demikian, proses pembelajaran ini berlangsung sangat dinamis, dialogis, dan mengutamakan praktikum sehingga seluruh peserta sangat bersemangat dan berpartisipasi aktif.
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
You are here  :Depan arrow Artikel arrow DDTK TENAGA TEKNIS KONSERVASI NASKAH KLASIK KEAGAMAAN