Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

JA slide show
Selamat Datang Di Website Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan

Call for Paper

 

Heritage of Nusantara,

International Journal of Religious Literature and Heritage invites contributions for Volume 3 Number 1, July 2014, and Number 2, December 2014

Call for papers

Heritage of Nusantara is an academic International Journal handled by Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage Office for Research and Development and Training Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia. This journal publishes articles written in the fields of religious literature either contemporarily or classically and heritage located in Southeast Asia especially in the scope of Archipelago as Nusantara.

The submission guidelines are:

An article should be sent in the form of a Word Document as an email attachment to Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya .

The submission deadline for the July 2014 issues is March 31, 2014, and for Desember 2014 issues is August 31, 2014. Submissions we receive after this date will be considered for the later issues of the journal. All works will be peer-reviewed.

Please ensure that the first sheet of each article submitted carries the title of the article, the name, and the address of the author. Submissions should also include an abstract of around 250 words and a brief biography of around 100 words. The length of an article should be around 16-20 pages with single line spacing.

References should follow the modern scientific convention. Notes should be numbered in sequence and be included at the footnote. Bibliographic references in the text should list the author’s last name, date of publication, and number of page if specific material is quoted. Extended references should be listed alphabetically at the end of the paper, e.g:

Arberry, A. J., 1950, Sufism: An Account of the Mystics of Islam, London: Georfe Allen & Unwin LTD.

Kingsbury, D., 2007, ‘The Free Aceh Movement: Islam and Democratization, in Journal of Contemporary Asia, Vol. 37, No. 1. pp. 166-189.

Figures and maps should be sent as high resolution EPS, TIFF, or JPEG files. Files should be clearly labelled. Please supply images at the size intended for final publication as re-sizing of images takes time and can result in loss quality. A list of captions to figures and tables should be provided in a separate file.

It is important that the authors should submit accurate, well-prepared copy ready for publication. The editors will consider articles written in English and Arabic only.

Here possible we will email proofs to authors for checking. In all cases the editors will proof-read copy and make every effort to ensure that no errors go forward.

The submission of an article will be taken to imply that it has not been published, or submitted for publication, elsewhere. In some cases consideration will be given to papers already published, but detail of other publication and of the copyright should be given at the time of submission.

Choirul Fuad Yusuf

Chairperson

Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Office for Research and Development and Training

Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Jl. M. H. Thamrin No. 6 Lt. 18

Jakarta

Indonesia

Office phone: (+62 21) 3920713

Email: Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

Website: http://www.lektur.kemenag.go.id

Fokus Program 2013

         Berdasarkan organisasi dan tata kerja Kementerian Agama, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan memiliki tugas melakukan penelitian terkait dengan lektur dan khazanah keagamaan. Terkait tugas tersebut, Puslitbang Lektur dan Khazanah menyelenggarakan berbagai fungsi di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan serta Pendidikan dan Pelatihan, yaitu: 1) penyusunan kebijakan teknis, rencana dan program penelitian dan pengembangan di bidang lektur dan khazanah keagamaan, serta pelayanan administrasi, penyusunan evaluasi, pelaporan dan publikasi hasil penelitian dan pengembangan; 2) pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang lektur dan khazanah keagamaan, serta pelayanan administrasi, penyusunan evaluasi, pelaporan dan publikasi hasil penelitian dan pengembangan; dan 3) pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang lektur dan khazanah keagamaan, serta pelayanan administrasi dan publikasi hasil penelitian dan pengembangan.

       Memasuki tahun 2014 atau tahun kelima pelaksanaan Renstra Badan Litbang dan Diklat 2010-2014, dan sesuai dengan pola penyusunan LAKIP terbaru, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan telah menetapkan 6 sasaran strategis yang akan diwujudkan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, yaitu: (1) Tersedianya laporan hasil penelitian bidang lektur keagamaan; (2) Tersedianya laporan pengembangan hasil-hasil penelitian bidang lektur keagamaan; (3) Tersedianya publikasi hasil-hasil penelitian bidang lektur keagamaan; (4) Terwujudnya jaringan kemitraan penelitian lektur keagamaan; (5) Tersedianya beasiswa dan bantuan belajar bagi peneliti di lingkungan Puslitbang Lektur Keagamaan; (6) Tersedianya dukungan administrasi bagi kegiatan penelitian dan pengembangan bidang lektur keagamaan.  

      Terkait sasaran strategis pertama, mencakup 6 hal sebagai berikut: 1. Persentase publikasi hasil penelitian di jurnal internasional, terbit 2 volume setiap tahun (100%) dengan 14 artikel. 2. Persentase publikasi hasil penelitian di jurnal nasional yang terakreditasi, terbit 2 volume (100%) 20 artikel. 3. Persentase Hasil penelitian yang tersosialisasikan ke masyarakat. Target tahun 2013 ini 100% hasil penelitian yang disosialisasikan ke masyarakat. 4. Persentase hasil penelitian yang digunakan oleh pemerintah. Target tahun ini adalah 70%,  terealisasi hanya 42,8%. 5. Tingkat kepuasan stakeholder terhadap hasil penelitian. Target sebesar 70-80%, namun dikarenakan beberapa hal, maka hanya tercapai 28,6%. 6. Jumlah kegiatan penelitian. Target 7 penelitian lektur dan khazanah keagamaan, terealisasi 100%.
       Untuk sasaran strategis kedua, capaian kinerja yang telah dihasilkan tersedianya 22 dokumen kegiatan pengembangan (100%). 
Tentang sasaran strategis ketiga, capaian kinerja yang telah dihasilkan dapat dilihat dari ketersediaan berbagai beberapa hal, yaitu:
  1. Jumlah hasil penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal. Terdapat 34 artikel yang telah dipublikasikan dalam Jurnal Lektur Keagamaan dan Heritage masing-masing dua edisi (100%).
  2. Jumlah hasil penelitian yang dipublikasikan melalui website. Terdapat 7 laporan penelitian yang dipublikasikan lewat website Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan (100%).
  3. Jumlah hasil penelitian yang dipublikasikan melalui bulletin. Terdapat 3 edisi bulletin yang telah diterbitkan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan di tahun 2013 (100%).
  4. Jumlah judul buku yang diterbitkan.  Tahun ini Puslitbang Lektur dan KHazanah Keagamaan telah menerbitkan 18 judul buku yang terdiri dari buku seri disertasi, kajian lektur dan kajian khazanah (100%).
      Terkait sasaran strategis keempat, capaian kinerja yang telah dihasilkan adalah 10 paket kerjasama (100%).  Untuk sasaran srategis kelima, indikator keberhasilan yang ingin diraih adalah jumlah paket beasiswa dan bantuan belajar. Pada tahun ini Puslitbang tidak merealisasikan sasaran ini karena kebijakan penghapusan beasiswa dan bantuan belajar (0%). Mengenai sasaran strategis keenam, indikator utama yang ingin dicapai adalah jumlah 6 dokumen administrasi terkait dengan administrasi lektur dan khazanah keagamaan, sehingga target tercapai 100%
 

Penilaian Buku

 
PROBLEMATIKA PADA BUKU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH UMUM
(SD, SMP, dan SMA)

         Berdasarkan (KMA) Nomor 437 Tahun 2001 tentang Pentashihan Buku-Buku yang Memuat Tulisan Ayat-Ayat Al-Qur’an yang diterbitkan dan diadakan di Lingkungan Departemen Agama, Puslitbang Lektur Keagamaan memiliki tugas pentadqiqan yang telah dijabarkan dalam Keputusan Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Nomor BD/01/2004 tentang Pedoman Penulisan, Penerbitan dan Pentashihan Buku-buku Keagamaan. Mulai tahun 2006, Puslitbang Lektur Keagamaan (Tim Tashih Pusat) telah menerima 83 buku ajar agama untuk ditashih. Tahun 2008, Puslitbang Lektur Keagamaan juga melakukan survei atas buku Pendidikan Agama Islam (PAI) yang digunakan di Madrasah Ibtidaiyah di wilayah Jakarta, Bekasi, Tangerang, dan Depok. Tahun 2012 Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan kembali mentadqiq buku bidang studi agama pada Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah, dan Pendidikan Agama untuk Sekolah Umum.

      Hasil tashih atau tadqiq yang dilakukan dalam tiga tahun tersebut secara garis besar menemukan tiga hal: 1) Menggunakan acuan di luar Keputusan Bersama Menteri Agama RI No. 158 tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0543/b/1987 untuk penulisan Transliterasi Arab-Latin; 2) Menggunakan acuan selain KMA Nomor 437 Tahun 2001; 3) Belum mengimplementasikan Keputusan Kepala Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan No. BD/01/2004; 4) Adanya buku agama yang dibeli belum memperoleh tashih dari unit yang berwenang/Departemen Agama. Secara spesifik, berbagai kesalahan yang ditemukan meliputi: 1) ketidaktepatan pengutipan teks ayat Al-Qur’an; 2) ketidaktepatan pengutipan teks hadis; 3) ketidaktepatan pengutipan terjemah ayat Al-Qur’an; 4) ketidaktepatan penerjemahan hadis; 5) inkonsistensi dalam penggunaan transliterasi Arab-Latin; 6) ketidaktepatan penulisan Bahasa Indonesia; 7) ketidaksesuaian antara pengutipan ayat Al-Qur’an atau hadis dengan topik bahasan; 8) ketidaksesuaian antara materi dengan gambar (ilustrasi), dan; 9) dan ketidaksesuaian antara materi dengan soal latihan.
      Dapat dikatakan bahwa kesalahan dalam penyusunan buku ajar agama itu bersifat konstan. Untuk itu, rekomendasi penting dari penelitian di atas yang perlu direspons oleh para pengembil kebijakan di lingkungan Kementerian Agama antara lain: 1) buku-buku pelajaran agama untuk sekolah harus dikoreksi oleh suatu lembaga yang memiliki otoritas khusus; 2) KMA 437 Tahun 2001 perlu disempurnakan, terutama pasal-pasal yang mengatur pentashihan buku pelajaran agama, yang tidak terbatas pada buku yang diterbitkan dan diadakan oleh Kementerian Agama saja, tetapi juga yang akan digunakan di sekolah umum, dan; 3) perlu diatur lebih lanjut tentang penyediaan tenaga ahli sebagai tim tashih, yang tidak berakibat pada penambahan beban kerja bagi Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan.
      Di tingkat kelembagaan, persoalan baru pun muncul karena tugas dan fungsi Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan justru ”diambil-alih” oleh Ditjen Pendidikan Islam, antara lain dengan terbentuknya Tim/Panitia Penilaian Buku Keagamaan Ditjen Pendidikan Islam yang akan diterbitkan/diadakan untuk madrasah. Memang pada awalnya tim tersebut masih melibatkan Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan secara perorangan. Namun belakangan tim tashih tersebut sudah tidak terlibat sama sekali. 
Atas dasar itu dan bertepatan dengan lahirnya kurikulum baru (Kurikulum 2013), menjadi momentum paling tepat bagi Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan untuk merefitalisasi tusinya, sebagaimana telah diamanahkan KMA 437 Tahun 2001. Bukan hanya itu, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan ingin ”menawarkan” berbagai kemungkinan terbaik, apakah ”kewenangan” tashih/tadqiq buku keagamaan tersebut perlu direposisi? Ataukan sebaiknya diserahkan kepada kebijakan masing-masing Ditjen di lingkungan Kemenang? Atau justru muncul keinginan untuk menyerahkan kewenangan kepada Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan sebagai pusat tashih/tadqiq buku keagamaan di lingkungan Kemenag, dengan berbagai konsekuensi beban tugas yang menyertainya? Mungkin juga Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan malah lebih tepat untuk hanya ”mengurus” (meneliti) lektur keagamaan yang jumlahnya sudah ”menggunung” dan terserak di masyarakat.  
      Untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut, tim Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kemenag menggagas kegiatan audiensi dengan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemendikbud, Kamis/21 Februari 2013 di di Kantor Puskurbuk. Audiensi tersebut bertujuan untuk memperjelas posisi kedua kementerian terkait penyediaan buku agama yang digunakan sebagai bahan ajar di sekolah. Hasil pertemuan tersebut berisi antara lain: 1) dalam penyusunan buku ajar semua agama, Puskurbuk telah berkoordinasi dan melakukan kerja sama dengan masing-masing tim ahli di lingkungan Ditjen Kementerian Agama; 2) khusus penyusunan buku ajar agama Islam, tim ahli Puskurbuk sudah bekerja sama dengan tim penilai buku ajar yang dibentuk oleh Ditjen Pendidikan Agama Islam; 3) terkait hasil penilitian (tadqiq) Puslitbang Lektur dan Khazanah tentang buku PAI yang digunakan di lingkungan Kemendikbud, Puskurbuk mengakuai masih terdapat kelemahan dalam proses penyusunan buku. Akan tetapi, untuk penyusunan buku pelajaran agama dan akhlak mulia (Kurikulum 2013), Puskurbuk mengaku telah melakukan koordinasi dan kerjasama yang intensif dengan tim penilai buku dari Kemenag (Ditjen Pendis); 4) Puskurbuk juga menerima kemungkinan kerja sama dengan Puslitbang Lektur dan Khazanah, khususnya dalam rangka validasi dan penilaian terhadap penyusunan buku ajar agama Islam; 5) secara internal kelembagaan, Kementerian Agama perlu melakukan review terhadap KMA Nomor 437 Tahun 2001, baik dalam rangka penyempurnaan bahkan pengembangan lebih jauh menjadi SKB Kemenag dan Kemendikbud.
      Selanjutnya, Puslitbang Lektur dan hazanah Keagamaan menyelenggarakan kegiatan Penyusunan Pedoman Penilaian Buku Keagamaan, tanggal 1 April 2013 di Lumire Hotel and Convention Centre, Jakarta. Beberapa point penting telah disepakati dalam forum tersebut, antara lain: (1) Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI No. 158 Tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0543/b/1987 tentang Pembakuan Pedoman Transliterasi Arab-Latin adalah produk bersama yang harus dihormati; (2) Buku-buku ajar agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu) Kurikulum 2013 yang diberlakukan tahun ini, telah disusun dengan berkoordinasi dan melibatkan tim ahli di lingkungan Kemenag; (3) Dalam rangka penyempurnaan Keputusan Menteri Agama Nomor 437 Tahun 2001, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan akan melakukan kajian terhadap buku ajar agama Kemendikbud Kurikulum 2013, terutama dalam kaitannya dengan SKB dimaksud.
      Oleh karena kewenangan peniulaian buku keagamaan non-Muslim diemban secara penuh oleh majelis agama masing-masing, maka mereka tidak memiliki pedoman penilaian buku keagamaan. Dalam upaya mencermati buku keagamaan kurikulum 2013 Kemendikbus, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan telah melakukan pembahasan Pedoman Penilaian Buku Keagamaan Islam, tanggal 10-12 September 2013 di Hotel Garden Permata-Bandung. Berdasarkan berbagai masukan dan hasil pertemuan sebelumnya, telah ditunjuk pula tim tadqiq buku keagamaan t.a. 2013. Tim tersebut bertugas mentadqiq 51 judul buku bahan ajar Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk SD (kelas 2, 3, 5, dan 6), SMP (kelas 8 dan 9), dan SMA (kelas 10, 11, dan 12) yang diterbitkan Puskurbuk. Buku PAI kelas 1, 4, dan 7 tidak ditadqiq atas rekomendasi Puskurbuk. Sebab, buku tersebut sudah diganti dengan buku kurikulum 2013, namun hingga penelitian ini dilakukan masih belum dapat diperoleh secara resmi melalui Buku Sekoleh Elektronik Kemendikbud. 
      Pada tahun 2013, Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan kembali mentadqiq buku bahan ajar PAI untuk SD, SMP, dan SMA yang dapat diunduh (download), digandakan, dicetak, dan dialihmediakan oleh masyarakat melalui (website) Kemendikbud, sebagaimana dinyatakan dalam pengantar buku ”Bebas digandakan sejak November 2010 s.d November 2025”.  Adapaun kesalahan-kesalahan yang ditemukan antara lain:
  1. Problem teknologi komputer, khususnya terjadinya “kecerobohan” dalam proses merubah file menjadi PDF agar dapat di-upload ke dalam website. Akibatnya, ditemukan beberapa buku yang telah menggunakan sistem transliterasi tetapi rusak dan tidak terbaca sama sekali, yang secara estetik sangat mengganggu, secara teknis menghancurkan bacaan, dan secara substansi merusak pemahaman.
  2. Masih sering ditemukan kesalahan teknis dalam pengetikan. Secara sederhana, hal ini diduga karena belum dilakukan proses editing buku secara memadai. Kesalahan yang bersifat elementer ini tidak dapat ditolerir.
  3. Masih terdapat penggunaan tatabahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan EYD, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan ketentauan penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Termasuk penggunaan kata-kata yang sudah diserap ke dalam KBBI dengan tanda diakritik, misalnya salat, tawaf, alhamdulillah, assalamu’alaikum, Safa, dan Marwah.
  4. Terdapat inkonsistensi dalam penggunaan sistem transliterasi, meskipun sistem transliterasi tersebut mesti disesuaikan dengan jenjang pendidikan tertentu. Sebab, kesulitan membaca aksara Arab untuk siswa Sekolah Dasar tidak banyak ditolong oleh penerapan sistem transliterasi.
  5. Pengutipan ayat Al-Qur’an atau hadits secara “berlebihan” tanpa mempertimbangkan jenjang pendidikan dan usia peserta didik. Sebab, pengutipan dalil secara lengkap (misalnya sanad, matan, dan rawi hadis) hanya dibutuhkan untuk pertanggungjawaban akademik penulis, yang cukup mencantumkan sumber bacaannya di belakang buku.
  6. Masalah terjemahan umumnya juga terjadi pada kutipan selain ayat al-Quran, seperti hadits atau kutipan lainnya. Sebagian terjemahan belum mengacu pada Al-Qur’an dan Terjemah-nya Kementerian Agama yang telah disempurnakan tahun 2002 dan diterbitkan tahun 2004 atau sesudahnya.
  7. Kesalahan penulisan teks Arab umumnya terjadi pada pengutipan hadits atau bacaan lain yang tidak bersumber dari al-Quran. Selain itu, pengutipan selain ayat Al-Qur`an ditulis dengan jenis dan font huruf yang tidak seragam, sulit dibaca, dan format yang kurang rapi (ajeg).
  8. Adanya inkonsistensi pemaknaan suatu definisi atau istilah. Perbedaan ini tentunya dapat mengganggu pemahaman anak didik karena tidak menggunakan istilah secara konsisten.
  9. Masalah sistematika penulisan tema yang dibahas dalam buku juga nampak “melompat-lompat” atau tidak berkesinambungan. Tentang ini, kesalahan nampaknya tidak pada penulis buku, tetapi pada struktur kurikulum yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud.
  10. Terdapat bahan evaluasi yang bahasannya tidak disebut dalam pelajaran. Ada pertanyaan evaluasi yang seperti dibuat-buat karena tidak terdapat dalam bahasan.
  11. Terdapat materi bacaan untuk siswa kelas jenjang SD yang bersifat perbandingan. Padahal, meteri yang bersifat perbandingan itu lebih cocok untuk siswa SMP atau jenjang yang lebih tinggi.
  12. Terdapat buku yang “terkesan” belum selesai disusun. Indikatornya sangat sedernaha yaitu tanpa penutup, tanpa indeks, dan tanpa pencantuman bahan bacaan (referensi).
Berdasarkan seminar Hasil Tadqiq Buku Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum (SD, SMP, dan SMA) yang diadakan pada tahun 2013, beberapa rekomendasi penting yang diajukan antara lain:
  1. Mengusulkan kepada Puskurbuk Balitbang Kemendikbud untuk melakukan perbaikan terhadap buku PAI untuk SD, SMP, dan SMA yang sudah “terlanjur” di-online-kan melalui website Buku Sekolah Elektronik (BSE). Sebab, dalam pengantar buku tertulis ”Bebas digandakan sejak November 2010 s.d November 2025”. 
  2.  Menghimbau Kemendikbud agar menarik buku PAI untuk SD, SMP, dan SMA dalam bentuk online melalui website. Jika buku tersebut belum datarik dikhawatirkan bergai kesalahan di dalamnya tetap menjadi rujukan yang “menyesatkan”.
  3. Menghimbau seluruh seluruh lembaga pendidikan, baik di lingkungan Kemenag, Kemendikbud, maupun kementerian lain yang menyelenggarakan pendidikan untuk mematuhi Surat Keputusan Bersama Menteri Agama RI No. 158 Tahun 1987 dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0543/b/1987 tentang Pembakuan Pedoman Transliterasi Arab-Latin.
  4. Perlu dirumuskan mekanisme maupun kerjasama yang intensif antara Puslitbang Lektur dan Khazanah, terutama dengan Ditjen Pendis Kemenag dan Kemendikbud dalam proses penyusunan, penilaian, serta pengadaan buku ajar agama untuk sekolah maupun madrasah.
  5. Menghimbau Kemendikbud untuk mencermati kembali buku-buku keagamaan kurikulum 2013, baik yang sudah selesai maupun dalam proses penyusunan agar terhindar dari kesalahan-kesalahan serupa, terutama terkait konsistensi penerapan SKB di atas.
   
Hasil penelitian atau tadqiq buku keagamaan yang sudah dilakukan semenjak 2006, 2008, 2012, dan 2013 ini perlu ditindaklanjuti dalam rangka penyempurnaan KMA Nomor 437 Tahun 2001, baik untuk tujuan penyempurnaan maupun perumusan kebijakan yang lebih luas dalam bentuk SKB baru. 
 

Survey Buku

SURVEY BUKU-BUKU KEAGAMAAN BERNUANSA KONFLIK DI INDONESIA
 
        Perkembangan pemikiran keagamaan Islam di Indonesia menunjukkan geliatnya seiring dengan semakin maraknya penerbitan buku buku keagamaan sejak era tahun 90-an atau menjelang berakhirnya rezim orde baru. Sebagian buku keagamaan tersebut merupakan artikulasi gagasan dari pergulatan para intelektual muslim Indonesia, dan sebagian lainnya merupakan transformasi gagasan pemikiran Islam dari Luar khususnya dari Timur Tengah. Beberapa intelektual muslim yang cukup produktif menghasilkan karya pada masa itu diantaranya Nurcholish Majid (Cak Nur), Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jalaludin Rahmat (Kang Jalal), M Natsir, Syafi’i Ma’arif, Amien Rais, Haidar Baqir, HM Rasyidi, Dawam Raharjo, Fachry Ali, Bachtiar Effendi, dan lainnya. Sedangkan buku buku yang merupakan transformasi dari gerakan dan pemikiran luar negeri antara lain buku buku yang membahas pemikiran tokoh tokoh Ikhwanul Muslimin semacam Hasan Al Banna, Sayyid Qutb , Hawa, serta tokoh tokoh Hizbut Tahrir seperti Abdurrahman Al-Bagdadi, Taqiyuddin an-Nabhani dan lainnya. Ada juga sebagian buku-buku keagamaan dari luar negeri yang menampilkan watak inklusif seperti buku buku karya Fazlurrahman, Mohamamad Iqbal dan lainnya
       Kedua model buku keagamaan tersebut sangat mempengaruhi dinamika, corak dari pemikiran dan aksi gerakan keagamaan di Indonesia. Buku buku karya intelektual muslim Indonesia biasanya menampilkan wajah islam yang relative inklusif, toleran dan membumi karena digali dari khasanah ke Indonesia, yaitu sebuah upaya mengintegrasikan antara ajaran ajaran Islam dengan nilai nilai, tradisi dan budaya yang berkembang di Indonesia, atau menurut Istilah Gus Dur dengan Pribumisasi. Sebaliknya buku buku keagamaan hasil transformasi pemikiran dan gerakan dari luar negeri, sebagian lebih menampilkan watak puritanis dan revivalis. Mereka mencoba mengadopsi pemikiran dan pola gerakan keagamaan di Timur Tengah untuk diterapkan di Indonesia, meskipun secara realitas tidak cocok dengan dinamika social politik dan keagamaan yang ada. Akibatnya seringkali muncul gesekan dan persinggungan yang tidak jarang bahkan mengarah kepada kekerasan diantara kelompok kelompok Islam yang ada.
       Gesekan dan persinggungan pengaruh dari penyebaran buku buku keagamaan dari luar menjadi semakin mengeras seiring dengan jatuhnya rezim orde baru tahun 1998. Arus reformasi yang ditandai dengan kebebasan berpendapat dan semangat demokratisasi telah memberikan ruang bagi kelompok kelompok keagamaan intoleran untuk mengembangkan aksi gerakannya. Atas nama demokratisasi mereka melakukan tindakan anarkhis dan intoleransi terkait dengan kebebasan beribadah dan berkeyakinan, tidak hanya antara kelompok muslim dan non muslim, tapi juga diantara kelompok sesama muslim. Mereka menyebarkan ide dan gagasannya melalui penerbitan buku buku keagamaan dan bernuansa kepada konflik yang menjurus kepada tindak kekerasan. Aksi aksi radikalisme dan terorisme oleh sebagian kelompok mengatasnamakan Islam dilakukan kepada kelompok diluar islam, sesama umat Islam dan pemerintah.
Menyikapi hal tersebut, diperlukan upaya serius dan sungguh-sungguh dari berbagai pihak dalam mencegah penyebaran ide dan gagasan yang menjurus kepada radikalisme dan terorisme. Salah satu diantaranya dengan memetakan penyebaran buku buku keagamaan yang bernuansa konflik di masyarakat. Dengan mengetahui peta penyebaran buku keagamaan ini, akan mudah diidentifikasi buku keagamaan bernuansan konfli, kelompok kelompok yang potensial melakukan tindakan konflik serta upaya pencegahannya.
       Berdasarkan wawancara mendalam (indepth interview), pengisian kuesioner (survey), review buku dan observasi kepada penyebaran buku keagmaaan bernuansa konflik dan faktor yang mempengaruhi kemunculan buku-buku tersebut, serta pesepsi masyarakat, maka ditemukan beberapa hasil penelitian, yang dapat disimpulkan sebagai berikut:
  1. Trend mutakhir buku buku keagamaan di masyarakat, secara kuantitatif lebih didominasi oleh buku buku islam praktis, sementara untuk buku buku islam yang serius (buku keagamaan Islam Murni dan Islam Kritis), yang menawarkan wacana dan pemikiran alternative, secara kuantitas menurun dan secara kualitas terjadi stagnasi karena isu yang muncul merupakan reproduksi yang diulang ulang dari isu lama
  2. Fenomena terbitnya buku buku Islam praktis disatu sisi memperlihatkan ekspresi keagamaan sebagian kalangan muslim perkotaan yang mengalami krisis spiritual, dengan semangat kembali kepada ajaran agama. Agama dijadikan sebagai panduan praktis untuk kebutuhan hidupnya. Disisi lain, kecenderungan trend pasar buku islam praktis sangat potensial dari segi bisnis dan ekonomis, sehingga membuat penerbit buku untuk beralih melihat ceruk pasar yang – untuk sementara- sangat besar.
  3. Untuk buku buku keagamaan berpotensi konflik, yang paling banyak adalah wacana pertarungan ideology diantara kelompok kelompok Islam seperti Salafy wahabi, ahlussunnah, Syiah, HTI, Ikhwanul Muslimin, dengan isu utama seputar masalah-masalah aqidah syariah dengan labeling bid’ah, syirik, sesat, kafir, musrik. Sedangkan untuk buku buku yang potensial konflik dengan kelompok agama lain, banyak didominasi oleh isu isu kristenisasi, zionisme yahudi, semangat anti barat dan menyerukan perlawanan terhadap barat karena kebijakan kebijakan luar negerinya yang dianggap merugikan Islam seperti yang terjadi di Timur Tengah dan beberapa negara di Barat. Buku buku potensial konflik antara agama, biasanya juga bersinggungan dengan konflik terhadap negara karena kesamaan isu anti amerika, anti Yahudi zionisme, anti sekulerisme, perlawanan tehradap kapitalisme global, karena obyek yang jadi sasaran adalah kepentingan pada level negara.
  4. Munculnya konflik akibat beredarnya buku buku keagamaan lebih disebabkan karena tidak adanya regulasi dan mekansime kelembaggaan yang adil dalam penyelesaian sengketa terhadap buku buku yang dianggap merugikan berbagai kelompok agama yang ada.  disisi lain adanya kecurigaan dan kebencian yang muncul terhadap kelompok lain sehingga menafikan terjadinya dialog yang lebih mencerahkan dan mencerdaskan.
Dari temuan di atas dapat direkomendasikan beberapa hal berkaitan dengan kebijakan, yaitu
  1. Perlu ada regulasi/ kebijakan khusus yang melibatkan antar kementerian yang ada (kemendikbud, kemenag, kemendagri, kemenkopolhukam, Kemenkominfo) dalam penyelesaian sengketa terhadap pihak pihak yang merasa dirugikan oleh beredarnya sebuah buku.
  2. Perlunya peningkatan peran dari Kementerian Agama  untuk terlibat dalam pengawasan ketat dan pencegahan terhadap beredarnya buku buku keagamaan bernuansa konflik sehingga tidak secara leluasa beredar di masyarakat.
  3. Perlunya ada counter wacana/buku tandingan atas buku buku lain yang mempromosikan nilai nilai intoleransi, semangat kebencian, dan pemikiran radikalis yang mengarah kepada aksi aksi terorisme.
  4. Perlu didorong terus menerus semangat dialogis dan diskusi ilmiah, rasional dan egaliter diantara pihak pihak yang pro kontra terhadap sebuah gagasan, pemikiran, ide yang dianggap berpotensi menyebarkan konflik vertikal maupun horisontal

Digitalisasi

        Sejak tahun 2008 lektur telah mem­programkan digitalisasi khazanah keagamaan. Ini merupakan wujud keprihatinan masih banyaknya naskah keagamaan yang terserak di masyarakat. Sementara instansi terkait pengelolaan naskah belum berjalan maksi­mal, sebab banyak kasus bahwa masyarakat lebih memilih menjual naskahnya ke luar negeri. Naskah keagamaan yang terdaftar dalam perpustakaan nasional juga masih sangat sedikit.

      Belakangan, lembaga ini baru saja fokus pada pendalaman filologi dalam upaya mene­liti lektur keagamaan klasik berupa naskah. Puslitbang Lektur Keagamaan makin tertan­tang dengan munculnya wacana per­lunya kajian khusus kelekturan terkait arkeo­logi religi, seperti situs bangunan masjid, nisan kuburan, istana, mata uang, tembikar dan lainnya. Masih banyak yang harus dilaku­kan lembaga ini terkait situs-situs keagamaan agar dapat dipetakan, dibaca, dan dimaknai dalam rangka menggali budaya bangsa yang terlu­pakan atau sengaja disembunyikan. 
       Perlu dicatat bahwa hingga tahun ini, Puslitbang Lektur Keagamaan telah berhasil memfoto 80 naskah, juga mengidentifikasi atau mengeksplorasi 800 naskah di masya­rakat. Namun demikian, “pekerjaan rumah” yang berat dan sudah menunggu di depan adalah melacak nama-nama kesultanan di nusantara sehingga perlu dikaji lebih lanjut, yang menurut Badri Yatim, terdapat sekitar 114 Kesultanan Islam yang pernah berkuasa di wilayah nusantara. Sementara itu, masih banyak naskah ulama nusantara (semenjak abad XVI hingga abad XX) yang perlu diter­bitkan, dari Nuruddin Arraniri hingga Yasin Al-Padani. Demikian pula karya ulama pesan­tren yang diduga masih produktif tetapi belum tersosialisasikan. Selain itu, masih banyak nas­kah keagamaan populer yang memerlukan tahqiq seperti Al-Barzanji, Safinah an-Najah, dan karya ulama monumental lainnya. Bukan hanya itu, lektur kontemporer bahkan belum didata, dipetakan, dan dikaji secara seruis, terutama terkait buku dan majalah keagamaan aktual, lektur keagamaan di media (sinetron, film, televisi), lektur keagamaan di internet (website), dan seterusnya
 

Galeri Buku

                         
Kajian Naskah-
Naskah Klasik dan
Penerapannya
Bagi Kajian Sejarah
Islam di Indonesia

 
Anotasi Buku-Buku
Keagamaan
Kontemporer
 
Kemampuan Baca
Tulis Al Qur'an
Siswa SMA 

Mitra Kerja

 

 

 

You are here  :Depan